
Jihan dan Barra sudah berada di dalam mobil dengan canda tawa dan obrolan yang random, sesekali saling menggoda atau menggombal.
Seperti biasa, Barra akan mengantar Jihan sampai depan gerbang, saat Jihan hendak keluar Barra langsung menghentikan Jihan.
Jihan menaikkan sebelah alis menatap Barra. "Kenapa?" tanya Jihan berbalik dan tak jadi keluar dari mobil.
"Kasih gue nutrisi dulu sebelum gue menghadapi ujian yang begitu panjang" jawab Barra dramatis tapi membuat Jihan tergelak.
"Apa yang lucu sih? kan gue cuma minta nutrisi dari bini gue sendiri bukan dari bini orang lain" balas Barra mendapat toyoran pelan dari Jihan.
"Berani lo minta nutrisi ma bini orang lain awas aja lo!" ancam Jihan dengan sorot tajam dan telunjuk nya tanpa segan segan berada di depan wajah Barra. Barra bergidik ngeri takut.
"Engga kok yank, becanda doang aku yank, mana mau aku minta nutrisi ma istri orang, kan punya ku jauh lebih manis kek permen" balas Barra mengedipkan sebelah mata nya genit.
Jihan tersenyum sekilas. "Nutrisi kayak gimana?" tanya Jihan membuat senyum licik di bibir Barra tercetak samar samar.
"Langsung aja ya yank, biar gak telat" jawab Barra menatap Jihan dengan tatapan sulit diartikan. Jihan mengangguk enteng.
Barra menangkup kedua pipi Jihan agar Jihan menatap nya, kedua nya bertatapan begitu lama tanpa ada pengganggu atau penghalang.
Setelah itu Barra mendekatkan wajah nya dengan sedikit memiringkan kepala nya ke samping. Dan..,
Cup
Satu cium*n mendarat di bibir satu sama lain dengan begitu lembut dan menuntun. Keempat mata yang awal saling tatap kini menutup mata secara bersamaan setelah bibir kedua nya bertemu.
Dengan ******n ******n kecil Barra memainkan bibir bawah dan atas Jihan secara bersamaan, saling bertukar sali*a.
__ADS_1
Hingga napas kedua nya habis barulah terlepas pagut*n itu, mengambil banyak pasokan oksigen dengan wajah hanya berjarak beberapa centi.
Barra mengec*p kembali bibir itu, bibir yang sudah menjadi candu dan selalu ingin dia rasakan tiap hari. Bibir yang tak pernah di sentuh oleh siapapun dan pemiliknya adalah Barra, bibir Jihan milik Barra seluruhnya yang ada di dalam diri Jihan itu milik Barra.
Ini bukan pertama kali nya mereka melakukan hal itu, tapi Jihan tetap saja malu, sesegera mungkin dia untuk terlihat biasa saja seperti Barra.
"Semangat ya belajar nya cantik ku, nanti gue jemput kalo gue belum dateng jangan kemana mana dulu, kalo mau kemana mana harus izin gue dulu, oke sayang?" jelas Barra panjang lebar dengan mengelus pipi kanan Jihan yang mulus dan putih.
Jihan mengangguk patuh. "Kamu juga semangat, jangan malas malasan dan asal asalan jawab nya by, biar nilai lo naik dan lulus" balas Jihan diakhiri tersenyum manis.
"Jangan nampilin senyum itu di depan cowok cowok" tegas Barra membuat Jihan mengernyit.
"Kenapa kok gak boleh?" tanya Jihan bingung.
"Senyum itu cuma buat aku, dan hanya aku lah pemilik nya, your mine today, tomorrow, and forever" jawab Barra dengan tatapan lekat pada wajah Jihan.
Jihan tersenyum manis dan tersipu. "Iya deh iya" balas Jihan dengan kedua nya yang merona.
"Ya udah aku keluar dulu" pamit Jihan hendak membuka pintu mobil, tapi lagi lagi di hentikan okeh Barra yang memegang tangan nya.
"Kenapa lagi hm?" tanya Jihan sedikit menghela napas.
"Kalo lo ketemu Diego jangan tanggepin dia ya," pinta Barra dengan tampang serius. Jihan meneliti wajah Barra yang nampak serius.
"Lo ada masalah apa sih sama Diego hm?" tanya Jihan menatap Barra balik dengan tatapan yang sama serius seperti Barra.
"Nanti gue ceritain deh ke lo" jawab Barra dengan tatapan lurus ke depan.
__ADS_1
Barra menatap lurus dan tanpa sengaja menangkap sosok gadis bersandar di dinding tembok pos, sambil menatap ke arah mobil nya dengan bersedikap dada.
Cia? wah! dia ngeliat adegan tadi berarti?. Batin Barra berdecak entah berdecak karna apa.
"Ya udah, gue keluar dulu" pamit Jihan diangguki Barra.
"Inget ya pesen gue tadi, jangan deket sama Diego, dan jangan menampilkan senyum semanis permen itu dk depan cowok lain, karna itu milik gue" pesan Barra sebelum Jihan menutup pintu mobil.
"Iyaa hubby ku" balas Jihan membuat Barra tersenyum.
Jihan berjalan ke arah gerbang tanpa memperhatikan sekitar, tapi saat Cia berdehem barulah Jihan menoleh ke kanan dan ke kiri mencari si suara.
"Ciee lah.. makin lengket" cetus Cia berjalan ke samping mengejutkan Jihan.
Jihan mengelus dada. "Tiba tiba bat si lo muncul, untung gue punya riwayat penyakit" balas Jihan membuat kepala di toyor Cia.
"Gak punya njir bukan punya, ngadi ngadi kau mbak" kesal Cia dengan tampang tak terima dengan ucapan Jihan.
Jihan cengir kuda. "Lidah gue typo tadi" balas Jihan dengan cengengesan.
Barra masih memperhatikan kedua gadis itu dari dalam mobil sambil geleng geleng kepala.
Cia menoleh ke arah mobil dan berkacak pinggang. "Heh mending lo ke MDK sana! inget ini ujian harap jangan mengganggu" teriak Cia dikekehi Jihan.
"Lo kenapa sih? marah marah mulu, PMS?" tanya Jihan merangkul pundak Cia sambil berbalik juga menatap Barra yang menurunkan kaca mobil nya. Cia mengedik bahu.
"Iya bac*t kali lo, dasar Cia pacar Denis!" balas Barra dengan nada mengejek, tapi Cia menganggap itu pujian.
__ADS_1
"Oh makasih, gue ambil Jihan dulu. BYE!!" teriak Cia menarik tangan Jihan yang awal merangkul pundak nya.