Suami Pilihan Bunda

Suami Pilihan Bunda
BAB 73


__ADS_3

Apartemen.


Barra tidur dengan posisi miring menghadap dada Jihan yang terbuka, setelah bujukan itu berhasil dan akhirnya Barra mau minum obat.


Tangan sebelah Jihan mengusap dengan lembut rambut hitam lebat milik Barra, mulut Barra masih berada di pucuk lonceng milik Jihan, dan satu tangan nya sibuk memainkan lonceng yang tak diemut oleh Barra.


"Kayak bayi aja sih lo, rakus" gumam Jihan merasa dada nya agak nyeri akibat diremas oleh tangan dan mulut Barra.


"Emmh.." geliat Barra membuat Jihan menepuk nepuk pundak Barra yang tertutup kaos oblong berwarna navy.


"Geli tapi.. nikmat" desis Jihan merasa ada gelenyar aneh saat Barra mengusap perut rata nya yang ditutup selimut.


Tanpa Jihan ketahui, Barra didalam selimut tidak tidur bahkan dia mendengar apa yang diucapkan Jihan, Barra tersenyum penuh kemenangan merasa Jihan telah terangsang akibat ulah nya.


Boleh gak sih?. Batin Barra ragu untuk menyentuh gudang perpus, bagian yang paling sensitif di tubuh Jihan dan yang paling dilindungi oleh Jihan.


Barra mencoba coba menyentuh celana yang dipakai Jihan, aneh nya Jihan tak bergeming, apa Jihan tertidur? tapi tak ada dengkuran kecil yang biasa nya di dengar oleh Barra.


Kress


Kayak bunyi kantong kresek? Jihan datang bulan? aihhh pantesan tadi malam dia nolak. Batin Barra mendengar samar samar bunyi pembalut yang berada di antara paha Jihan itu berbunyi saat Jihan menggerakkan kaki nya sedikit.


Drrt drrt


Ringtone hp Vivo milik Barra berbunyi, tapi sang pemilik ponsel tak menanggapi, dia masih sibuk bermain bersama dua lonceng perpus yang menggemaskan.


"Dari Bunda Aila? siapa Bunda Aila Bar?" tanya Jihan membaca nama penelpon, karena ponsel Barra dia pegang akibat bosan.


Barra mendongkak ke atas menatap wajah Jihan yang menatap nya bingung. "Oh itu Bunda nya Azkan, kenapa Bunda Aila nelpon?" jawab sekaligus tanya Barra.


"Gak tau," jawab Jihan menatap ponsel Barra yang kembali mati.


Drrt drrt


Ringtone hp Barra berbunyi lagi dan menampilkan nama panggilan dari yang sama, Bunda Aila.


"Angkat gih" titah Barra sebelum menenggelamkan kepalanya di tengah tengah dada Jihan yang bulat seperti squishy.


Jihan mengangguk menuruti perintah Barra, bahkan dia meng lost speaker telpon agar Barra juga bisa mendengarkan.


📞 BundaAila🌸 "Assalamualaikum Barra.. kamu lagi ada di sekolah kah nak?" tanya Bunda Aila to the point dengan nada khawatir.

__ADS_1


Barrarazithan. "Enggak Bun, Barra sakit gak bisa masuk sekolah.. emang kenapa Bun kok Bunda nanya gitu?" Barra mengangkat kepala nya setelah mendengar suara Bunda Aila yang nampak khawatir.


📞 BundaAila🌸 "Ini.. Az-Azkan kecelakaan" berucap dengan gagap karena khawatir.


Barra yang mendengar langsung terjingkat bangun walau kepala sedikit berkunang kunang akibat refleks tapi dia tetap berusaha mencerna maksud Bunda Aila.


Sedangkan Jihan menutupi tubuh atas nya dengan selimut lagi, dan menyodorkan ponsel Barra pada sang pemilik ponsel.


Barrarazithan. "Bunda jangan becanda deh, Azkan orang nya cerdik loh Bun gak mungkin kecelakaan"


📞 BundaAila🌸 "Bunda juga bingung Barra ya allah, Azkan gak pernah kecelakaan dan kecelakaan kali ini itu tunggal karena perbuatan dia sendiri, dia nabrak trotoar jalan" dengan panjang lebar.


Barra mengusap wajah nya pelan, dia kenal Azkan sejak kecil, bila sampai dijalan dia tak konsen artinya ada sesuatu yang mengganjal di hati nya.


Barrarazithan. "Ya udah, Azkan udah dibawa ke rumah sakit kan Bun?"


📞 BundaAila🌸 "Sudah nak sudah, nanti Bunda kasih tau dimana lokasi rumah sakit nya dan nomor ruangan Azkan ya nak"


Barra bernapas lega setelah mendengar jawaban dari Bunda Aila, sedangkan Jihan masih diam menyimak tanpa bersuara sama sekali.


Barrarazithan. "Iya Bun, Barra tunggu ya info tentang Azkan, nanti kalo Barra agak mendingan insyaallah Barra besuk Azkan ke rumah sakit" ucap Barra sambil melirik Jihan yang nampak mencebik bibir.


📞 BundaAila🌸 "Iya Bar, Bunda tutup ya.. assalamualaikum"


Tut


Barra menatap Jihan kembali yang bersedikap dada. "Kenapa?" tanya Barra dengan alis terangkat sebelah.


"Agak mendingan konon? mendingan nya apanya orang udah sembuh itu" cebik Jihan setengah kesal dengan ucapan Barra kepada Bunda Aila.


Barra cengir kuda. "Iya sembuh gegara lonceng bentuk squishy tuuuu.." balas Barra menunjuk dada Jihan dengan dagu nya menaik turun kan alis menggoda.


Jihan mengalihkan pandangan nya ke sembarang arah tak mau kontak mata dengan Barra yang mengakibatkan jantung nya jedag jedug seperti lagu tiktokk.


"Mau lagi" rengek Barra memeluk tubuh Jihan yang terbungkus selimut dari atas, Jihan hanya bisa pasrah tapi dia yakin Barra sudah mengetahui kalau diri nya sedang halangan.


Dan kejadian awal kembali terulang lagi, hehe.


___


SMA Dharma Bakti

__ADS_1


Adiba bersama Cia dan Ersa sedang berada di kantin indoor sekolah mereka, duduk di pojokan tanpa kehadiran satu member lagi yang membuat suasana kurang asik.


Ersa yang sibuk dengan ponsel, dan Cia sibuk bertengkar dengan pentol baso yang tak mau di potong dari mangkok baso, dan.. Adiba yang melamun dengan tatapan lurus ke depan sambil mengaduk aduk ice lemon milik nya.


Entah kenapa pikiran nya tertuju pada Azkan, melihat perubahan Azkan tadi pagi membuat nya heran, tapi jauh di lubuk hati nya dia merasa cemas dengan keadaan Azkan.


Walau kedua nya tak terikat hubungan apapun, tapi Adiba benar benar merasa cemas bahkan sampai tak mendengar Ersa memanggil nama nya.


"Adiba!" sentak Ersa menepuk lengan Adiba sedikit keras dan membuyarkan lamunan Adiba.


"Apa?" tanya Adiba menatap Ersa dengan kedua alis terangkat.


"Hp lo bunyi" jawab Ersa singkat menunjuk ponsel Adiba yang tergeletak di meja kantin dengan telunjuk kiri nya.


Adiba melirik sekilas ponsel nya, tertera nama Jihan di ponsel itu. Segera Adiba ambil dan mengangkat telpon itu lalu menempelkan nya di telinga kanan nya.


Deg


Raut wajah Adiba tiba tiba berubah mendengar ucapan Jihan, sudah tentu kalian tau kan apa yang Jihan bicarakan pada Adiba lewat telpon, tentu tentang Azkan yang kecelakaan.


adibasatt. "Lo serius Ji?"


...


adibasatt. "T-tapi jam pelajaran masih ada, bahkan ada empat jam lagi kalo gak salah" ucap Adiba nampak uring uringan.


Adiba bahkan berdiri dan menggigit jari jempol nya sendiri karena gelisah, rasa cemas yang dia rasakan ternyata benar.


Hingga..,


"Tes tes.. assalamualaikum.. selamat pagi menjelang siang anak anak ku sekalian, di sini saya mengumumkan bahwa hari ini jam pelajaran ditiadakan dikarenakan ada rapat mendadak, sekali lagi jam pelajaran hari ini cukup sampai disini, silahkan ambil tas kalian masing masing dan pulang ke rumah dengan selamat, dikarenakan ada rapat dadakan, terimakasih.. wassalamualaikum"


Para murid SMA Dharma Bakti bersorak gembira.')


Adiba langsung sumringah, telpon nya masih tersambung dengan Jihan, jadi Jihan bisa mendengar apa yang diumumkan oleh kepala sekolah lewat mikrofon.


📞 jihansfthr "Nah itu.. dah lo buruan deh ambil tas lo, balik ke rumah dulu ganti baju baru ke rumah sakit, nanti gue serlok dimana rumah sakit nya"


adibasatt. "Yaa" serunya sambil berlari ke kelas nya yang terletak di lantai atas.


Tut

__ADS_1


Adiba mematikan telpon sepihak tanpa mengucapkan salam, membuat Jihan mengumpat kesal di apartemen.


__ADS_2