
Makan malam dibubuhi dengan obrolan ringan tanpa ada kata serius akibat ulah Jihan dan Bunda Lifah, walau Jihan terlihat ceria jujur dilubuk hatinya dia merasa belum sempurna dan tak bisa menjadi seorang istri yang memenuhi apa yang dibutuhi oleh suami nya.
Agar tak membuat orang yang berada di meja makan merasa sedih, jadi Jihan memakai dua muka untuk sementara.
Setelah selesai makan, Jihan dan Bunda Lifah membersihkan meja makan dan menaruh piring kotor di wastafel, untuk mencuci Jihan menyuruh pembantu saja, dia beralasan ingin mengerjakan sesuatu yang penting di kamar.
Tak ada yang curiga dengan alasan Jihan, sedangkan Barra melanjutkan obrolan bersama Ayah Elan dan Bunda Lifah di gazebo halaman rumah.
Barra yang merasa Jihan tak akan ke gazebo pun undur diri, pamit ke kamar yang Jihan dan dirinya tempati.
"Ayah Bunda, Barra ke kamar dulu ya nyusul Jihan" pamit Barra membuat Ayah Elan dan Bunda Lifah saling pandang dan tersenyum menatap Barra.
"Makin lengket aja kalian" goda Ayah Elan membuat Barra menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal, salah tingkah.
Barra segera beranjak dari gazebo, masuk ke dalam rumah sembari melihat lihat isi rumah mertua nya, dia baru beberapa kali ke rumah itu dan terakhir kali saat malam balapan tepat di malam pertama nya.
Cklek
Kriett
Barra sudah ingat dimana letak kamar Jihan, ya karna ada nickname Jihan di karpet bulu pijakan kaki di depan pintu.
Menutup pintu lagi dengan pelan dan berbalik.
"Eh?" kaget Barra menatap Jihan yang duduk di pinggir kasur dengan menunduk, kaget karna apa? ya karna pakaian yang dipakai Jihan adalah pakaian yang begitu pendek.
Jihan mendongak menatap ke arah suara itu berasal, lalu kembali menunduk menatap kedua kaki nya yang menginjak lantai dingin tanpa sandal.
__ADS_1
Menggunakan tangtop dan kaos tanpa lengan itu membuat Barra membeku di tempat, dia masih berusaha untuk menenangkan Vovo yang seperti nya hendak bangun.
Allah! engkau menguji ku kah?. Batin Barra uring uringan.
"Ji.. kam-kamu kenapa pakai baju be-begituan sih?" tanya Barra dengan gugup melangkah mendekati Jihan yang masih menunduk. Jihan menggeleng pelan tetap menunduk.
Barra mencoba bersikap biasa aja dan tenang agar tak di anggap remeh oleh Jihan, mungkin ini memang outfit Jihan saat di kamar sendirian dan sekarang dia lupa sudah bersuami tapi kan sudah enam bulan lebih masa lupa, pikir Barra.
Berjongkok di hadapan Jihan yang sedari tadi terdengar helaan napas berat dari hidung mancung Jihan.
Menatap lekat Jihan, dia hanya menatap wajah Jihan hanya fokus pada wajah Jihan, otak nya sebenarnya menyuruh nya untuk melirik ke lain arah tapi mata nya menolak, sungguh otak meresahkan.
Jihan membuang muka nya samping tak mau melihat mata hitam nan elang milik Barra, dia mencoba menahan air mata yang sudah hendak keluar.
"Hey! tatap aku" ucap Barra dengan lembut tapi penuh titahan, bukan nya Jihan menurut dia malah menggeleng kan kepala tanpa ada niatan bersuara.
"Kalo gak mau natap ya udah gak papa, tapi ngomong lah, biar aku tau apa yang buat kamu jadi gini, kamu murung karna apa hm?" tanya Barra penuh dengan kelembutan, membuat Jihan tak kuat menahan air mata nya.
Tik
Satu titik air nata keluar dari pelupuk mata Jihan karena sudah tak bisa menampung air mata lagi, hingga terdengar suara sesegukan dari Jihan.
"Hey sayang! kok nangis sih? siapa yang ganggu in kamu hm? bilang sama aku biar aku yang urus dia" tanya Barra dengan tampang khawatir.
"Engg-hiks.. Engga, gak ada papa hiks" jawab Jihan dengan sesegukan dan air mata yang terus keluar.
Barra bangkit dari jongkok nya dan menarik ke dalam dekapan hangat dan erat nya. "Menangis lah" ucap Barra membuat Jihan menangis tambah keras dan membalas dekapan Barra.
__ADS_1
Cukup lama Jihan menangis dan membuat baju kaos yang dipakai Barra basah akan air mata nya, tapi tak masalah bagi Barra yang terpenting bagi Barra saat itu ialah Jihan melampiaskan apapun yang ingin dikeluarkan kepada nya.
Akhirnya Jihan melepas dekapan itu setelah air mata nya sudah mulai berhenti, lalu memperbaiki tataan rambut nya yang agak berantakan akibat usapan lembut Barra.
Barra pun duduk di samping Jihan yang masih sesegukan tapi tak mengeluarkan air mata lagi, mata Jihan sudah merah dan bengkak akibat menangis terlalu lama.
"Kenapa nangis hm?" tanya Barra dengan lembut menyampirkan rambut ke belakang telinga yang menutupi pemandangan indah, wajah Jihan maksudnya bukan yang lain loh gaes😬.
"Gue bukan yang terbaik buat lo" cetus Jihan bukan nya menjawab tapi malah mengucapkan sesuatu yang membuat Barra penuh tanda tanya.
"Apaan sih? kok kamu ngomong gitu?" tanya Barra dengan kedua alis menyatu, antara tak terima dengan ucapan Jihan dan masih bingung.
Dan jangan lupakan, challenge itu masih berjalan bagi Barra, karena kata Jihan challenge itu sampai tengah malam yang artinya ini masih masuk waktu tantangan.
"Gue masih belum bisa ngelengkapin hid-" jawab Jihan dengan menunduk tapi saat hendak menatap Barra, ucapan nya langsung di potong karna Barra memeluk nya tanpa aba aba.
"Kamu itu udah ngelengkapin hidup aku! kamu udah bisa jaga hubungan kita walau beberapa kali aku sering bikin kamu marah sama aku" cela Barra dalam pelukan Jihan.
"Tapi ini bukan soal itu" balas Jihan mencoba melepas pelukan Barra dia ingin menatap wajah Barra.
"Terus?" tanya Barra merenggangkan pelukan nya tanpa melepas hanya melonggarkan, agar bisa menatap wajah masing masing.
"Aku masih belum bisa ngasih kamu nafkah batin" jawab Jihan dengan pelan layak nya gumaman tapi karena posisi Barra yang dekat, dan Barra punya telinga yang tajam jadi masih bisa mendengar.
Barra nampak menghela napas sebelum mengelus pipi kiri Jihan dengan lembut, lalu menatap Jihan dengan tatapan lembut tapi serius.
note: padahal niat nya pen bikin satu episode doang scene sad nya, tapi gak bisa, aku nya mager, eh numpang promosi instagram @nisaafs._ hehe di follow ya😉.
__ADS_1