
Basement Mall.
Jihan dan Barra telah tiba di mall yang berada tak jauh dari kantor Fthn Group, perusahaan yang masih dikelola dengan baik oleh Barra dan Kakek Irfani, walau Kakek Irfani hanya memantau tidak bekerja dia tetap harus memberi arahan sampai waktu dia di dunia habis.
"Kita kok ke mall?" tanya Jihan menatap Barra yang baru turun dari motor sport nya dan merapikan tataan rambut yang acak acakan.
"Emang biasa nya orang kalo ke mall ngapain?" tanya Barra balik menghadap ke Jihan yang berdiri tak jauh dari nya.
"Main, nonton, atau shopping" jawab Jihan dengan polos dan apa yang dia ketahui langsung dia keluarkan.
"Kata kata yang terakhir" ucap Barra mengusap lembut pucuk kepala Jihan yang tertutup kerudung segitiga berwarna putih tulang.
Jihan nampak antusias lalu. "Lah terus si Adiba sama Azkan gimana?" tanya Jihan dengan tampang imut membuat Barra gemas sendiri melihat istri nya.
__ADS_1
Iiiik, kalo aja ini bukan area kantor udah gue cium tu pipi sama bibir rasa permen foxs yang gak bisa pahit kek permen karet. Batin Barra gemas.
"Mereka nyusul, tadi udah gue kabarin lewat wa" jawab Barra mencubit pelan pipi kanan Jihan yang nampak seperti bakpao, tembem. Jihan mangut mangut paham.
"Yodah! ayok shopping" mood Jihan sedang baik, sebelum melangkah masuk ke mall dia memeluk sekilas Barra yang mengikuti nya di samping lalu berlari kecil masuk lewat pintu putar bisa juga disebut revolving door.
Barra hanya bisa geleng geleng kepala pelan melihat kelakuan istri nya yang begitu lucu dan menjadi tontonan banyak orang yang berada di halaman mall.
"Barra, ayok!" suara Jihan mendorong pintu itu membuat nya kembali berputar, dari luar ke dalam hingga Barra masuk dan menarik tangan Jihan agar tidak terkurung di pintu putar.
Gelengan cepat agar kepala nya berhenti berputar, mungkin terlalu cepat mendorong pintu dan mengakibatkan dia berputar di dalam pintu putar itu tanpa bisa keluar.
"Makanya jangan terlalu aktif, nih kan jadinya. harusnya nungguin gue dulu" omel Barra memegangi tangan Jihan yang mencengkram jaket nya.
__ADS_1
"Hais.. emang lo sering masuk pintu putar kayak gitu?" tanya Jihan setelah kepala nya sudah tak berkunang kunang lagi. Barra mengangguk sekali dengan santai dan menarik Jihan agar berjalan.
Dengan tangan saling berpegangan keduanya melangkah ke tiap sudut, mencari barang yang akan di beli, tapi di lantai satu belum ada yang membuat Jihan tertarik.
"Bar, ke lantai dua yok!" ajak Jihan dengan manja, banyak yang mengira kalau Jihan dan Barra adalah sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara, padahal mereka bukan sepasang kekasih melainkan sepasang suami istri.
Barra mengiyakan ajakan Jihan, menaiki tangga berjalan atau eskalator dengan tangan tetap dalam posisi berpegangan erat tanpa rasa risih.
Sesampainya di lantai dua, Jihan dan Barra pun masih hanya berjalan jalan tanpa ada yang dibeli oleh Jihan, hingga akhirnya sebuah cafe jadi tempat pertama yang dihinggapi oleh Jihan dan Barra yang mulai penat berjalan.
Dikasir tempat pemesanan Jihan dan Barra memesan apa yang mereka inginkan, karena cafe itu tak menyediakan pelayan jadi para pembeli wajib memesan sendiri dari meja kasir.
"Lo mau yang mana?" tanya Jihan setelah melihat menu yang ada di spanduk atas dengan nama menu yang ada di cafe itu.
__ADS_1
"Apa aja" jawab Barra seadanya.