Suami Pilihan Bunda

Suami Pilihan Bunda
BAB 72


__ADS_3

"Pegang dua lonceng perpus" ucap Barra dengan menatap dada Jihan yang mendadak naik turun, seperti nya Jihan gugup sekaligus kaget karena ucapan Barra.


"Lonceng perpus? harus ke perpustakaan dulu berarti? dih! ogah gue ke harus ke perpus cuma buat megang lonceng" tolak Jihan mengira lonceng yang Barra maksud adalah bel perpustakaan di samping apartemen.


Barra menghela napas. "Bukan, bukan itu.." ucap Barra dengan menggigit bibir bawahnya.


"Terus lonceng perpus dimana?" tanya Jihan dengan nada jengah dan tampang kesal.


"Ituuuuuu..." jawab Barra sambil menunjuk dada Jihan dengan telunjuk nya yang agak bergetar, bukan karena gugup tapi kondisi nya memang masih belum sehat.


Jihan mengikuti arah telunjuk Barra yang terarah pada, dada nya. Jihan menatap Barra kembali dan terlihat Barra menggigit bibir bawah lagi.


What?! lah dikira dada gue lonceng perpus? eh tapi gue juga anggap perut Barra rak buku hehe samaan gitu ya tema perpus. Batin Jihan cengengesan.


"Ji! lo kenapa sih? kok cengengesan mulu sih? gue kan pengen megang lonceng ituuuuu" seru Barra dengan tatapan memelas dan membuyarkan lamunan Jihan.


Jihan seperti nampak berpikir sebelum menjawab dengan anggukan pelan, saat mendapat jawaban samar dari Jihan, Barra langsung sumringah.


"Eh... bentar! gue naruh nampan ini ke dapur dulu" ucap Jihan menghentikan kedua tangan Barra yang hendak memegang dua lonceng milik nya.


Barra cemberut sekilas lalu mengangguk menyetujui ucapan Jihan, Jihan segera mengangkat nampan yang berada di paha nya.


Saat hendak berdiri, tiba tiba Barra cegukan membuat Jihan menoleh dan tertawa kecil karena lupa memberi minum setelah makan pada Barra.


"Sorry sorry gue lupa" ucap Jihan dengan tertawa kecil, menyodorkan segelas air putih yang dia bawa tapi bukan nya menerima Barra malah menggeleng.


"Why?" tanya Jihan heran.


"Nanti gue hik minum air hik juga kok hik" jawab Barra dengan cegukan yang terus mengganggu nya untuk bersuara.


"Minum air apa?" tanya Jihan tak paham maksud jawaban Barra.


"Lonceng perpus hik" jawab Barra cengir kuda melirik dada Jihan yang membuat sang pemilik lonceng memutar bola mata jengah.

__ADS_1


"Udah minum ini aja dulu, emang ni lonceng bisa keluar air apa? kan gue belum hamil perawan aja masih tersegel" ucap Jihan tanpa sadar membuat Barra tersedak saat minum.


"Eh gue salah ngomong apa? perasaan bener deh kan gue emang masih perawan cuma bibir gue doang yang udah gak perawan oh ini deng sama dada gue otw gak perawan" cerocos Jihan tanpa henti, dan membuat Barra cekikikan sambil minum.


"Dah dah! sana cepet taruh itu nampan, gue dah gak sabar.. apa gue langsung aja nih biar lo gak usah kemana mana lagi" ancam Barra dengan muka merah.


"Yang harus kek kepiting rebus tu gue bukan lo Barra, tapi kenapa muka lo yang merah aneh" cibir Jihan sebelum keluar dari kamar menaruh nampan ke dapur.


Setelah kepergian Jihan, Barra menatap wajah nya dari pantulan cermin di almari, wajah nya memang merah bahkan terasa panas.


"Dia yang gue sentuh kenapa gue yang malu anjir, harus nya Jihan lah yang malu bukan gue aneh" gumam Barra mengusap wajah nya pelan.


Beberapa menit berlalu, Jihan akhirnya masuk kembali ke kamar dengan obat entah apa merek nya dan segelas air putih lagi.


"Minum obat!" titah Jihan mengalihkan pandangan Barra dari tv yang menayangkan berita.


"Gue gak suka minum obat" ucap Barra dengan singkat dan menatap sekilas Jihan, sikap nya kembali dingin dan datar.


Jihan menghela napas, berapa kali dia menghela napas. Lebih baik jangan punya suami jika suami yang punya sifat kadang kadang kek otak nya yang kadang lemot kadang encer. Batin Jihan memaki.


Barra menatap Jihan dengan mata membulat kaget, tak percaya Jihan mengancam nya dengan hal yang sangat Barra inginkan sejak semalam.


___


SMA Merdeka.


Azkan menuruni motor sport nya di depan gerbang SMA Merdeka yang mana gerbang sekolah nya sudah di tutup.


"Telat" gumam Azkan menghela napas pelan entah kenapa pagi ini dia tidak bersemangat untuk berangkat sekolah setelah melihat Adiba yang berboncengan dengan seorang lelaki yang Azkan tidak tau siapa.


Apa cinta pertama selalu bikin sakit?. Batin Azkan menatap langit yang cerah tanpa ada matahari yang terlalu panas.


"Nganter surat sakit Barra, setelah itu cabut" ucap Azkan mantap untuk membolos, hati nya sedang tak baik.

__ADS_1


"Assalamualaikum pak Wanto" panggil Azkan dari luar gerbang.


"Eh? waalaikumsalam, den Azkan telat udah gak bisa masuk tunggu bu Nadia kesini dulu baru saya buka" ucap Pak Wanto tanpa jeda untuk Azkan membuka suara.


"Iya pak gue juga tau kali, kalo gue telat. ini gue cuma mau ngasih surat ini aja, sampein ke kelas gue ya pak" pesan Azkan menyodorkan amplop polos yang diberikan Jihan saat di apartemen.


"Surat apa ini?" tanya Pak Wanto penasaran hendak membuka amplop yang telah bersegel itu.


"Lo buka tu amplop abis lo sama Barra, pak" ancam Azkan menakut nakuti Pak Wanto dengan menyebut nama Barra, dan inilah penyebab Barra cegukan_- ada yang menyebut nama nya.


"Eh ini surat punya den Barra?" tanya Pak Wanto tak jadi merobek segel amplop itu saat mendengar nama murid bad paling bad diantara bad lainnya, EH?


"Hm" jawab Azkan singkat.


Azkan hendak berbalik, berniat pergi dari sekolah, dia sudah tak konsen bila terus memikirkan Adiba.


"Ehh.. den Azkan mau kemana? ini surat nya cuma punya den Barra, den Azkan juga pake seragam sekolah, mending masuk. itu bu Nadia sudah nyuruh saya buka gerbang" ucap Pak Wanto membukakan gerbang tapi tak dihiraukan oleh Azkan.


Azkan menghidupkan motor nya dan pergi begitu saja tanpa menghiraukan teriakan Pak Wanto yang meminta nya berhenti bahkan bu Nadia juga ikut berteriak tapi Azkan seperti tuli.


Sepanjang jalan Azkan nampak menahan air mata nya, hingga rintik hujan mengguyur kota itu dengan rintikan kecil, tapi sangat mendukung hati Azkan.


"Aaaaaaaaa!!" teriak Azkan menancap gas motor nya diatas rata rata, dengan air mata yang turun bersamaan dengan air hujan.


"Lo bangkee Az! lo suka cewek milik orang lain!" lanjut Azkan berteriak mengeluarkan emosi nya di jalan, mata nya sudah merah menahan tangis dan akhirnya tangis itu tak bisa dihindari.


"Brengs*k! pecund*ng! tol*l!" maki Azkan pada diri nya sendiri, dia masih tidak mengetahui siapa yang bersama Adiba, tapi saat melihat Adiba yang begitu dekat bahkan tersenyum itu membuat nya salah paham.


Hingga..,


Bruk


Tubuh Azkan terbang menjauh dari motor nya yang tak sengaja menabrak trotoar jalan, untung lah Azkan memakai helm fullface jadi kepala nya tak kenapa napa.

__ADS_1


"Ini gak sesakit hati gue" gumam Azkan sebelum mata nya tertutup dan akhirnya pingsan.


__ADS_2