
"Gue ga tau cara masang nya" jawab Barra jujur, Jihan yang hendak masuk ke ruang ganti pakaian langsung terhenti dan menatap Barra dengan tatapan meremehkan.
"Baru pertama kali pegang dasi? padahal udah lima setengah tahun loh lo sekolah pake dasi yang kayak gitu," cibir Jihan bersedikap dada bersender di dindang.
"Gue ga pernah ngelepas pola dasi nya dari menengah pertama gue udah minta ajarin tapi selalu ga ingat" timpal Barra dengan menunjuk kan dasi panjang yang tak ada tali atau karet seperti dasi sekolah dasar.
"Itu berarti lo nya yang pelupa!" semprot Jihan tanpa rasa bersalah.
Barra sudah tak bisa mengelak karena memang dia pelupa walau tak terlalu akut, tapi bisa saja di acara penting atau hal penting yang terlupa kan karena penyakit Barra yang kali ini adalah penyakit keturunan yang di turun kan oleh Kakek Irfani.
Hanya bisa menggaruk belakang telinga nya dengan cengir kuda, Jihan mendengus kesal lalu berbalik masuk ke dalam ruang ganti pakaian dan menutup nya untuk berganti baju.
Ceklek
__ADS_1
Kriett
Jihan sudah berpakaian rapi dengan seragam sekolah nya, lalu menghampiri Barra yang masih sibuk memasuk kan pola dasi yang bagi nya berbelit belit.
Menghela napas dan geleng geleng kepala melihat tingkah kekanakan Barra yang terlihat menggemas kan, Jihan segera mengambil dasi berlogo SMA Merdeka dari tangan Barra.
Sedikit mendongkak agar bisa melihat pola dasi nya, Barra memperhati kan Jihan yang sibuk memasang dasi untuk nya, tanpa pikir panjang Barra menarik pinggang Jihan agar lebih mendekat.
Plak
"Kok di geplak?!" seru Barra cemberut.
Dia hendak mencium kening Jihan tapi tiba tiba saja Jihan menggeplak pipi nya yang membuat nya gagal untuk mencium kening Jihan seperti acara akad dua hari yang lalu.
__ADS_1
"Salah sendiri punya bibir di manyunin, jadi bebek baru tau rasa" ketus Jihan menjawab tapi tetap fokus pada pola dasi yang sebentar lagi selesai.
"Lo tadi malam udah ngomong gitu juga, sekarang lo ngulang lagi, lo ga punya kata kata lain apa yang bisa bikin readers komen sama like?" tanya Barra sedikit kesal medengar ucapan Jihan yang seperti tadi malam saat Barra menjahili Jihan dengan menyembunyi kan ponsel Jihan dan berujung adegan kiss.
"Ga! Otak gue lagi gue simpen buat nanti di sekolah, hari ini ada ulangan harian jadi gue ga make otak gue dulu untuk sementara.. dah selesai" jawab Jihan dengan santai.
Dasi terpasang rapi di leher dan dalam kerah baju Barra, hendak berjalan menuju almari tapi langsung di cegah oleh Barra yang secara tiba tiba memeluk nya dari belakang.
"Semangat ulangan harian nya, semoga nilai lo ga anjlok" bisik Barra di dekat telinga Jihan yang tertutupi rambut.
Jihan membeku sejenak meresakan hembusan napas berbau mint menyapu di area leher dan telinga nya. Menikmati hembusan sejuk yang menerpa nya.
"Kita liat aja nanti" ucap Jihan setelah sadar dari sensasi yang begitu nikmat, tapi dia tak boleh terlalu hanyut karena jam menunjuk kan 6 lewat 15 menit yang arti nya hanya tersisa satu jam untuk sampai ke SMA Dharma Bakti.
__ADS_1
"Bagus juga" puji Barra menatap dasi yang berada di kerah leher nya dari pantulan cermin di hadapan nya.
Jihan menganggapi dengan deheman kecil, lalu mendorong tubuh Barra yang menutupi cermin panjang, dia ingin menatap cermin sambil memasang kerudung segitiga berwarna putih di kait kan dengan jarum pentol.