
Jihan melahap habis jajanan ringan yang hanya berisi dua bola coklat ditambah susu itu, setelah itu menatap mainan yang dia dapat dari dalam kinderjoy itu.
"Mau di gimana in tuh?" tanya Barra yang duduk di sofa dengan ponsel di tangan nya.
"Di gimana in apa nya by?" tanya Jihan balik tak paham.
Barra menghela napas, "mainan nya tu loh, di simpan atau di buang, mainan nya gak terlalu menarik menurut ku" jelas Barra.
"Ohh, simpan aja deh.. buat bukti kalo dede pernah minta kinderjoy waktu dalam perut" ucap Jihan sambil menaruh mainan itu di nakas samping ranjang.
"Trus itu sisa nya mau kamu habisin sayang?" tanya Barra melirik wadah kinderjoy yang ada di ranjang, Barra tak hanya membeli satu tapi membeli sepuluh kinderjoy.
Wajar karna Barra kaya, malu bila membeli hanya satu walau permintaan bumil hanya satu🗿🤝.
"Bagiin ke anak jalanan aja yang di depan tu loh by, sekalian snack yang lain juga, kasian mereka" usul Jihan membuat bibir Barra menarik seutas senyum.
"Nah ide bagus tuh, aku beli snack buat mereka bentar, trus ngasih ke anak jalanan" balas Barra mengiyakan usulan sang istri.
"Ikut, pengen ke minimarket juga by" bujuk Jihan dengan mengeluarkan jurus andalan nya yang pasti Barra tidak bisa menolak.
"Oke oke, tapi kalo mau apa-apa panggil, biar aku yang bawa in belanjaan nya, bumil satu ini gak boleh bawa yang berat-berat" balas Barra setelah menghela napas dalam.
"Siap pak bucin" cicit Jihan dengan berbinar.
Barra tersenyum sembari mengecup bibir Jihan sekilas dengan gemas, memiliki istri yang kelakuan nya kadang seperti batu, kadang seperti anak kecil, kadang juga seperti hulk membuat hari-hari Barra terisi penuh warna.
"Pake kerudung dulu sana, kita berangkat sekarang" ucap Barra diangguki Jihan dengan semangat.
___
__ADS_1
"By, ini apa?" tanya Jihan menunjuk salah satu mie korea yang pedas, Barra yang paham maksud Jihan langsung menggeleng kepala tanda tidak boleh.
Jihan hanya bisa cemberut kala keinginan nya untuk makan mie korea tidak di perbolehkan.
Padahal pengen banget makan mie korea yang itu. Batin Jihan seraya berjalan mengikuti Barra yang membawa belanjaan.
Mata Jihan tak sengaja melihat setumpuk penuh coklat, tidak hanya satu merek tapi ada berbagai merek dan rasa.
"Ayanggggggggg" seru Jihan dengan panjang memanggil Barra bukan dengan sebutan by lagi melainkan ayang.
Barra menoleh ke belakang, lalu menghampiri Jihan dengan tanda tanya. "Mau apa?" tanya Barra.
"Mau itu ayangggg" jawab Jihan dengan manja menunjuk coklat tanpa menghiraukan tatapan orang lain.
"Satu aja tapi ya" bujuk Barra lembut, dia tidak terlalu menyukai coklat, kalau terlalu banyak membeli takut nya Jihan tidak habis, pasti yang disuruh menghabiskan ialah dia.
"Aaaa dua ya ayanggg" sahut Jihan menawar dengan menunjukkan wajah terlucu nya, yang membuat Barra ingin mengigit pipi bumil itu saat itu juga.
"Iri? Makanya cari ayang biar bisa di manja in" balas Jihan membuat perempuan yang tadi mencibir terdiam, kena mental oleh kata-kata Jihan yang memang benar.
Pelanggan yang hanya menahan tawa mendengar balasan Jihan yang langsung menusuk ke paru-paru melalui mulut nya yang tiba-tiba seperti Adiba.
Barra tersenyum tipis dengan gelengan kepala heran, padahal tidak ada Adiba di situ tapi seperti ada ikatan yang membuat sifat Adiba tertular ke Jihan.
"Ya udah dua, tapi kali gak habis gimana?" tanya Barra sembari melangkah ke tempat coklat yang ditunjuk oleh Jihan tadi, diikuti Jihan di belakang.
"Ayang yang habisin" jawab Jihan dengan santai dan tanpa dosa. Barra menghela napas dalam dan mengangguk pelan, walau dia tidak terlalu menyukai coklat tapi demi bumil kesayangan nya apapun dia lakukan.
"Woy Ji!" panggil seseorang yang sangat familiar ditelinga Jihan dan Barra.
__ADS_1
Jihan menoleh ke belakang, dan terlihat Adiba dan Azkan berjalan menuju mereka, dengan belanjaan di tangan Azkan.
Pantesan sifat nya menular ke Jihan, ternyata orang nya juga ada di sini. Batin Barra menatap Adiba dan Azkan sekilas kemudian mengambil coklat dengan rasa vanilla dan coklat kacang mete.
"Kalian disini juga" ucap Jihan menatap belanjaan yang dipegang oleh Azkan.
"Yoi, bosen di kamar mulu" sahut Adiba sembari mencari jajanan yang lain, yang bagi nya enak akan dia ambil satu persatu.
Jihan mengikuti kemana Adiba berjalan dengan mata nya, hingga Adiba berhenti di tempat mie korea yang sempat diinginkan oleh Jihan tadi.
****, pengen juga. Batin Jihan mengumpat.
"Ayo bayar sayang" cetus Barra membuat Jihan mengalihkan pandangannya ke Barra dan mengangguk pelan dengan wajah murung.
"Kok muka nya masam gitu sayang?" tanya Barra menatap wajah Jihan dari samping dengan sedikit menunduk.
"Pengen mie korea" gumam Jihan samar-samar, tapi masih bisa di dengar oleh Barra.
"Sayang, kamu boleh makan mie, tapi jangan pedes-pedes sama terlalu sering, bukan nya baru tadi pagi ya kamu makan mie pas sarapan hm" jelas Barra lembut.
Jihan terdiam, benar kata Barra terlalu sering makan mie juga tidak sehat. "Tapi boleh makan mie kan?" tanya Jihan dengan pelan.
"Boleh, tapi nanti aku yang beliin, bukan hari ini ya sayang" jawab Barra dengan lembut dan baik-baik memberi pengertian kepada bumil.
"Iyaa" balas Jihan mengiyakan ucapan Barra yang pasti akan membelikan dia mie, mungkin besok atau lusa.
___
Sementara dirumah utama.
__ADS_1
Nenek Naira dengan datar menatap layar tablet, seperti sedang mengawasi gerak-gerik seseorang yang berada di luar kamar nya.
"Kamu kira saya akan dengan mudah menerima pembantu baru yang muda dan tentu nya masih belum berstatus dirumah ini, walau cucu saya menerima kamu jadi pembantu tapi tidak dengan saya, Laras" gumam Nenek Naira sembari menatap layar tablet dengan fokus.