Suami Pilihan Bunda

Suami Pilihan Bunda
BAB 142


__ADS_3

"Nenek kan sering ngawasin Laras tuh, boleh minta rekaman CCTV nya gak Nek? Buat bukti" ucap Azkan langsung diangguki Nenek Naira.


Seperti yang diucapkan oleh Azkan pagi kemarin, dia yang mengurus semua tentang Laras dibantu Adnan dan Denis.


"Nenek menyimpan semua rekaman nya di tablet ini, jadi tablet ini Nenek serahkan ke kamu sebagai bukti" ucap Nenek Naira menyerahkan tablet berlogo apel digigit.


"Ini seriusan gak sih? Kek gak percaya aja gitu cewek padahal tapi bisa bisa nya begitu" cetus Denis geleng-geleng kepala.


"Bukan cuma kejadian itu sebenarnya, dia bahkan mencuri salah satu perhiasan di kamar Jihan Barra" balas Nenek Naira membuat Azkan, Adnan dan Denis terkejut.


"Kenapa gak Nenek laporkan sejak awal? Terus perhiasan nya masih ditangan Laras gitu Nek?" tanya Adnan diangguki Nenek Naira.


"Selagi dia tidak membuat cucu ku terluka, aku tidak akan bertindak.. Harta mudah dicari tapi cucu haha tidak mudah" jawab Nenek Naira membuat ketiga mengangguk paham.


Sebelum Jihan terluka hingga masuk rumah sakit, Nenek Naira akan membiarkan Laras hidup tenang dengan kelakuan nya yang sangat tidak senonoh, tapi itu sebelum Jihan masuk rumah sakit.


"Laras ada dirumah kan Bi?" tanya Azkan pada Bi Darmi yang baru saja selesai telponan dengan Bi Dyna yang menjaga rumah.


"Iya den, tapi kata Bi Dyna dia kaya gak tau diri den, pakai baju milik non Jihan tanpa izin" jawab Bi Darmi setelah mendengar Bi Dyna tadi sempat memergoki Laras dirumah memakai pakaian Jihan.


"Bawa polisi aja langsung, biar di penjara, dia juga kan melakukan kejahatan yaitu mencuri barang yang bukan milik nya" usul Denis mendapat anggukan setuju dari Adnan.

__ADS_1


"Oke, sekaligus kita serahkan bukti ini ke polisi, biar pihak berwajib yang mengurus" ucap Azkan langsung menelpon polisi yang dia kenal.


Jihan sudah di perbolehkan keluar dari rumah sakit, asal menjaga kesehatan dan kehamilan yang sangat rentan ini.


Baru juga hendak menutupi pintu ruang VIP, tubuh nya sudah terhuyung ke samping dan hampir jatuh jika Barra tidak dengan sigap menangkap.


"Ya allah, Ji gue lu jatuh ya? Aaaa ponakan gue gak kenapa-kenapa kan ya? Aman kan ya? Aaaaa Azkan gak asik gak ngabarin gue kemarin" cerocos Adiba yang tiba-tiba datang dan memeluk Jihan.


"Datang tiba-tiba banget anjir, ini bini gue hampir jatuh lagi nih" kesal Barra merebut Jihan dari pelukan Adiba.


"Idih gitu amat, gue bestie nya Jihan kali" balas Adiba menatap Barra dengan raut yang sama kesal.


"Lu siapa ya? Gak kenal gue" tanya Jihan berpura-pura tak mengingat Adiba, gadis yang sudah tidak gadis lagi itu cemberut mendengar pertanyaan Jihan.


"Ohh iya, laki gue mana?" tanya Adiba membuat Barra ingat urusan di rumah tentang Laras, dia tidak pulang dia fokus menjaga dan menemani Jihan dirumah sakit.


"Ngurus si Laras" jawab Barra singkat.


"Ngurus gimana? Laras masih waras kan?" tanya Adiba dengan polos, Ersa menepuk jidat nya merasa Adiba sedang dalam mode lemot.


"Laki lu ngurus Laras yang mau di masukin ke penjara, Adibaaaa" jawab Ersa membuat Jihan menatap Barra dengan isyarat 'apa itu benar?' dan diangguki dua kali oleh Barra.

__ADS_1


___


"Kenapa harus masuk penjara, masalah nya cuma sepele kan? Harusnya cuma dipecat gak perlu sampe masuk penjara karna hal sepele, Yangg" cerocos Jihan di dalam mobil.


"Hey hey sayang denger dulu hey, masalah dia itu bukan cuma buat kamu jatuh tapi dia juga mencuri perhiasan milik kamu yang ada di dalam kamar, bahkan sebelum kerja jadi pembantu dirumah kita, dia itu dulu nya pengedar sabu yang memang dicari oleh polisi" jelas Barra panjang lebar.


"Serius? Gak boong?" tanya Jihan terkejut mendengar penuturan Barra.


"Kamu kira aku lagi bercanda sayang?" tanya Barra dengan raut serius tanpa ada yang ditutupi.


"Kamu tau darimana soal itu?" tanya Jihan membuat Barra melirik sekilas. "Azkan, dia dapat identitas asli Laras yang ternyata buronan polisi" jawab Barra membuat Jihan mengangguk dan tak bertanya lagi.


"Bentar-bentar, kata kamu tadi Laras mencuri perhiasan aku di dalam kamar?" tanya Jihan mengingat penjelasan Barra tadi.


"Iya, mungkin kalo dia jual harga nya bisa ratusan juta" jawab Barra membuat Jihan terdiam sejenak.


"Kok diam sayang? Kalo pun dia udah jual tu perhiasan, gak apa-apa, entar kita beli lagi yang lebih mahal dari itu" ucap Barra merasa tak ada sahutan dari Jihan.


"Gak soal itu, aku mikirin mainan kinderjoy aku di ambil sama dia juga gak ya?" tanya Jihan dengan nyeleneh.


"Hah?" cengoh Barra terkejut menatap bumil yang berada di samping nya dengan mulut terbuka.

__ADS_1


END.. DAH CUKUP GAK ADA EXSTRA BAB YAA, AUTHOR TAMATIN DISINI, BYE BYE.. OH IYA, AUTHOR BAKAL FOKUS UJIAN DULU BARU UP MARRIED TO BADBOY HEHE>3


__ADS_2