
"Lo masih bisa bangun gak Bar?" tanya Jihan dengan pakaian lengkap, dia sudah bersiap untuk berangkat sekolah, ada rasa khawatir juga meninggalkan Barra dirumah sendirian.
"Enggak!" jawab Barra dengan ketus, bahkan dia tidur dengan memunggungi Jihan karena saking kesal nya dengan Jihan, sudah banyak kali Barra merayu Jihan agar tetap di rumah menemaninya tapi Jihan kekeuh.
Jihan menghela napas, entah sudah berapa banyak dia menghela napas pagi itu, sebenarnya dia pun tak tega meninggalkan Barra seorang tapi bagaimana lagi, Barra sakit dihari senin hari pertama pembelajaran.
"Gue telpon Azkan dulu ya, buat ambil surat sakit lo" ucap Jihan merogoh ponsel nya yang berada di nakas, Barra tidur di tengah tengah dengan satu guling yang dia peluk.
Tut Tut
π AzkanGan. "Ada apa wahai makhluk bumi, gue masih dalam mode ngantuk dan lo membangunkan gue"
jihansfthr "Waalaikumsalam,"
π AzkanGan. "Eh suara lo kek suara bidadari punya dugong, lo Jihan yak?"
jihansfthr "Iya anjirr.. orang tuh salam gorila dulu baru to the point" mencebik bibir kesal.
π AzkanGan. "Hehe.. assalamualaikum, ada apa nih.. tumben telpon gue?" tanya Azkan to the point.
jihansfthr "Lo bisa ke apart Barra gak?" sambil melirik Barra yang masih memunggunginya.
π AzkanGan. "Hoamm.. untuk?"
jihansfthr "Banyak cincong lo! biasa nya juga lo irit kenapa jadi cerewet gini sih kayak Barra"
π AzkanGan. "Mana gue tau, gue kan kasur" ucap nyeleneh Azkan.
jihansfthr "Minta digebukin emang ni orang, udah sih datang aja dulu, gue mau ngasih sesuatu buat lo"
π AzkanGan. "Ngasih apa emang?" tanya Azkan dengan antusias bahkan dia sampai jungkir balik dari kasur, untunglah kasur nya king size.
__ADS_1
jihansfthr "Ya.. kalo mau sih lo gampang tinggal ke apart nya Barra aja, gue tunggu" dengan nada mengancam.
Tut
Azkan mengumpat kesal karena telpon nya langsung di matikan sepihak oleh Jihan, tapi urung dia pun bergegas mandi dan bersiap ke apartemen Barra sebelum ke sekolah.
___
Ting Nong
Bel pintu apartemen berbunyi, Jihan segera keluar dari kamar dengan seragam yang masih melekat di tubuh nya, jam sudah sudah menunjukan pukul 06:50 kan hanya tersisa beberapa menit lagi bel berbunyi.
"Lama banget sih lo, kalo sampe gue telat masuk bakal gue salahin lo" sembur Jihan setelah melihat siapa yang menekan bel apartemen.
"Jangan salahin gue, salahin jalanan kenapa macet coba" balas Azkan, padahal dia tidak lewat jalan raya melainkan jalan tikus yang memang hanya diketahui oleh beberapa orang saja, tentu juga Barra dkk.
Jihan memutar bola mata malas, dia tak mau memperpanjang masalah yang akan membuat waktu semakin tak terasa.
"Nih" jawab Jihan menyerahkan sebuah surat yang ditutupi amplop polos dengan bertanda nama Barra Arrazi Fathan, dan tentunya yang menulis nama dan surat di dalam ialah Jihan.
"Apa nih? Barra Arrazi? kok malah ngasih ke gue sih?" protes Azkan menyodorkan kembali surat itu kepada Jihan karena merasa Jihan salah memberikan nya sesuatu.
"Barra sakit, dia gak bisa masuk." jelas Jihan dengan singkat dan mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompet yang dia bawa kepada Azkan.
"Okeh" seru Azkan menerima tanpa ragu uang yang diberikan oleh Jihan dan melangkah meninggalkan Jihan yang masih melongo tanpa mengucapkan salam sama sekali.
"Waalaikumsalam" teriak Jihan membuat Azkan menoleh dan menampilkan cengir kuda, tapi tak urung dia mengucapkan salam lagi dan dijawab anggukan oleh Jihan.
Tapi tiba tiba saja Azkan berhenti dan menoleh ke belakang, dimana Jihan mengikuti nya dengan menutup pintu bahkan mengunci dengan password yang memang sudah diberi tau oleh Barra.
"Loh?" Azkan mengernyit alis bingung, kemudian menggaruk tengkuk nya yang tiba tuba saja gatal.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Jihan menghadap Azkan dengan santai nya di menaikkan tas sekolah yang dia gantung di pundak kiri nya agak melorot.
"Lo mau kemana?" tanya Azkan balik, dia mengira bahwa Jihan tidak masuk sekolah karena menjaga Barra yang sedang demam.
"Ya sekolah lah mau apa lagi coba" jawab Jihan memutar bola mata jengah, Azkan beroh mangut mangut santai lalu melanjutkan langkah nya lagi.
Ting
Dering ponsel milik Azkan berbunyi sekali, Azkan merogoh ponsel bermerek realme terbaru dari kantong celana nya.
"Barra? kan si dugong lagi sakit" gumam Azkan memelankan langkah nya dan membuat dia dan Jihan beriringan dengan santai.
π¨ Barrarazithan.
suruh jihan balik!
"What ni orang nyuruh kek gini?" gumam Azkan geleng geleng kepala sambil fokus pada ponsel karena terlihat Barra sedang mengetik.
Sedangkan Jihan masa bodo, dia hanya fokus pada ponsel bermerek Vivo milik nya.
π¨ Barrarazithan.
atau kamar gue jadiin tempat sampah!
"Busett! ngancem ni dugong satu, daripada tu kamar jadi bahan amukan mending nyuruh Jihan balik ke sarang nya dah, auto runtuh ni apartemen bila Barra ngamuk" gumam Azkan geleng geleng kepala melihat tingkah Barra.
"Ji.. eum.. mending lo balik deh ke apart, lo gak usah sekolah aja deh" ucap Azkan dengan gugup, mereka masih berada di lantai tengah, kalau sampai runtuh kan bisa bisa dead semua penghuni nya.
Gue belum mau mati anjir, belum ngelamar Diba, lulus aja belum, masa udah keburu di kubur sih, kan gak seru nama nya. Batin Azkan.
"H.. hah?!"
__ADS_1