Suami Pilihan Bunda

Suami Pilihan Bunda
BAB 79


__ADS_3

Keesokan Harinya.


Kondisi Barra semakin membaik, bahkan sudah bisa dikatakan sehat, tapi ya aneh nya dari semalam Barra selalu ingin menempel pada Jihan dan tangan nya tak jarang bermain di kedua lonceng favoritnya itu.


Barra juga masih bisa melaksanakan kewajiban sebagai umat muslim, walau agak berkunang kunang kata Barra tadi malam, tapi saat subuh sudah terlihat seperti biasa.


"Jadi mau masuk sekolah gak? kalo gak ya tinggal sendiri di apart, gue mah mau sekolah" ucap Jihan sambil memasangkan dasi pada leher nya sendiri.


"Emang harus gitu lo sekolah by?" tanya Barra dengan tatapan memelas, entah darimana panggilan sayang itu selalu Barra ucapkan saat memanggil Jihan.


Lain halnya dengan Jihan yang masih lekat pada panggilan nama tanpa embel embel sayang atau apapun itu.


"Harus lah, kan sekolah itu buat nambah pendidikan bukan nambah uang bulanan" jawab Jihan dengan ngawur.


"Pengen ditambah uang bulanan nya hm?" goda Barra mendekati tempat Jihan berdiri di depan cermin almari.


"Hum.." jawab Jihan dengan nada imut.


"Bukannya 15 juta dah cukup ya sebulan sekali by?" tanya Barra dengan memeluk tubuh Jihan dari belakang, Jihan yang sedang memasang kerudung segitiga menjadi terganggu.


"Cukup, cukup banget, tapi kalo bisa sih ya tambah lagi" jawab Jihan diakhiri kekehan kecil sambil menusuk jarum pentol pada kerudung bagian leher nya.

__ADS_1


"Kenapa harus jarum pentol? gue jadi ketusuk kalo mau nyium lo by, pake peniti aja ya" ucap Barra mengambil satu peniti di meja rias samping almari.


"Sulit Bar" balas Jihan menghadap ke belakang.


"Sini biar gue yang makein peniti nya, dongak dulu ke atas" titah Barra menusukkan peniti pada tempat yang seharusnya ditusuk jarum pentol.


Jihan menuruti perintah Barra, mendongak ke atas menatap langit langit kamar yang polos tanpa hiasan atau dekorasi lain hanya lampu yang temaram.


"Emang mau tambah berapa uang bulanan nya hm by?" tanya Barra dengan perlahan menusuk jarum peniti agar tidak mengenai kulit Jihan.


"Em.. 20 juta? gimana" balas Jihan setelah menimbang nimbang, sejujurnya uang bulanan yang Barra berikan itu masih tersisa bahkan masih banyak tapi ya Jihan sebenarnya hanya bercanda.


"Seriusan? gak boong" tanya Jihan dengan ekspresi menggemaskan bagi Barra.


Cup


"Iyalah, gak boong gue mah.. hari ini gue gak ke sekolah dulu deh, gue harus ke kantor ada yang mau gue urus, udah hampir dua bulan gue gak ke kantor" jelas Barra setelah berhasil mengecup bibir manis Jihan.


"Berarti setelah antar gue lo langsung ke kantor gitu?" tanya Jihan dengan mata beberapa kali mengerjab lucu.


Barra tersenyum tipis dan mengangguk sebagai jawaban. "Nanti kalo dah pulang, call gue.. jangan pas di pos satpam di call, pas keluar dari kelas langsung call.. biar lo gak cape nunggu nya by" jawab Barra panjang lebar menasehati.

__ADS_1


"Lo nganter pake apa? motor?" tanya Jihan setelah mengangguk pelan menanggapi wejangan dari sang suami.


"Gak, pake mobil.. dah lama juga gue gak pake mobil" jawab Barra sembari melangkah ke almari yang berada di belakang Jihan dan mengambil setelan kemeja berwarna navy.


Jihan mangut mangut. "Ini lo pake dasi yang mana?" tanya Jihan setelah membuka almari paling bawah samping tempat pakaian dalam.


"Yang itu" tunjuk Barra kepada dasi berwarna putih, semenjak ada Jihan di apartemen itu seluruh pakaian di dalam almari selalu tertata rapi.


Selesai memasangkan dasi, kedua nya turun bersamaan dengan Jihan menenteng tas sekolah di kedua pundak nya. Sedangkan Barra hanya membawa diri nya dengan ponsel di tangan.


"Kita makan dijalan aja by, lo bawa bekal deh biar kita gak telat ke sekolah lo" ucap Barra membuat Jihan menghentikan langkah yang akan ke dapur.


"Iya, ini mau ambil kotak bekal, tadi udah gue siapin kok. niatnya emang gitu hehe" balas Jihan di akhiri cengengesan begitu juga Barra yang terkekeh.


"Jadi tadi tu lo nanya gue pake apa nganter lo itu karna udah nyiapin bekal by?" sahut Barra mengekori Jihan ke dapur, Jihan menjawab dengan deheman kecil karena sibuk memasukkan beberapa potong sandwich ke dalam kotak bekal berbentuk persegi empat.


"Yodah ayo" ajak Jihan membawa kotak bekal di tangan kiri, dan mengaitkan tangan nya pada lengan Barra agar berjalan beriringan, Barra mengecup pipi kanan Jihan sebelum melangkah.


Keduanya pun berangkat menggunakan mobil lamborghini aventador milik Barra yang berada di basemant apartemen, Barra memang jarang memakai mobil tapi bukan berarti dia sudah tak ingat bagaimana menggunakan mobil.


Selama perjalanan juga mereka diselingi dengan canda tawa dan Jihan juga kadang menyuapi sandwich pada mulut Barra saat Barra menganga tanda ingin makan begitu juga dirinya, hingga sandwich habis tanpa sisa.

__ADS_1


__ADS_2