
"Vovo yang sakit" bisik Barra tepat di samping telinga Jihan yang tertutup kerudung.
"Vovo siapa?" tanya Jihan tak mengerti arah pembicaraan Barra yang memang Jihan tak paham sama sekali.
"Mau tau?" tanya Barra dengan seringai di bibir.
Jihan bisa melihat seringai itu dari cermin, cukup takut tapi tetap berusaha tenang untuk berbalik karena rasa penasaran yang lebih tinggi dibanding ketakutan.
Cup
Jihan terbelalak saat berbalik menghadap Barra, Barra malah mencium bibir Jihan dari samping, bukan kecupan melainkan ******n kecil yang Jihan rasa kan.
Memejam kan mata menikmati sentuhan yang baru pertama kali diberi kan bagi Jihan dan Barra. Dan membalas pergerakan lembut dari Barra.
Merasa mendapat lampu hijau, Barra menambah sedikit gerakan lidah yang menyapu area bibir bawah dan atas milik Jihan yang sangat manis dan pasti nya lembut layak marshmello yang kenyal.
Menjulur kan lidah nya sedikit masuk ke dalam rongga mukut Jihan yang mulai terbuka, tanpa kedua nya sadari kini Barra terduduk di lantai dan mengangkat Jihan untuk duduk di pangkuan nya tanpa melepas ci*man panas mereka.
Satu tangan Barra menarik pinggang Jihan agar lebih mendekat sedang kan tangan satu nya berada di tengkuk leher yang tertutup kerudung, dan Jihan juga menaruh kedua tangan nya di pundak lebar Barra sesekali mencengkram menahan sensasi.
__ADS_1
Kepala Barra ke kanan dan ke kiri agar tidak bentrokan dengan hidung Jihan yang mancung, hingga ci*man itu terlepas karena kedua nya kehabisan pasokan oksigen.
Menghirup oksigen dalam dalam sambil memejam kan mata dan menyatu kan kening satu sama lain, dada Jihan naik turun mengatur napas yang bentrokan sama seperti Barra.
Masih di posisi sama, Jihan dan Barra saling pandang dengan napas sudah teratur, wajah kedua nya sama sama merah bak kepiting rebus yang baru di angkat.
"Vovo itu siapa?" tanya Jihan masih penasaran dengan Vovo yang di bicara kan Barra, dia tak bisa melupa kan nama Vovo selama adegan tadi.
Barra tersenyum kecil dan terkekeh pelan, menangkup kedua pipi Jihan dan menatap lekat netra mata Jihan yang berwarna hitam bulat dan besar.
"Vovo yang akan buat ada seseorang di dalam sini" jawab Barra terdengar ambigu, dia mengucapkan kata perkata sambil mengelus perut rata Jihan yang masih ditutupi kain tebal, seragam.
"Maksud nya? Ga paham" tanya Jihan memiring kan wajah polos dengan alis mengkerut tanda bingung.
"Itu Vovo" ucap Barra mengulur tangan kiri Jihan yang tegang di dekat celana rumahan yang pendek nya selutut, Vovo juga sedang tidur dan jangan di ganggu.
"Gu-gue.. Gue mau.. Mau.. Mandi iyah mandi" ucap Jihan gagu berdiri dari pangkuan Barra dan salah tingkah menuju kamar mandi sebelum itu dia mengambil handuk berwarna orange yang bertengger di gantungan handuk.
Barra terkekeh menatap punggung Jihan yang masuk ke kamar mandi, lalu menatap diri nya sendiri dari pantulan cermin, lebih tepat nya menatap bibir nya yang baru saja mencium Jihan.
__ADS_1
Dia tak menyangka akan melakukan hal di luar otak nya saat itu, awal nya dia hanya iseng ingin mencondong kan muka nya ke samping dan tepat saat Jihan berputar Barra juga maju, dan terjadi lah hal yang membuat wajah kedua nya merah.
Fantastic..! manis dan kenyal..! first kiss yang menakjubkan dan sangat bikin nagih. Batin Barra memegang bibir nya.
Sementara Jihan yang berada di dalam kamar mandi sama sekali belum membersih kan diri nya, dia hanya menatap pantulan diri nya di cermin yang ada di kamar mandi.
Dia menatap bibir nya yang sedikit basah dan sedikit membengkak akibat ulah Barra, wajah nya kembali merah ketika mengingat bagaimana dia juga menikmati bahkan membalas ciuman itu.
Ingin rasa nya Jihan berteriak sekeras keras nya agar menghilang kan ke gugup an nya ini, bagaimana nanti dia bisa keluar kalau gugup dan malu seperti sekarang? apa yang harus dilakukan Jihan agar bisa tenang seperti semula.
Menggeleng geleng kepala sejenak lalu membersih kan tubuh nya yang sudah lengket dan bau keringat.
"Jangan diingat! Please" seru Jihan memukul mukul pelan kening nya agar otak nya berhenti memutar memori tentang adegan yang baru terjadi.
Cukup lama Jihan berada di dalam kamar mandi, akhir nya dia keluar dengan handuk yang menutupi area sensitif dan rambut yang masih basah berantakan.
Barra yang tadi nya sibuk membawa dokumen di sofa langsung teralih kan ke Jihan yang melangkah ke almari di samping Barra.
Membuka almari dan mengambil pakaian yang akan dia pakai, dengan gugup dia membuka pintu almari bagian bawah yang berisi pakaian dalam, dan menyembunyi kan nya di dalam tumpukan pakaian yang dia bawa di tangan kiri.
__ADS_1
Barra memperhatikan lekat tingkah malu malu Jihan, lalu terkekeh pelan melihat Jihan melangkah kembali ke kamar mandi sambil meremas erat handuk yang dia pakai serta pakaian yang dia genggam.
Lucu. Batin Barra gemas.