Suami Pilihan Bunda

Suami Pilihan Bunda
BAB 38


__ADS_3

Akhir nya Mang Diman pun ketemu sedang mengobrol dengan satpam apartemen yang Barra tempati diluar apartemen dekat taman yang kursi panjang untuk beristirahat.


Disamping Mang Diman terdapat koper dan barang barang yang dibungkus kardus, Jihan dan Barra menghampiri Mang Diman serta satpam penjaga.


"Mang Diman" panggil Jihan membuat Mang Diman begitu juga satpam penjaga yang langsung menoleh serempak mencari ke arah sumber suara yang memanggil.


"Eh non Jihan sama den Barra" seru Mang Diman berdiri dari duduk nya dan menunduk sedikit memberi hormat kepada anak majikan serta menantu majikan nya.


"Assallamu'allaikum" salam Jihan dan Barra bersamaan dengan senyum tipis tak menghilang kan raut dingin. Satpam penjaga itu sudah mengenal Barra yang memang dingin tapi baru pertama kali melihat Jihan yang lebih dingin.


"Wa'allaikumsallam" sahut Mang Diman dan satpam penjaga itu membalas salam Jihan dan Barra.


"Maaf tadi Mang, ga liat Mang Diman dimana" ucap Barra tulus.


"Ga papa kok den, tadi emang salah saya juga ga panggil aden sama nona" balas Mang Diman menyalah kan diri nya yang memang benar dia tadi tak memanggil Jihan dan Barra karena asik mengobrol dengan satpam penjaga.


Barra menanggapi balasan Mang Diman dengan senyum kecil dan anggukan sekali, lalu menoleh ke samping kiri dimana berdiri nya Jihan yang masih memegang tangan nya.


"Koper nya biar Jihan yang bawa." cetus Jihan singkat menarik koper yang berisi pakaian nya ke samping kiri nya dengan tangan kiri, dia tak ingin melepas genggaman tangan kanan nya di tangan kiri Barra.

__ADS_1


"Trus kardus kardus nya?" tanya Barra menatap Jihan lembut. Jihan melirik Mang Diman dan Barra sekilas bergantian dengan raut datar.


"Angkat pake tangan masak pake perut, aneh" jawab Jihan langsung berjalan mendahului Barra dan Mang Diman, lalu berbalik lagi menatap datar Barra.


"Apa?" tanya Barra dengan wajah cengo saat mendengar jawaban singkat dan tanpa dosa dari mulut Jihan.


"Bawa! MangDim juga bawa" titah Jihan sedikit mendelik kan mata nya garang kepada Barra.


Barra dan Mang Diman pun menuruti karena tak mau melihat wajah garang Jihan yang sama seperti Bunda Lifah biasa nya yang mengoceh karena kesalahan yang hanya sebesar batu kerikil.


Pintu apartemen kembali terbuka dan Jihan yang memimpin, masuk ke dalam lift seperti awal dan berada di tengah tengah diapit oleh Barra yang berada di samping kanan dan Mang Diman di samping kiri.


Gimana amat dah punya anak majikan dan menantu majikan yang irit nya nauzubillah kalau ngomong.


___


Password kamar apartemen Barra sudah menyatu dan terbuka dengan didorong oleh Barra, yang paling terakhir masuk adalah Mang Diman yang hanya menaruh kardus barang barang Jihan di ruang tamu.


Setelah itu Mang Diman pamit untuk kembali ke rumah majikan nya, dan mendapat anggukan dari Barra sedang kan Jihan sudah fokus pada dekorasi apartemen Barra.

__ADS_1


"Ternyata selera kita sama" cetus Jihan sambil memperhatikan apartemen Barra yang nyaman dan luas.


"Sama apa nya?" tanya Barra tak mengerti maksud Jihan.


"Warna gelap" jawab Jihan menaruh telunjuk nya di dingin yang dingin lalu berjalan dengan jari telunjuk nya di dinding. Barra mangut mangut paham.


"Oh ya, itu.. Kamar lo dimana?" tanya Jihan mengingat bahwa dia belum menaruh koper nya ke kamar Barra.


"Di atas, pintu kamar coklat susu paling ujung" jawab Barra tanpa menatap Jihan, dia sibuk membuka penutup kaleng soda yang baru saja dia ambil di kulkas.


"Okeh" gumam Jihan masih bisa di dengar Barra.


"Lo bawa koper nya aja dulu, kardus nya entar biar gue yang bawa ke kamar" ucap Barra membuat Jihan menoleh dan menatap tiga kardus sedang yang berada di lantai ruang tamu.


Karena dapur dan ruang tamu dalam satu tempat tanpa sekat, serta meja makan yang bulat di samping pantry, membuat dekorasi semakin mewah.


"Bisa emang bawa langsung tiga kardus?" tanya Jihan dengan nada mengejek menatap Barra tengah meneguk minuman bersoda hingga sisa setengah.


"Bawa satu satu lah, kalo langsung tiga mana muat tu tangga yang cuma bisa di naikin ma dua orang kalo beriringan jalan nya" jawab Barra melirik tangga yang memang bentuk nya berliuk liuk dan hanya muat dua orang bila beriringan.

__ADS_1


Jihan menanggapi dengan mulut membulat singkat lalu melangkah lagi melanjut kan yang tadi sempat terhenti menuju tangga ke lantai dua.


__ADS_2