
"Iyain biar seneng" cebik Barra watados.
Tanpa menyadari bahwa Pak Satya sedang memperhatikan interaksi Jihan dan Barra dengan mulut sedikit terbuka.
"Non Jihan, jadi suami yang non maksud itu.. Den Barra?" cetus Pak Satya menghentikan obrolan Jihan dan Barra.
Pasutri baru itu saling pandang, lebih tepat nya Barra yang memandang Jihan dengan tampang bingung dan tanda tanya, sedang kan Jihan nampak tersenyum kecil lalu mengangguk pelan.
"Iya pak, tapi.. Bapak jangan bilang siapa siapa ya, rahasia biar ditutup dulu sampe nanti saat nya ke bongkar" jelas Jihan dengan senyum kecil dan suara pelan.
"Iya non Jihan, bapak akan tutup mulut soal rahasia ini.. Tapi kalau boleh tau, non Jihan sama den Barra cocok juga loh" balas Pak Satya dengan senyum manis.
Jihan tertawa kecil bersama Barra yang sudah mengerti apa yang terjadi, dia tak kan marah atau kesal karena rahasia itu terbongkar di depan Pak Satya, karena Pak Satya juga orang baik dan pasti nya kenal baik dengan Barra.
"Bapak bisa aja deh" sahut Jihan dengan malu malu.
___
Pasutri baru itu sudah berada di depan apartemen yang terlihat sederhana tapi tak menghilang kan kata mewah. Jihan memperhatikan apartemen yang tinggi menjulang.
"Masuk duluan kah? Gue mau naruh motor di basemant dulu" tanya Barra mengalih kan pandangan Jihan yang sedari tadi menatap apartemen.
"Gue ikut lo aja deh, takut sesat" jawab Jihan kembali menaiki motor sport Barra dan memasang helm kupu kupu itu, Barra menghidup kan mesin motor nya dan melaju ke basemant apartemen.
"Sesat? Lo kira ini hutan apa" cetus Barra turun dari motor sport setelah sampai di basemant apartemen, dan cahaya lampu yang temaram membuat wajah mereka tak terlalu nampak dan membuat Jihan menyala senter di ponsel yang bermerek Vivo.
Jihan cengengesan menampilkan deretan gigi putih, Barra menggandeng tangan Jihan dan berjalan keluar dari basemant menuju apartemen.
__ADS_1
"Lo ngasih tau Pak Satya?" tanya Barra setelah keheningan terjadi di antara mereka. Jihan menatap Barra yang berada di samping nya yang memegang ponsel nya yang menyala.
"Adiba, dia keceplosan" jawab Jihan singkat dan kembali memandang lurus ke depan. Barra mangut mangut mengerti.
Keheningan kembali terjadi hingga keluar dari basemant dan Bara mematikan lampu senter ponsel Jihan karena hari masih sore dan terang.
"Di apartemen ini ada berapa kamar?" tanya Jihan saat memasuki pintu yang bergeser dari tengah di kanan dan ke kiri secara otomatis setelah Barra mengetik password di dinding sebatas dada.
"Dua, kenapa? Mau pisah kamar? No! Ayah sama Bunda ga bolehin pisah kamar" jawab Barra sekaligus tanya, dia juga tak terima jika Jihan beda kamar dengan nya, masa baru merasakan malam pertama dengan berpelukan untuk pertama kali nya dan sekarang malah harus pisah kamar.
"Bukan gitu, gue kan cuma nanya, napa lo sewot amat dah.. Pake larang gue pisah kamar lagi trus juga ngapa bawa bawa Bunda Ayah? Lo ga mau pisah kan sama gue? Jujur ga lo!" balas Jihan memyipitkan mata dengan telunjuk sebelah kiri menoel noel pipi kiri Barra.
"Kalau iya kenapa?" tanya Barra dengan songong, dia mencoba menghilang kan kegugupan nya di depan Jihan sekarang, bahkan dia mencoba untuk menatap Jihan yang berada di samping nya dan sedikit menunduk.
Jihan menatap lekat Barra tanpa ada suara yang keluar dari mulut nya, jantung yang berdegub kencang dan tatapan Barra itu membuat nya diam membisu.
Pintu lift kembali tertutup, keheningan terjadi lagi di dalam lift itu.
Ya allah! Kenapa suasana gugup bat gini dah, ga kek biasa nya kalo bareng sama manusia jadi jadian berenam itu.
Yang dimaksud oleh batin Jihan dan Barra bersamaan itu adalah para sahabat nya yang memang jika berkumpul akan sangat receh.
Jihan merasa tangan mulai berkeringat berniat melepas genggaman itu tapi Barra malah mempererat genggaman agar tak terlepas bahkan genggaman itu disimpan di kantong jaket.
"Bar, panas tau" keluh Jihan mencoba menggerakkan tangan nya yang ada di dalam kantong jaket Barra.
Fiyuhh
__ADS_1
Barra meniup wajah Jihan tanpa dosa. Jihan memejamkan mata nya menghirup aroma mint yang selalu ingin dihirup nya tapi bukan dari tubuh nya, dia hanya ingin menghirup dari orang lain yang tentunya sudah SAHHHHH.
"Lo kenapa suka pake aroma mint?" tanya Jihan dengan kepala di pundak Barra mencari titik kenyaman.
"Karena gue cowok" jawab Barra singkat dan datar.
Plak
Sebuah geplakan diberi kan oleh Jihan pada Barra, dia begitu kesal setelah mendengar jawaban singkat dari mulut mahal Barra itu.
"Apa? Gue ga salah dong! Cowok tuh suka nya aroma mint atau ******* gitu, pake pomad yang bikin tegak berdiri" balas Barra membuat Jihan tertawa ngakak.
"Yayaya.. Terserah lo aja deh" sahut Jihan mengalah, dia sedang tidak ingin berdebat, mungkin dia mengantuk? Atau terlalu nyaman bersandar di pundak lebar milik Barra.
Pintu kembali terbuka di saat Jihan hendak menutup mata nya, dia pun melangkah bersama Barra digandeng Barra erat tentu nya.
Sesampainya di depan pintu apartemen, Jihan celangak celuguk ke sana ke mari seperti mencari sesuatu, dan Barra sedang membuka pintu dengan password serta kunci.
"Kenapa kok kayak orang kehilangan sesuatu deh lo?" tanya Barra setelah berhasil membuka pintu dan berlaik menghadap Jihan yang nampak cemas.
"Mang Diman naruh barang brang gue dimana? Masa beliau tau password apartemen lo" tanya Jihan balik dengan tampang cemas bahkan sampai menggigit kuku jari nya karena cemas barang barang nya hilang.
Barra menepuk jidat pelan merasa sangat teledor, dia tak memperhatikan sekitar tadi saat masuk ke apartemen, menutup pintu apartemen lagi dan menarik tangan Jihan yang sudah terlepas lalu sedikit berlari menuju lift yang tadi mereka naiki.
"Loh kok malah turun sih? Barang barang gue gimana? Hilang semua itu!" kesal Jihan tak mau ikut Barra masuk lift yang sudah terbuka sempurna.
"Ga hilang! Kayak Mang Diman di bawah deh.. Cuma kita ga liat beliau dimana" balas Barra memberi pengertian dengan nada lembut dan tatapan sayu.
__ADS_1
"Ayo! Mang Diman pasti bingung kenapa kita ga nyamperin beliau" ajak Barra menggandeng lembut tangan kanan Jihan. Jihan pun menurut untuk masuk ke lift dan akhir nya mereka pun sampai di lantai dasar.