Suami Pilihan Bunda

Suami Pilihan Bunda
BAB 57


__ADS_3

"Oh ya sampe mana tadi saya jelasin nya?" tanya Pak Yanto mencoba mengingat sampai mana dia menjelaskan tentang kedatangan dua bidadari SMA Dharma Bakti.


"Bapak mau ke kantor walikota, tapi bapak belum ngasih tau nama dua bidadari yang turun dari surga Dharma Bakti" jawab salah satu siswa yang terlihat mengedipkan mata sebelah kepada Jihan dan Adiba.


"Siapa juga yang mau turun dari surga kek Adam dan Hawa yang diusir sama Allah, lu kira SMA DB surga apa hah?!" gerutu Adiba terdengar seperti lirihan bagi siswa yang menjawab.


Siswa itu nampak tersenyum kikuk sambil menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal. Pak Yanto geleng geleng kepala setelah mendengar gerutuan Adiba dan tanggapan dari siswa bernama Ardi.


Jihan sama sekali tidak tertarik untuk menanggapi, dia seperti melamun dengan tatapan ke lantai yang tak terlalu mengkilap dan bersih.


Enggak mungkin Barra mabuk, kan dia selalu ada di dekat gue dan gue gak pernah lihat ada minuman beralkohol di kulkas atau dimana pun, semoga aja deh Barra bukan cowok pemabuk seperti diluar sana. Batin Jihan masih berpikir tentang botol alkohol di warung kopi Mpok Mina.

__ADS_1


"Perkenalkan ini Sadiba (menunjuk Adiba) dan yang ini Jihan (menunjuk Jihan) mereka akan menjadi juri dalam praktek memasak kali ini, dan kalau bisa diharapkan tidak ada yang membuat kejahilan" ucap Pak Yanto menekan kata kata terakhir sambil melirik sekilas Barra dkk secara bergantian.


Barra yang mendengar penjelasan dari Pak Yanto beringsut kesal karena sudah bisa ditebak siapa yang Pak Yanto sindir kalau bukan Barra.


"Elah Paaak, masa lalu itu jangan diungkit lagi napah" keluh Denis mewakili Barra, Azkan, dan Adnan yang hanya beringsut kesal.


"Masa lalu yang selalu saya ingat! yaaa kalian berempat bikin ulah dan selalu buat saya kesal sendiri" sembur Pak Yanto tanpa kalem lagi di tonton oleh Jihan dan Adiba.


"Lah kita mah buat masa masa SMA tambah seru, tujuh bulan lagi kan mau lulus" cerocos Denis lagi dengan santai, dia cukup sedih karena tak ada Cia.


"Diyakinin lah pak apa susah nya coba" cetus Ardi ikut nimbrung karena merasa tak ada sahutan lagi dari Denis atau yang lain.

__ADS_1


Pak Yanto menghela napas pelan lalu mengalihkan pembicaraan nya dan menatap dua bidadari cantik yang nampak cuek dengan obrolan kelas 12 ipa 1.


"Kalian berdua memiliki ekstra kesabaran yang banyak kan?" pertanyaan Pak Yanto yang tak terlalu penting itu terlontar secara tiba tiba.


"Tenang pak, soal sabar banyak kok stok nya, tapi stok sabar kami berdua bisa tambah banyak karena gak disuruh duduk di kursi murid" jawaban Adiba yang terbilang terlwat santai sambil melirik dua kursi samping Azkan yang kosong.


Pak Yanto menepuk jidat nya pelan, ternyata dua bidadari ini sama saja seperti empat siswa berkelakuan nakal di kursi bagian belakang.


"Ya sudah boleh duduk, silahkan. bapak akan menjelaskan lagi sedikit tentang materi praktek memasak hari ini, dan tolong pahami dan lakukan apa yang sudah kalian pahami, paham?!" ucap Pak Yanto mempersilahkan Jihan dan Adiba untuk duduk di kursi yang kosong.


Adiba mendorong tubuh belakang Jihan agar Jihan berjalan ke belakang ke tempat kursi yang kosong. Jihan mencebik bibir tapi tetap menurut.

__ADS_1


Jihan dan Adiba melewati Barra dan Azkan yang menatap gadis masing masing, sampai dua gadis berjilbab itu duduk dengan Jihan di pinggir dekat dinding.


Selama Pak Yanto menjelaskan materi di depan, ada dua cowok di kursi paling belakang tak menatap ke papan tulis, tatapan kedua nya kepada dua bidadari yang menjelma menjadi manusia berjilbab.


__ADS_2