Suami Pilihan Bunda

Suami Pilihan Bunda
BAB 128


__ADS_3

Paginya


"Udah siap?" tanya Barra sebelum melajukan mobil nya ke rumah sakit untuk cek kandungan, pertanyaan itu diangguki oleh Jihan dengan senyum tipis.


Mobil pun melaju meninggalkan rumah utama, dan menuju rumah sakit untuk melaksanakan tujuan mereka yang memang sedang tak ada kelas di kampus.


"By, tumbenan loh Pak Zaki izin gak masuk trus hari ini gak ada kelas sama sekali" oceh Jihan merasa bosan bila hanya diam di dalam mobil.


"Bagus dong, berarti habis ini kita bisa jalan-jalan. Dah lama juga kan gak jalan berdua eh bertiga deh sama yang dalam perut hehe" balas Barra diakhiri mengusap perut Jihan yang masih rata dengan sebelah tangan nya.


"Emang kamu gak ada kelas juga kah?" tanya Jihan menoleh dan menatap Barra yang menatap lurus jalanan.


"Gak usah mikirin hari ini aku ada kelas apa engga nya. Yang penting kita nanti jalan-jalan, sesekali gitu sayang kan udah lama kita gak jalan-jalan" jawab Barra membuat mata Jihan menyipit tanda curiga.


"Calon papa kok gini sih" kesal Jihan menghadap ke depan lagi dan bersedikap dada tanpa suara.


Barra melirik sekilas lalu kembali menatap lurus ke depan, hingga berhenti di lampu merah.


"Ngambek ya?" cetus Barra menatap wajah Jihan yang nampak cemberut, Jihan menyahuti dengan mengedikkan bahu acuh.


"Jangan ngambek lagi, gak baik buat dede bayi sayang. Entar kamu tambah jelek loh kalo ngambek, udah ya jangan ngambek lagi" rayu Barra malah mendapat decakan kesal dari Jihan.


"Tau lah, bodoamat" cicit Jihan mendaoat tepukan kecil di bibir dari tangan besar Barra.


"Ibu hamil gak boleh ngomong gitu" ucap Barra mendaoat lirikan sekilas dari Jihan, hanya sekilas.

__ADS_1


Barra menghela napas, perasaan baru saja tadi mereka akur sekarang kembali rusuh. Hanya karena Barra ada mata kuliah atau tidak hari ini.


Sebenarnya ada mata kuliah untuk Barra hari ini, tapi demi bisa membuat istri nya bahagia, Barra rela absen di mata kuliah hari ini. Kedua nya sudah mulai jarang jalan berdua, bahkan untuk mengobrol pun waktu nya hanya sedikit.


Sejak pagi hingga sore mereka berada di kampus, tak jarang juga Barra harus ke kantor dan lembur hingga larut malam, saat malam juga sangat sedikit waktu nya, tapi Barra tak pernah lupa untuk meminta jatah malam Jumat pada istri nya itu.


Ini adalah kesempatan besar bagi Barra, dia ingin mengajak istri nya menikmati perkotaan yang padat akan kendaraan, sebelum keposesifan mode on.


Tak terasa mobil Barra sudah sampai di depan rumah sakit, Barra segera keluar dan berputar, membuka kan pintu mobil untuk istri nya.


Mobil di urus oleh security yang memang sudah sejak tadi menunggu di samping Barra untuk memarkir kan mobil nya.


"Kita mau cek kandungan bukan mau lahiran by, ih" gerutu Jihan merasa Barra terlalu lebay saat hendak mengambil kursi roda.


"Biar kamu gak cape sayang" balas Barra tanpa dosa.


Setelah mendapat antrian, dan di suruh untuk menunggu bersama ibu hamil yang lain di kursi yang di sediakan. Barra hanya mengikuti kemana Jihan pergi.


Awal nya tak ada yang terjadi, Jihan yang celangak-celunguk ke kanan dan ke kiri memperhatikan orang lewat, sedangkan Barra yang asik memainkan ponsel nya.


Tanpa kedua nya sadari, ada seorang perempuan yang duduk nya tak jauh dari Jihan dan Barra yang memperhatikan dengan intens Barra, hanya Barra yang dia perhatikan.


Perempuan itu menggeser sedikit demi sedikit duduk nya hingga berdekatan dengan tempat duduk Barra yang masih tak menyadari sekaligus tak peduli.


Hingga perempuan itu memiringkan kepala nya, dan menyenderkan kepalanya di bahu Barra yang lebar dan tegap.

__ADS_1


"Eh?" kaget Barra segera bangkit dan membuat perempuan itu tersungkur karna tak siap menahan berat badan nya, Jihan hanya menoleh dengan ekspresi kaget.


Tanpa banyak bicara Barra duduk lagi di sebelah Jihan, jadilah Jihan penghalang antara pereouan itu dengan Barra yang nampak biasa saja walau sempat kaget.


"Mas" lirih perempuan itu menatap sayu Barra yang terhalang Jihan.


"Siapa ya?" tanya Jihan dengan sorot mata datar dan alis naik sebelah menatap perempuan yang seperti hanya fokus pada Barra.


"Mas" bukan nya menjawab perempuan itu malah menyebut 'mas' dengan kornea mata tertuju pada Barra, hanya Barra.


"Mbak siapa sih? Kok panggil suami orang dengan sebutan mas?" tanya Jihan to the point, dia juga kesal karena pertanyaan pertama nya di campaki sekarang juga tidak menanggapi.


"Mbak!" sentak Jihan menjetikkan jari nya di depan muka perempuan itu. Membuat perempuan itu nampak tersadar dari lamunan dan menatap Jihan kesal.


"Apa sih mbak? Ganggu aja, orang lagi ngeliatin suami aku juga" kesal perempuan utu membuat Jihan mengernyit alis heran.


"Suami mbak? Dia?" tanya Jihan menunjuk Barra yang juga menatap nya.


"Iyalah, mas kok mas kesitu sih. Sini mas aku mau nyender mas malah menjauh" jawab sekaligus ucap perempuan itu pada Barra yang bergidik bahu ngeri.


"Saya bukan suami anda" balas Barra segera berdiri dan menarik tangan Jihan agar mencari tempat duduk lain.


"Mas aku istri kamu loh mas, kok mas tega ninggalin aku sendirian?" cicit perempuan itu ikut berdiri dan membuat pasien dan suster yang berada di loby tunggu menoleh.


"Istri saya cuma satu, dan itu Jihan Safithri Karisma" cetus Barra sebelum melenggang pergi tanpa menanggapi teriakan perempuan yang mengganggu dengan suara cempreng nya.

__ADS_1


Maaf ya gaes lama gak up, novel author masih lanjut kok cuma lama, hehe maaf yaa..


__ADS_2