
"Tangan lo jangan main dong bro, kalo tanya ya tanya aja gak usah pake modus segala lo" cebik Adnan menatap remeh cowok yang sudah bangkit dengan mengusap pinggir bibir nya yang mengeluarkan darah.
Cowok yang bernama Faruq itu meringis, pukulan yang Adnan berikan sangat keras, membuat teman teman Faruq kaget dan bangun dari duduk nya.
"Emang lo siapa nya ni cewek hah?!" Faruq bertanya dengan tatapan menantang kepada Adnan dan dibalaskan decihan meremehkan.
"Dia calon pacar gue, jadi jangan pernah lo sentuh apa yang bakal jadi milik gue, paham?!" jawab Adnan dengan sombong mendekati Ersa yang sedari tadi menatap Adnan.
Faruq nampak berdecak kesal. "Alah palingan akal akalan lo doang kan? sebenarnya lo itu gak kenal sama ni cewek dan lo cuma niatan nolong kan" balas Faruq menebak.
Adnan menghela napas pelan lalu menatap Ersa dengan tatapan sulit di artikan. Hingga dalam sekejab bibir kenyal milik Adnan menempel pada pipi kanan Ersa yang terlihat cubby.
Cup
Deg
Mata Ersa membola tak percaya. Begitu juga dengan Faruq dan teman teman Faruq yang hanya menjadi penonton, sedangkan penjual warung sedang berberes kardus di belakang.
"Maaf" bisik Adnan di samping telinga Ersa yang tertutupi rambut berwarna ombre pirang. Ersa hanya diam tak bersuara bahkan tak bergerak saking shok nya.
"Mbak, ini uang kembalian nya ambil aja" teriak Adnan menaruh selembar uang berwarna biru di samping bungkusan softek yang sudah berada di dalam plastik yang berukuran sama dengan softek itu.
"Iya, makasih mas" sahut penjual perempuan dengan kepala menyembul dari balik tembok berwarna biru lautan.
__ADS_1
"Gue masih belum tua mbak" balas Adnan sebelum menyambet plastik dan menggandeng tangan Ersa untuk pergi dari warung dengan banyak cowok penggoda itu.
Ersa hanya mengikuti kemana Adnan membawa nya pergi, setelah di rasa cukup jauh dari warung itu, Adnan pun memberikan plastik berisi softek itu pada Ersa tanpa ada niat melepas genggaman tangan.
Sebelum Ersa menerima plastik itu, Ersa sempat bertanya yang membuat Adnan cengir kuda sambil cengengesan menampilkan deretan gigi putih nya.
"Kok lo bisa ada daerah sini sih? rumah lo kan bukan di komplek sini" tanya Ersa agak panjang itu membuat Adnan menatap Ersa gemas.
"Gue di daerah sini karna ini daerah rumah tante gue, memang sih rumah gue masih jauh bahkan beda kode pos sama lo tapi yang nama nya jodoh kan gak ada tau" jawab Adnan membuat Ersa mengalihkan pandangan nya.
"Maksud lo jodoh apaan dih?" ketus Ersa bertanya tanpa menatap Adnan yang terus tersenyum manis pada nya. Dibanding Barra Azkan dan Denis yang paling sering senyum ya Adnan.
"Lah trus kalo bukan jodoh apa dong, sampe gak mau ngelepas tangan gue, emang tangan gue apa hm?" goda Adnan melirik tangan nya dan tangan Ersa yang masih bertaut.
"Udah gak usah di lepas, gue anter lo sampe depan gerbang rumah lo, bahaya cewek malem malem keluar sendiri lagi" ucap Adnan tak bisa dibantah, Ersa mendengus pasrah.
"Lo seriusan punya tante yang tinggal di komplek ini, atau jangan jangan.." ucap Ersa sengaja berhenti dan melepas genggaman itu membuat Adnan ikut terhenti dan menatap Ersa tanda tanya.
"Jangan jangan apa?" tanya Adnan mengangkat kedua alis nya heran.
"Lo punya sugar baby ya yang tinggal di komplek sini" lanjut Ersa segera berlari menjauhi Adnan karena takut di amuk oleh Adnan.
Adnan menatap cengo Ersa sejenak lalu ikut berlari mengejar Ersa. "Heh sembarangan, kalo gue punya sugar baby di daerah sini juga itu lo Er" balas Adnan sambil berlari menyamai langkah lari Ersa.
__ADS_1
Ersa terhenti begitu juga Adnan. Kedua nya saling bertatapan sejenak lalu tanpa di duga Ersa malah menggeplak kepala Adnan.
"Umur kita berdua gak jauh beda woy! kalo lo mau punya sugar baby ya yang umur nya beda sama lo lah bukan samaan umur nya, dasar freak" ucap Ersa berlari kecil dan berbalik menatap Adnan yang terdiam.
"Eh? gak ada kek gitu Ersa" seru Adnan setelah mencerna perkataan Ersa yang nyeleneh.
Ersa memeletkan lidah nya mengejek Adnan. Adnan pun segera mengejar Ersa dan terjadi lah kejar kejaran. Hingga Ersa merasakan perut nya mendadak keram.
Kram karena terlalu banyak berlari dan saat ini juga keadaan Ersa yang halangan itu membuat nya merasa sakit di bagian perut bawah.
"Auww" rintih Ersa berjongkok menahan sakit.
Adnan pun berhasil berada tepat di samping Ersa dengan tatapan khawatir, Adnan berjongkok sambil mengelus rambut Ersa yang panjang.
"Lo gak papa?" tanya Adnan dengan nada khawatir dan tatapan yang juga sama. Ersa mengangguk lirih sesekali merintih, membuat Adnan tanpa pikir panjang langsung maju dan berjongkok lagi di depan Ersa.
"Naik!" titah Adnan sedikit menoleh ke belakang.
Ersa yang menahan sakit hanya bisa menurut tanpa berkata kata lagi, ditambah kaki nya yang pegal akibat berlari membuat nya tak sanggup untuk berjalan.
Adnan menggendong Ersa dari belakang, kedua nya dalam keadaan diam. Adnan yang gugup dan tidak tau harus bagaimana sedangkan Ersa berpikir bahwa Adnan pasti menyadari darah tembus hingga mengenai pakaian yang dipakai Adnan.
Baru kali ini ada cowok seperhatian ini sama gue selain Papi. Batin Ersa menatap wajah Adnan yang begitu dekat dengan wajah nya dari samping.
__ADS_1
Gue gugup cok jangan nyuruh gue ngebatin. Batin Adnan mengetahui alur cerita yang di buat author😏.