Suami Pilihan Bunda

Suami Pilihan Bunda
BAB 112


__ADS_3

Pengumuman sudah dimulai, dengan diawali pembukaan dan sambutan sambutan kecil dan barulah hasil yang paling tinggi di kedua SMA itu.


Jihan dan Adiba masuk peringkat satu dan dua di kelas mereka, tapi untuk satu tingkatan Jihan masih dibawah lima dan Adiba tepat angka sepuluh.


"It's okay, yang penting lulus yekan" cetus Adiba menyenggol lengan Jihan berniat memberi semangat. Jihan pun tersenyum dan merangkul Adiba.


"Lah trus ntu piala di tengah tengah buat apa?" tanya Cia merasa heran, mereka sudah tak memikirkan bagaimana Rangga dan Zila.


"Buat gue lah" jawab Ersa dengan songong nya membusungkan dada nya ke depan dan menepuk-nepuk pelan.


Tuk


Adiba mengetuk kepala Ersa. "Lo makin ke sini makin songong ya, perasaan lo tu sifat nya cuek datar dingin binti pedasdeh harusnya" ucap Adiba mencibir.


"Lah mana gue tau, semenjak temenan sama lo pada gue jadi cerewet" balas Ersa mengedik bahu acuh.


"Kita temenan dah dari kecil anjir, pas masih bau kencur.. tapi lo baru baru aja nih cerewet, palagi sering nanggapin ocehan dengan kata kata pedes" timpal Cia mendapat anggukan dari Jihan dan Adiba.


"Atau jangan jangan lo cerewet gini karna lo.. lo suka Adnan ya?" tanya Adiba sengaja berteriak agar ada yang mendengar, dan benar saja ada beberapa yang menoleh dan menatap heran dirinya.


Jihan dan kedua sahabat nya kalang kabut dan merasa malu di tatap oleh para murid bahkan juga ada guru yang tak sengaja mendengar teriakan Adiba.


Kemudian, Ersa sedikit mundur dari belakang tubuh Adiba dan memperagakan sesuatu yang membuat tatapan dari mereka beralih ke depan lagi.


Jihan dan Cia menahan tawa di samping Ersa, bagaimana tidak Ersa memperagakan layak nya orang gila dan menaruh telunjuk nya di kening samping dan sedikit miring.


"Ni orang stres" cicit Ersa tanpa suara, tapi dia berusaha sejelas mungkin agar orang orang yang menatap mereka itu paham.


Adiba menghadap ke belakang dan menatap tajam ketiga sahabat nya yang sedang berusaha menahan tawa.


"Klean ngejek gue ya?" curiga Adiba memicingkan mata nya.


Ketiga menggeleng serempak dan mulut sama rapat tak ada yang bersuara.


Adiba oun kembali menatap depan dengan bersedikap dada, lalu menarik Jihan agar berdiri di samping nya.


"Napa sih?" tanya Jihan tertarik.


"Gak ada papa" jawab Adiba enteng dan kembali bersedikap dada.


Jihan mengelus dada nya sambil mengucap sabar dan istighfar. "Nasip punya bestie yang kek begini" gumam Jihan samar samar didengar oleh Adiba.

__ADS_1


"Apanya?" tanya Adiba sedikit bergeser tempat berdiri ke dekat Jihan.


"Gak ada" jawab Jihan enteng.


___


Malamnya.


Jihan dan Barra sudah berada di dalam kamar dengan posisi sama sama telentang di ranjang, kedua nya begitu lelah seharian tak ada bantal.


"By" panggil Jihan dengan kepala berada di lutut Barra.


"Hm" sahut Barra berdehem dengan mata terpejam.


"Gue dah siap kok" cetus Jihan membuat mata Barra terbuka walau sangat berat dan sudah merah tapi Barra berusaha buka mata nya.


"Maksudnya dah siap apa yank?" tanya Barra tak mengerti ucapan Jihan yang ambigu.


"Ya.. udah siap di.. di.. huni sama Vovo" jawab Jihan dengan lirih tapi masih bisa di dengar oleh Barra. Barra nampak terkejut tapi detik kemudian dia bangun dari tidur nya dan tersenyum menatap Jihan yang masih tiduran di kaki nya.


"Vovo penghuni tetap" balas Barra dengan mata sayu menahan ngantuk, Jihan mengangguk membenarkan balasan Barra.


Cup


"Tapi.. aku gak minta sekarang, besok kita harus ke rumah Ayah Bunda" lanjut Barra membuat Jihan berfikir.


"Lo mau buat kenangan dimana? Di apart yang gak tau akan kita huni sampe kapan? atau rumah Bunda Ayah tepat dikamar pengantin?" tanya Jihan setelah berfikir.


"Dirumah Bunda Ayah aja deh, soalnya kita gak bisa selama nya tinggal di apartemen. Rumah utama pasti akan jadi tempat hunian kita selama nya" jawab Barra menjelaskan dan diangguki Jihan.


"Malam ini, kita istirahat dulu, besok kita selama tiga hari di rumah Bunda Ayah, dan.. siapin tenaga ya buat besok malam sayang ku" ucap Barra membuat Jihan nampak senyum senyum sendiri.


Bukan maksud menggoda, tapi memang kenyataan nya seperti itu, Barra sudah tak bisa menahan lebih lama lagi, tapi dia juga masih punya perasaan, kalau dia melakukan hal itu sekarang, maka akan sangat singkat, karena kedua nya sama sama mengantuk.


Memperbaiki posisi tidur masing masing dan saling berhadapan dengan berpelukan erat, dan sama sama pergi ke mimpi dengan senyum menghiasi.


___


"Usia kehamilan nya sudah 10 minggu, dan tulang bayi di dalam kandungan sudah mulai terbentuk. penampilannya juga sudah semakin mendekati bentuk manusia seutuhnya. tulang rawan sudah terbentuk dan lekukan kecil di kaki yang akan menjadi lutut dan pergelangan kaki, sudah mulai tumbuh, nona juga harus jaga pola tidur, rutin minum putih ya nona, oh ya apa nona sudah pernah mengalami mual mual atau merasa perut nya kembung?" jelas dan tanya dokter diakhir.


"Baik dok, untuk mual mual sudah tapi cuma waktu pagi dok, saya juga sering kentut dok hehe" jawab gadis yang ditanya dari brangkar.

__ADS_1


"Hm baiklah.. itu normal nona, dan pasti nya mual mual dan kembung itu nanti akan hilang dengan sendiri nya kok nona" balas dokter itu tersenyum ramah.


"Oh ya nona, saya akan memberikan nona vitamin prenatal dan ini harus di minum secara rutin ya nona" ucap dokter itu menuntun gadis untuk bangun dari brangkar.


"Em.. dok jangan panggil saya nona, panggil aja Zila.. gak enak hehe" balas gadis itu yang ternyata adalah Zila, dia datang ke rumah sakit tak sendiri, dia bersama Rangga hanya saja Rangga berada di luar.


Dokter itu menatap Zila dengan tatapan sendu dan senyum kecil, lalu mengangguk mengiyakan apa yang dikatakan oleh Zila.


"Dok, boleh nanya gak?" tanya Zila dengan wajah imut membuat dokter lagi lagi tersenyum kecil dan mengangguk tanpa suara.


"Perut Zila kok gak besar besar ya? eh enggak deh enggak besar amat juga sih ini, ini aja udah gak muat rok sekolah Zila" tanya Zila dengan wajah imut.


Dokter itu tersenyum sebelum menjelaskan. "Perut Zila akan membesar nanti saat kehamilan Zila memasuki bulan ke-2" jawab dokter itu gemas.


"Bulan ke-2 maksud nya dokter?" tanya Zila dengan polos nya.


"Bentar lagi usia kehamilan Zila masuk ke bulan ke-2 kok, nanti setelah usia kandungan Zila 12 minggu, perut Zila pasti makin besar" jawab dokter diakhiri dengan terkekeh sendu.


Siapa yang berani menodai gadis polos ini yang tidak tau tentang urusan seperti ini ya tuhan, semoga saja orang yang telah berbuat pada gadis malang ini mau bertanggung jawab. Batin dokter berdoa dan ikut kasihan melihat Zila.


"Ini kamu tebus obat nya di apotek depan ya cantik, ingat pesan dokter tadi jangan lupa minum air putih banyak banyak dan selalu rutin minum vitamin nya, oke?" ucap dokter sebelum mengakhiri obrolan dengan Zila.


"Baik dok, makasih dokter, Zila pamit dulu" pamit Zila beranjak dari kursi dan tersenyum kepada dokter sebelum membuka pintu.


Zila mengingat kejadian di rumah sakit tadi siang, kini dirinya berada di kamar pribadi nya dengan tangan sebelah memegang vitamin yang ditebus di apotek tadi.


"Banyak juga ya vitamin yang diminum buat ibu hamil" monolog Zila geleng geleng kepala melihat betapa banyak nya vitamin.


Ceklek


Tiba tiba pintu kamar Zila dibuka tanpa izin, membuat Zila refleks menyembunyikan semua bungkusan vitamin ke belakang tubuh nya.


"Ibu? kenapa gak ketuk dulu sih? bikin kaget Zila aja deh ibu" keluh Zila mengelus dada nya pelan dan bersandar di ranjang dengan pelan.


Ibu nya Zila menatap Zila dengan tatapan sulit di artikan. Ada tatapan kecewa dan sedih yang terpancar di bola mata ibu Zila.


"Kenapa kamu menyembunyikan semua ini dari ibu, nak?" tanya ibu Zila dengan suara bergetar.


Zila mengernyit alis heran. "Maksud ibu apa? Zila gak paham?" tanya Zila balik memang tak mengerti maksud ibu nya.


"Ini punya kamu kan?" tanya ibu Zila menunjukkan sebuah benda yang panjang tapi kecil itu di tangan nya dengan bergetar.

__ADS_1


Deg


__ADS_2