Suami Pilihan Bunda

Suami Pilihan Bunda
BAB 90


__ADS_3

Jihan mengumpat kesal karena tak ada yang membukakan pintu untuk diri nya masuk, bahkan terlihat sangat sepi mungkin karena sudah malam, tapi ini belum terlalu malam.


"Ini pada kemana sih? gak ada yang mau bukain pintu buat gue kah? oh iya lupa gue kan tau password nya, ih kok gue bege kali" gerutu Jihan memukul pelan kepala samping nya merasa seperti orang bod*h.


Jihan pun menekan password apartemen, dan berbunyi. Memegang knop pintu dan mendorong pintu itu hingga akhirnya dia bisa masuk.


"Barra!" teriak Jihan cukup keras menggema di dua lantai itu.


Tapi tak ada sahutan, yang membuat Jihan melangkah menaiki tangga ke lantai dua, pikiran nya cuma satu kamar yang sudah tiga hari tak dia tempati.


Dengan tergesa-gesa Jihan naik tangga, dia takut terjadi sesuatu pada Barra. Hingga sampai di lantai dua, Jihan berlari dengan napas tersengal-sengal ke kamar yang berada di paling ujung.


Brakk


Jihan mendobrak pintu dengan keras membuat Barra yang tengah memanjakan Vovo tersentak.


Mata Jihan membola dan berbalik badan seketika melihat pemandangan yang tak mengenakkan, walau tak ada wanita di dalam sana tapi Barra tak memakai celana karena Vovo yang tegang.


"J-jihan" lirih Barra langsung memakai boxer yang tergeletak di lantai sembarangan.


Barra berlari ke arah Jihan yang masih membelakangi nya, hanya dengan memakai kaos oblong berwarna orange dan boxer ketat yang masih tegang dan sekarang Barra harus mengontrol hasrat nya.


Sesaat Barra berhenti di belakang Jihan yang memejamkan mata nya tak ingin mata ternodai akibat kelakuan Barra.


"Jihan" lirih Barra membuat Jihan membuka mata nya perlahan.


Membalikkan badannya menghadap Barra, dengan tampang susah di arti kan. "Menjijikan!" satu kata yang keluar dari mulut Jihan seperti gumam tapi dapat didengar oleh Barra yang menatap nya sendu.


Berbalik lagi ke arah pintu dan berlari keluar kamar, tapi saat di ambang pintu kamar Barra segera menarik tangan Jihan agar Jihan tak kabur.

__ADS_1


"Ji, gue minta maaf" cicit Barra tanpa melepas genggaman tangan nya pada Jihan.


"Tadi itu-" ucap Barra terhenti karena Jihan menyentak tangan nya dengan kasar dan kembali berlari keluar kamar.


Kata Denis Barra mau bun*h diri lah itu apa? malah manjain Vovo, dasar!. Batin Jihan mengumpat kesal karena merasa dibohongi.


Barra ikut berlari mengejar Jihan tanpa rasa malu karena hanya memakai boxer dan kaos tipis, tapi ini kan di dalam apartemen jadi ya Barra tak ada malu nya:).


Grep


"Ji, plis" lirih Barra setelah berhasil memeluk Jihan dari belakang.


Jihan mencoba berontak tapi tenaga tak sekuat Barra, akhirnya dia mengalah dan membiarkan Barra memeluk nya dari belakang.


"Ji, plis dengerin gue dulu" gumam Barra mengecup pundak Jihan beberapa kali, agar Jihan mau berbicara barang satu kalimat.


Barra sudah merindukan aroma wangi Jihan yang membuat nya selalu gelisah bahkan pernah membayangkan bahwa guling itu Jihan.


"Gue tau gue salah, gue gak sengaja Ji, emosi gue udah gak bisa gue tahan setelah tu orang nyebut gue perebut, gue gak terima dengan panggilan itu Ji" jelas Barra membuat Jihan melirik nya sekilas lalu kembali menatap lurus ke arah balkon.


Karena lokasi balkon dan kamar terpisah, balkon berada di tengah saat naik ke lantai dua pasti yang pertama di lihat ya balkon yang cukup besar.


"Gue paham kenapa lo gak ada hubungin gue selama tiga hari, lo pengen gue ngerti kan kalo emosi gak harus pake kekerasan?" lanjut Barra setelah mengecup kembali pundak Jihan.


Karena tinggi Jihan hanya sebatas pundak Barra, jadilah darah sedikit menunduk untuk mengecup pundak Jihan. Jihan nampak tersenyum tipis dan samar yang tak bisa dilihat oleh Barra sendiri.


Ternyata tiga hari cukup buat sadar ya Bar, syukur lah. Batin Jihan lega mendengar penjelasan Barra, tapi tiba tiba otak nya mengingat berita yang sedang heboh di SMA Dharma Bakti dan SMA Merdeka.


Jihan melonggarkan pelukan erat Barra dan menghadap Barra yang nampak sendu menatap nya. Dengan alis bertaut garang Jihan bertanya.

__ADS_1


"Trus itu siapa cewek yang lo bonceng haa?!" tanya Jihan dengan berkacak pinggang, pertanyaan itu membuat dahi Barra berkerut bingung.


"Cewek? yang mana?" tanya Barra balik merasa tak pernah membonceng cewek lain selain Jihan.


"Alah! pura pura lupa ya lo Bar? kemarin lo jalan jalan kan sama cewek lain disaat seharusnya lo ngejelasin apa yang lo buat itu salah" geram Jihan berdecak kesal.


Barra makin bingung. "Kapan? gue gak pernah ngebonceng cewek lain selain lo Ji" bantah Barra tak terima dituduh bersama dengan cewek lain, padahal dari semalam dia tak keluar dari apartemen.


"Bullshit! lo udah punya cewe baru kan? cewek yang lebih cantik dari gue dan lebih dari gue semua nya" tuduh Jihan menahan air mata agar tidak menetes.


"Ya allah Ji! gue gak pernah berpikir buat nyari cewek baru" balas Barra dengan frustasi saat mendengar isakan tangis Jihan.


"Hiks hiks.. lo dah punya cewek baru, cewek baru" gumam Jihan menunduk mencoba tak menangis.


"Sejak kapan ya allah gue punya cewek baru? astaghfirullah" sahut Barra berbolak balik sambil mengacak rambut nya frustasi karena di tuduh Jihan.


"Lo dah gak peduli sama gue lagi, lo gak cinta ma gue lagi" cicit Jihan sebelum melangkah turun tangga, diikuti Barra yang mencoba menghalangi Jihan agar tidak pergi.


"Hey hey! lo kenapa sih? gue gak paham ya allah, coba jelasin lebih detail lagi biar gue paham maksud lo apa ya sayang, plis jangan kayak gini lagi" ucap Barra memegang tangan Jihan setelah berada di lantai satu.


Jihan menatap netra mata Barra sejenak, dengan mata merah karena menangis dia menjelaskan apa yang dia ketahui dan dia dengar tentang berita heboh itu.


"Tadi pagi, di mading sekolah ada berita terbaru, dan itu tentang lo hiks" ucap Jihan setengah, Barra menuntun Jihan untuk duduk di sofa ruang tamu.


"Berita gue tentang apa hm?" tanya Barra dengan lembut.


"Ten-tentang.. kata nya lo kemarin boncengan trus jalan jalan sama cewek" jawab Jihan setelah tangis nya mereda dan berhenti sesegukan.


"Cewek nya lo kenal apa gak hm?" tanya Barra lagi mencoba mencari tau, karena dia memang belum mengetahui berita heboh itu.

__ADS_1


"Gak, karena foto di mading itu diambil dari belakang" jawab Jihan dengan pelan dan menatap kaki Barra yang tak memakai alas kaki.


__ADS_2