Suami Pilihan Bunda

Suami Pilihan Bunda
BAB 145


__ADS_3

"Ma, mau adek" cetus Aarav dengan santai sambil memperbaiki tataan selimut yang menutupi tubuh nya.


Jihan yang bersiap membacakan dongeng sebelum tidur untuk Aarav dibuat terpaku, permintaan putra nya cukup sulit untuk dikabulkan.


"Abang serius?" Jihan bertanya untuk memastikan permintaan Aarav hanya bercanda.


"Iya Mamaaa.. Abang mau adek maa, adek nya cewek biar camtik" jawab Aarav dengan yakin, Jihan menatap putra nya dengan tatapan sulit diartikan.


"Kita tunggu izin dari Papa dulu ya Bang.." ucap Jihan membuat Aarav memanyunkan bibir nya cemberut.


Ceklek


"Loh kirain dah tidur si Abang.." cetus Barra setelah membuka pintu kamar Aarav dan melihat mata putranya yang masih terbuka lebar walau dengan bibir manyun.


"Papa!.." seru Aarav nampak berbinar.


"Kenapa Bang? Kok belum tidur sih?" sahut Barra mendekati kasur bergambar batman.


"Papa, Abang mau adek" pinta Aarav dengan berbinar semangat mengatakan nya kepada Barra, reaksi Barra tentu saja sama seperti Jihan.


"Biar bisa di cubit, kayak adek nya Rano, adek nya cewek Pa, cantik tau Pa" oceh Aarav, sekarang Jihan dan Barra paham kenapa Aarav minta adek kepada kedua nya.

__ADS_1


"Rano teman Abang itu ya? Yang sering kesini main sama Abang?" tanya Jihan diangguki oleh Aarav.


Jihan mendekati tempat Barra yang berada di ujung kasur, lalu berbisik. "Kamu bilangin ke Abang deh, kan kamu tau aku belum siap hamil dalam waktu dekat"


Barra dan Jihan saling tatap sejenak, kemudian dengan anggukan pelan Barra mengiyakan bisikan Jihan yang meminta untuk menolak permintaan Aarav.


"Bang.."


"Pa.. Abang mau punya adek biar bisa tau rasanya jagain adek Pa.. Abang gak mau dipanggil anak manja karna belum punya adek.." sahut Aarav memotong ucapan Barra.


"Boleh ya.."


"Ya? Ya? Ya?"


"Abang.."


"Boleh kan Pa?" Aarav menatap balik Barra dengan tatapan penuh harap.


Barra seketika mengangguk dengan helaan napas, bila Aarav sudah mengeluarkan tatapan puppy eyes nya, sudah tak bisa bagi Barra untuk menolak.


Kemudian menatap Jihan yang juga ikut menghela napas. Aarav yang senang mendapat persetujuan dari Barra langsung berjingkrak bahagia di atas kasur.

__ADS_1


"Ditunda dulu seneng nya, tidur Bang.. Udah malam" tegur Barra langsung dituruti oleh Aarav yang masih terlanjur bahagia.


Jihan berjalan keluar dari kamar Aarav tanpa berkata-kata, membuat Barra menghela napas, kini dirinya harus membujuk Jihan yang sedang ngambek.


Mematikan lampu dan menutup pintu kamar dengan pelan, Barra melangkah ke kamar yang berada diujung, lalu memutar knop.


"Sayang.." panggil Barra setelah melihat kondisi kamar yang sudah gelap gulita.


"Aku tau kamu gak setuju, tapi kalau aku nolak permintaan Aarav nanti dia juga marah" cetus Barra sembari duduk dipinggir kasur.


"Aku bingung Yang.. Aku gak mau egois yang gak mikirin kamu juga, aku paham kok kamu belum siap, Aarav juga baru 4 tahun, rasanya cepet banget dia udah besar" ucap Barra lagi dengan panjang lebar.


Barra menghela napas merasa tak ada yang menyahut sama sekali.


Ceklek


"Loh kirain kamu bakal hidupin lampu nya By" cetus Jihan dari pintu kamar sambil menghidupkan lampu kamar yang awal nya gelap gulita.


"Lah? Kamu dari tadi gak ada ke kamar?" tanya Barra dengan muka terheran-heran.


"Iya, aku tadi ke dapur dulu, ambil minum sekalian ngecek kompor udah dimatiin apa belum.." jawab Jihan dengan santai.

__ADS_1


Barra menghela napas dengan kasar, ternyata sedari tadi dia mengoceh sendirian dengan keadaan lampu gelap.


...See you bab selanjutnya ✨...


__ADS_2