
Sebulan sudah Jihan dan Barra resmi menjadi suami istri, walau di awali dengan ke terpaksaan bukan berarti mereka tidak peduli dengan pasangan nya, mencoba untuk mengikhlas kan status mereka.
Kini, Jihan dan Barra sedang sholat berjamaah di dalam kamar, sholat maghrib yang hanya tiga rakaat dalam satu sholat nya, lantunan ayat ayat suci al-qur'an Barra ucapkan di setiap rakaat, di amini oleh Jihan yang sebagai makmum.
Setelah salam, Jihan mengulur kan tangan nya pada Barra untuk mencium tangan Barra pertanda dia menghormati suami, dan di balas Barra kecupan kening tanda menyayangi istri.
Selama sebulan terakhir ini juga mereka masih belum melakukan karena sibuk nya pelajaran, dan Barra yang masih sering keluar malam untuk ke arena tiap minggu.
"Bar, lo udah ngerjain tugas lo belum?" tanya Jihan sambil melipat mukena nya dalam sajaddah yang dia pakai lalu menggulung bersama sajaddah itu.
"Tau darimana kalo gue ada tugas?" tanya Barra balik, dia tak pernah bilang kalau ada tugas yang belum dia kerja kan.
"Tuu" jawab Jihan menunjuk meja belajar yang masih terdapat buku belajar yang berserak an dengan dagu nya.
__ADS_1
Barra menyahuti dengan mulut membulat, dan berjalan menuju meja belajar untuk melanjut kan tugas nya.
Selama Barra mengerja kan tugas nya, Jihan terus menatap nya dari sofa yang berada di belakang Barra, karena meja belajar bersebelahan dengan nakas dan ranjang dan sofa bersebelahan dengan almari tinggi dan panjang.
"Tau gue kalo gue itu ganteng" cetus Barra membuat Jihan terkejut dan membuang muka ke sembarang arah, padahal Barra hanya berucap tanpa menatap ke belakang.
"Dih geer nya melebihi gedung bertingkat" cibir Jihan bersedikap dada dengan wajah merah semerah tomat tapi tak di ketahui oleh Barra. Barra terkekeh mendengar cibiran oleh istri tercintahh.
Barra membalik kan tubuh nya dengan memutar kursi yang seperti karyawan kantor yang bisa berputar.
"Gue emang cantik, lo ga usah natap gue tajam gitu, gue ga bakal ke cantol ma yang lain, kan gue udah jadi milik lo" ucap Jihan memggoda Barra dengan mengedip kan mata sebelah.
Barra menatap datar Jihan saat mendengar ucapan Jihan.
__ADS_1
"Lo belum jadi milik gue, karena kita belum ngelakuin yang lebih int*m dari pelukan dan ciuman" balas Barra beranjak dari kursi nya mendekati Jihan yang masih menyisir rambut.
Tatapan menggoda dan ingin menerkam tersirat di mata tajam Barra, dengan sengaja Barra melepas kaos baju oblong yang dia pakai di hadapan Jihan.
Lalu duduk di sebelah Jihan, dan merapat kan tubuh nya pada Jihan yang terlihat tegang tapi tangan nya tetap menyisir rambut nya.
Jihan mendorong dada bidang Barra dengan telunjuk nya agar menjauh dari lengan nya. Tapi bukan nya menjauh Barra malah dengan sengaja menggenggam telunjuk Jihan lalu mengecup ujung dengan lembut.
Jihan menghindari kontak mata dengan Barra karena tak mau tergoda dengan tatapan yang membuat nya luluhan seperti biasa nya, walau hanya sebatas cium*n tapi sudah membuat nya terbang.
Setelah mengecup telunjuk Jihan, Barra menaruh telapak tangan Jihan di dada bidang berotot nya, telapak tangan yang terasa hangat dan halus di dada bidang nya.
"Bar.. lo ngapain?!" sentak Jihan menarik tangan nya yang berada di dada bidang Barra.
__ADS_1
"Cuma kepanasan" balas Barra beranjak dari sofa dengan santai menuju meja belajar lagi tanpa ada niatan memakai kembali kaos oblong sambil mengerja kan tugas yang baru selesai setengah.
Oh allah..! apa tadi? kepanasan? dasar freak..! Umpat Jihan dengan tampang kesal karena telah di kerjai oleh Barra.