
Jihan dan Barra sudah berada di halaman rumah Ayah Bunda yang masih terlihat sepi tapi memiliki suasana nyaman.
"Gak ada yang berubah" cetus Jihan menatap sekeliling dari dalam mobil.
"Sama kayak penghuni nya" timpal Barra membuat Jihan menoleh dengan alis mengernyit heran.
"Maksudnya?" tanya Jihan.
Barra melirik sekilas Jihan, lalu menggeleng. "Gak papa, yok keluar.. Ayah Bunda kek nya lagi di halaman belakang jadi gak dengar kita datang" elak Barra ditanggapi anggukan oleh sang istri.
Jihan tak mempermasalahkan timpalan Barra lagi, kedua nya keluar bersamaan dan masuk ke dalam rumah sambil mengucap salam.
"Assalamualaikum" teriak pasangan yang berada di ambang pintu secara bersamaan tanpa janjian.
"Waalaikumsalam, eh Non Jihan sama Den Barra.. Ayuk masuk Non Den jangan berdiri disitu aja" balas Bi Sulis, salah satu pembantu dirumah ini.
"Bunda Ayah mana Bi Sul?" tanya Jihan celangak celunguk mencari keberadaan orang tua nya yang sangat dia rindukan, padahal tiap minggu dia kesini setelah menikah tiga bulan bersama Barra.
Barra salah fokus dengan panggilan Jihan pada pembantu itu. Seperti nya Jihan mempunyai kenakalan yang sama seperti dirinya, memendekkan nama panjang.
"Di halaman belakang Non.. Non masih gak lupa sama nama itu, aduh Non jangan diingat lagi ya Non.. Bibi jadi malu" jawab Bi Sulis menunduk malu.
Jihan menggigit bibir bawah merasa salah berbicara dan berfikir. "Kenapa harus malu Bi Sul, kan nama Bibi memang Sulis, tapi karna kepanjangan jadi ya Jihan pendekin" sahut Jihan dengan enteng.
"Aduh terserah Non aja deh, Bibi mah pasrah aja" balas Bi Sulis tak bisa melawan anak majikan nya yang memang tak bisa dikalahkan, berbeda dengan ketiga kakak angkat perempuan nya yang selalu mengalah.
__ADS_1
"Oh ya Non, itu koper.." ucap Bi Sulis menunjuk sebuah koper yang di seret oleh Barra.
"Ini Bi, kami mau menginap beberapa hari disini.. Ya sekitar tiga hari lah paling lama" jelas Barra dengan singkat.
"Loh apartemen Den sama Non kenapa?" tanya Bi Sulis dengan raut wajah cemas.
"Gak kenapa napa kok Bi, cuma pengen nginap aja.. Besok malam kan ada acara prom night di sekolah, jadi sekalian aja kumpul sama temen temen disini" jelas Jihan membuat Bi Sulis mengangguk.
"Mau Bibi bawakan koper nya Non?" tawar Bi Sulis.
"Boleh deh Bi, maaf ya ngerepotin Bibi" balas Jihan mengangguk, Bi Sulis menggeleng tanda tidak apa.
"Bibi keatas dulu Non Den naruh koper" pamit Bi Sulis undur diri dari hadapan Jihan dan Barra yang memang cukup berbeda, apalagi raut Barra yang hanya mengulas sedikit senyuman itu nampak menakutkan bagi Bi Sulis.
Seperti biasa, Jihan dan Barra memberi salam dan mencium tangan kedua paruh baya yang masih semangat itu.
Lalu mengobrol ringan bersama, hingga di tengah tengah obrolan Bi Sulis datang dengan sebuah paper bag.
"Paper bag apa itu Bi? buat siapa?" tanya Bunda Lifah menatap lama paper bag seperti menerawang isi paper bag itu.
Barra membuka ponsel nya dan melihat ada satu pesan dari Bang Nendra, sekertaris sekaligus asisten nya di kantor.
Itu barang yang kamu minta, tuan muda.
"Ini punya Jihan Bun, Barra yang pesan buat Jihan tadi" jawab Barra mengambil paper bag itu dari tangan Bi Sulis dengan sopan.
__ADS_1
"Lah kok aku?" tanya Jihan menunjuk diri nya sendiri.
Barra melirik sekilas Jihan, lalu menatap langit seperti melihat cuaca. Tingkah Barra yang seperti itu membuat Ayah Elan tersenyum.
"Perkiraan cuaca, malam ini sih hujan" cetus Ayah Elan membuat Jihan dan Bunda juga menoleh pada nya, sedangkan Barra nampak mengusap tengkuk nya, salah tingkah.
"Walau hujan, jangan berhenti.. lama kelamaan pasti akan panas sendiri haha" lanjut Ayah Elan diakhir tawa renyah.
Barra cengir kuda menunduk. Ternyata Ayah Elan mengetahui apa yang dia pikirkan dan akan di lakukan nya malam ini.
"Ayah kalo ngomong itu yang jelas dong, Bunda gak paham ini" desak Bunda Lifah.
Ayah Elan pun membisikan sesuatu di telinga Bunda yang tertutup kerudung instan. Setelah mendengar bisikan itu Bunda nampak sumringah.
"Jangan lupa, baca niat" ucap Bunda Lifah ditujukan pada Barra yang masih menunduk salah tingkah.
"Baca niat apa sih Bun? kok pada main rahasia rahasia an sih sama Jihan, huuuu gak asik.. dah lah ngambek gue" tanya Jihan berdiri dari duduk sila nya berniat masuk ke kamar.
"Heee.. Yank, ini bawa ke kamar.. jangan di buka, buka nya nanti malam aja, dan harus di pake.. Eh? aduh" ucap Barra menghentikan langkah Jihan dan diakhiri menepuk jidat nya pelan karena dengan spontan mengatakan hal itu di depan Bunda Ayah.
"Kalo gue buka sekarang?" tanya Jihan dengan tatapan menyebalkan.
"Jadi batu lo nanti yank, kalo ampe buka sekarang.. Pokoknya nanti malam deh kamu buka itu ih nurut!" jawab Barra mendapat anggukan patuh Jihan.
__ADS_1