Suami Pilihan Bunda

Suami Pilihan Bunda
BAB 42


__ADS_3

"Bukan ga pernah, tapi jarang" jawab Barra membuat tawa Jihan mereda.


"Maksud lo?" tanya Jihan tak paham.


"Gue jarang makan banyak, sehari pun bisa gue cuma makan sekali itupun di ingat in sama Nenek atau sahabat sahabat gue, karena aktifitas gue sebagai pelajar dan CEO muda buat gue ga punya waktu buat makan" jelas Barra jujur, dia selalu seperti itu karena status nya yang masih seorang siswa dan pemegang saham di perusahaan milik Papa Ukkay dulu, dan sekarang status Barra bertambah menjadi seorang suami yang pasti memiliki tanggung jawab begitu tinggi atas keselamatan, kenyaman, dan kesejahteraan sang istri.


Jihan yang mendengar penjelasan panjang lebar Barra, langsung tertegun merasa kasihan karena Barra harus seperti ini untuk masa depan nya agar lebih mandiri dan dapat membiayai istri nya kelak.


"Gue ga bisa janji, kalo gue bakal masakin makanan tiap hari buat lo, ada kala nya gue lagi badmood dan ga bisa di ganggu gugat sama sekali, tapi gue bakal selalu ingat in lo buat makan dan tetep jaga pola tidur lo, gue tau lo jarang tidur nyenyak karena balapan seperti semalam" ucap Jihan panjang lebar dengan menangkup sebelah pipi Barra agar Barra menatap mata nya.


Barra sempat terkejut karena Jihan bisa mengetahui kalau dia jarang tidur nyenyak, bahkan untuk tidur nyenyak bisa di hitung mengguna kan jari saking jarang nya.


"Dan.. Gue juga akan selalu ada di sisi lo di saat lo down ataupun up" lanjut Jihan dengan senyum manis yang dia berikan agar Barra ikut tersenyum, dan benar saja respon Barra sangat membuat nya senang sekaligus bahagia.


"Janji?" ucap Barra.

__ADS_1


"Bukan janji tapi.. niat dalam hati" ralat Jihan dengan senyum manis.


Barra tersenyum sambil mencium tangan Jihan yang masih menangkup pipi sebelah nya dengan lembut, dan tiba tiba saja di tengah tengah obrolan mereka, Barra cegukan yang membuat Jihan gelagapan mencari air putih.


Menuang kan air putih ke dalam gelas yang sudah di cuci bersih, dan memberi kan nya ke Barra yang masih cegukan, langsung di terima Barra dengan tangan kanan dan meneguk nya hingga sisa seperempat.


Cegukan Barra sudah berhenti setelah Barra menarik napas dalam dalam dan membuang nya secara perlahan melalui mulut. Jihan tersenyum geli melihat tingkah lucu Barra.


"Lo jarang cegukan ya?" tanya Jihan.


Jihan memperhati kan raut wajah Barra yang berubah langsung membawa Barra ke dalam pelukan nya, mengusap rambut Barra yang hitam dan lembut layak nya bayi.


"Sorry gue ga maksud buat-" ucap Jihan terhenti karena dipotong Barra.


"Ga papa kok, lo istri gue, lo berhak tau semua tentang gue dan keluarga gue" cela Barra menghenti kan ucapan Jihan yang menyalah kan diri nya sendiri, dia juga membalas pelukan Jihan dengan erat.

__ADS_1


Jihan tersenyum sekilas lalu memejam kan mata menikmati pelukan erat dan nyaman kedua nya, dan sekali lagi tiba tiba di tengah pelukan mereka perut Jihan berbunyi tanda minta di isi.


Pelukan itu terlepas dengan perlahan, Jihan yang menunduk malu sedang kan Barra tersenyum kecil sembari mengacak pelan rambut Jihan, entah lupa atau sengaja Jihan tidak mengguna kan kerudung saat keluar dari kamar.


"Tumben keluar dari kamar ga pake kerudung?" tanya Barra seperti sudah mengenal dekat Jihan, padahal tidak! dia tau kebiasaan Jihan yang keluar dari kamar akan memakai kerudung atau apapun yang bisa menutupi rambut nya saat di rumah, tapi kali ini beda.


"Sekali kali keluar dari kamar ga pake kerudung bisa kali ya, lagian cuma lo doang yang liat ga ada yang lain, so gue santai aja dong" jawab Jihan dengan santai mencoba menghilang kan kegugupan nya.


"Yoda yoda! silahkan lo makan, dihabisin ya, kalo ga habis bilang gue biar gue yang habisin" ucap Barra menyodorkan piring berisi telur mie yang sisa setengah ke hadapan Jihan yang sudah mulai dingin.


"Enak di lu nya mah itu" seru Jihan mencebik bibir kesal, tapi tetap menurut untuk makan lagipula dia sudah lapar sejak tadi tapi karena obrolan dan adegan yang memperlambat author buat tidur itu berlangsung cukup lama.


Barra tertawa puas dan beranjak pergi dari dapur menuju ruang tamu untuk duduk di sofa menunggu adzan isya' sembari menonton tv. Jihan melahap makanan nya dengan pikiran berpetualang ke sana ke mari.


Antara sumpah, janji, dan niat, yang mana gue pilih?. Batin Jihan bertanya tanya.

__ADS_1


__ADS_2