
Ujian dihari pertama berjalan dengan lancar tanpa kendala sedikit pun, kini sebelum adzan dzuhur para murid sudah pulang karna ujian selama seminggu ini hanya dua mapel per hari.
Jihan bersama ketiga sahabat nya sedang berkumpul di salah satu bangku taman dekat lapangan basket yang dilindungi pohon besar.
"Gue masih inget kejadian dimana Cia itu nerima Denis, pptth.. gue gak kuat kalo nginget kejadian itu njir" keluh Adiba membuat Cia mencebik dan memutar bola mata malas.
"Emang lo tau gimana Denis nembak Cia?" tanya Jihan sembari melirik ke arah lapangan basket yang sepi tak ada yang bermain.
"Tau lah, kan gue waktu itu nginep dirumah Cia.. Anjir kalo inget juga waktu Cia jungkir balik di kasur saking seneng nya di tembak ma Denis, awokawok" jawab Adiba tertawa ngakak, sedangkan si bahan ghibahan hanya diam sesekali mendengus.
"Jungkir balik beneran?" tanya Ersa dengan wajah tak percaya.
"Iya njir, untung gak kena gue kaki nya dia nih" jawab Adiba makin gencar berghibah tentang Cia saat menerima pernyataan Denis yang menyukainya.
"Udah udah stop!.. Diba, ghibah itu gak boleh kan islam mengajarkan untuk tidak berghibah tentang orang lain" lerai Cia tak ingin mengingat kejadian itu.
"Dalam Islam, ghibah bukan perilaku yang terpuji dan sangat dilarang karena berisiko menimbulkan fitnah. orang yang berghibah bahkan diibaratkan seperti memakan bangkai saudaranya sendiri, paham?!" timpal Jihan menjelaskan.
"Heh dugong, lo tadi sendiri juga yang nanya kan gue cuma ngejelasin apa yang gue liat doang" kesal Adiba menggeplak lengan Jihan pelan.
Jihan cengir kuda sebelum menunjukkan dua jari berbentuk peace kepada Adiba, lalu menatap ke depan menatap lapangan yang sepi.
"Main basket yok!" ajak Ersa tiba tiba berdiri.
"Mana bola nya?" tanya Jihan ikut berdiri, dia juga ingin bermain basket tapi dia simpan takut tak ada yang mau.
"Nih, kita duel" cetus seseorang melempar bola basket, suara nya suara perempuan dan cukup asing di telinga Jihan dkk.
__ADS_1
Jihan dkk menoleh ke belakang mendapati empat gadus cantik dengan seragam dan celana olahraga, tapi celana olahraga nya bukan dari SMA DB melainkan dari SMA MDK.
"Lo berempat siapa?" tanya Adiba berdiri mendekati Jihan dan Ersa yang masih menatap keempat gadis itu datar.
"Kita murid MDK, gue Arisa" ucap salah satu gadis dengan santai dan bangga menyebut nama nya.
"Cih, arisan tuh cocok nya kurang n doang" gumam Adiba masih bisa di dengar oleh gadis bernama Arisa itu.
"Lo Sadiba kan?" tanya Arisa maju selangkah di depan Adiba, Adiba pun ikut maju selangkah menatap nyalang.
"Iya, emang kenapa? kok lo bisa tau sih, oh gue terkenal banget ya, unch gue seleb berarti" jawab Adiba dengan bangga nya menyebut diri nya seleb.
Tangan Arisa terkepal kuat. Menatap penuh kebencian Adiba dan dibalas oleh Adiba tak kalah tajam dari mata elang.
Cia yang awal nya duduk di bangku taman kini bangkit menyusul ketiga sahabat nya dan menatap salah satu yang merasa tak asing.
"Lo Grecia? p-pacar Denis kan?" tanya gadus di samping Arisa menatap Cia tajam, saat menyebut kata pacar dia seperti tak kuat.
"Lo siapa sih?" tanya Cia dengan nada dan tatapan dingin kepada gadis yang tadi bertanya pada nya.
"Gue Zila" jawab nya dengan enteng.
Saat Adiba akan mencibir seperti dia mencibir Arisa tadi, Jihan langsung membekap mulut nya dengan tangan nya agar Adiba diam.
"Lo gak usah nyibir, mereka belum ngenalin dua nya lagi, lo potong perkenalan mereka gue potong juga lidah lo" ancam Jihan menatap tajam Adiba yang berada di sebelah nya. Adiba langsung ciut dan mengangguk pasrah.
"Durasi nya makin panjang kalo lo ngomong, cape author ngetik mana dia lagi sakit" lirih Jihan menatap sinis Adiba setelah melepas tangan nya dari mulut Adiba merasa Adiba sudah diam. Adiba diam dengan raut tak bersalah.
__ADS_1
"Gue Alula" cetus gadis di tengah kanan berhadapan dengan Ersa.
"Gue Mey" cetus gadis terakhir yang berhadapan dengan Jihan.
"Kenapa kalian bisa kesini? maksud gue tujuan kalian?" tanya Jihan dengan nada dingin.
"Cih, kan udah gue bilang kita duel 4 vs 4, gimana?" jawab Mey berdecih kesal.
"Main basket?" tanya Cia nampak tak suka dengan bidang olahraga yang satu itu.
"Yaiyalah, masa main barbie, iiuu alay" cibir Alula.
"Kan main barbie itu buat cewek, kenapa alay?" tanya Ersa dengan mengepalkan tangan, dia tak terima. Dia masih bermain barbie tapi hanya mengoleksi.
"Main barbie itu buat anak kecil dan lo itu udah gede, mending main yang bikin lo populer" jawab Alula dengan nada meremehkan.
"Gak perlu, walau gue gak main yang bikin gue populer, gue bakal dikenal sama orang orang" balas Ersa tersenyum miring.
Alula membuang muka kesal. "Lo it-" tunjuk Alula dipotong oleh seseorang yang datang dari belakang mereka dan menghentakkan tangan Alula dengan keras.
"Ngapain lo berempat kesini?" tanya orang itu, suara bariton dan sangat familiar di telinga 8 gadis yang sedang saling menatap dengan tatapan tajam.
Barra. Dengan nada dingin dan datar dia berada di belakang keempat gadis dari SMA-nya. Sudah pasti dia ada disitu karna menjemput Jihan.
"Barra" lirih keempat gadis itu terlihat pucat.
Mey pun lantas berbalik dengan senyuman, sebelum itu dia menarik napas pelan menetralkan raut nya agar terlihat biasa saja.
__ADS_1
"Hey Bar, ngapain lo disini?" sapa sekaligus tanya Mey dengan sedikit genit membuat Jihan menekuk kedua alis nya marah kepada Mey.
Barra melirik sekilas Mey dengan raut datar. "Terserah gue lah" jawab Barra acuh melangkah mendekati Jihan yang berada di hadapan nya.