
"Ini punya kamu kan?" tanya ibu Zila menunjukkan sebuah benda yang panjang tapi kecil itu di tangan nya dengan bergetar.
Deg
K-kok bisa ibu menemukan testpack itu, bukan sudah gue buang ya ke tempat sampah dan pasti nya gak bakal kelihatan, tapi kok ibu? aduh kebongkar sudah. Batin Zila khawatir.
"Zila! ibu tanya, ini punya kamu atau bukan?" tanya ibu Zila dengan intonasi suara yang meninggi dengan deraian air mata tentunya.
Zila menunduk tak menjawab, tapi karena tingkah Zila seperti itu membuat ibu Zila yakin bahwa benda bernama tespack itu milik putri nya.
"Ya tuhan, siapa yang sudah menabur benih itu hah Zila? jawab ibu!" sentak ibu Zila melangkah maju mendekati kasur Zila.
Zila menggeleng lirih tanpa berniat membuka mulut nya. Dia terus menunduk tak mau menatap ibu nya yang pasti sangat kecewa.
"Oh Yesus, kenapa putri ku bisa sampai hal ini? hamil diluar nikah! bahkan dua garis merah itu cukup tebal, sudah berapa lama kamu menyimpan kejadian ini hah?!" bentak ibu Zila mengeluarkan emosi nya.
Zila menunduk ketakutan, dia tak pernah melihat ibu nya membentak nya, baru kali inilah dan itu karena kesalahan nya sendiri, kesalahan yang paling fatal dan membuat keluarga nya buruk.
"Siapa yang telah berbuat hal breng*ek ini sama kamu Zila? jawab ibu! biar ibu minta dia tanggung jawab" tanya ibu Zila duduk di kasur di hadapan Zila dengan nada sedikit melunak.
Zila mendongak menatap ibu Zila dengan tatapan terkejut. "Ib-ibu gak akan benci aku dan menyuruh aku untuk menggugurkan bayi ini kan bu?" tanya Zila dengan suara serak.
Plak
Ibu Zila menampar pipi Zila merasa pertanyaan yang terlontar dari mulut putri nya itu sangat ngawur. "Berdosa menggugurkan bayi yang tidak bersalah, yang patut nya di salahkan itu si pelaku dan ibu dari bayi itu, ibu tidak benci kamu ibu hanya kecewa, apa ajaran ibu selama ini tidak masuk ke dalam otak kamu?" jawab ibu Zila setelah menampar Zila dengan sedikit keras, ingat sedikit.
__ADS_1
Zila tak menangis karena ditampar, ini memang kesalahan nya dan Rangga si pelaku. Siapa lagi kalau bukan Rangga, Zila tak pernah berhubungan bad*n dengan lelaki manapun kecuali Rangga.
"Maafkan aku bu" lirih Zila masih bisa di dengar oleh ibu nya. Ibu nya segera memeluk Zila dan meminta maaf karena telah berbuat kasar.
"Sekarang ibu tanya, siapa yang telah membuat kamu berbadan dua hm? jawab jujur Zila" tanya ibu Zila dengan lembut.
"Rangga" jawab Zila.
___
"Pagiku cerah matahari bersinar, ku gendong kain lap pel di pundak, selamat pagi semua, ku nantikan dirimu, didepan dapurku menanti suami" Jihan bersenandung dengan mengganti lirik lagu anak anak yang berjudul Guruku Tersayang.
"Argh! bagus bat lagu yang gue bikin, coba aja di viral in, pasti booming nih di sosmed, hoho bisa jadi artis gue ini mah, mana suara gue kek suara jennie bp" decak Jihan kagum pada diri nya sendiri.
"Cantik ko, Barra aja sampe klepek klepek ma gue" puji Jihan pada diri sendiri setelah menatap dirinya di pantulan layar tv.
"Aduh, gue ko berasa seleb ya pas liat diri gue di tv, padahal gue ngerasa gue makin gendutan, tapi pas liat di tv ko kurus bat" oceh Jihan ditanggapi oleh diri sendiri.
"Palagi gue cantik bat waktu gue gak pake makeup, eh emang kapan gue pake makeup, oh iya pas ijab kobul, tapi kan dah lama.. kapan kapan deh gue makeup yang setebal batu bara, kapan kapan ye kan kapan kapan" lanjut Jihan memuji diri nya.
"Lo ngomong sama siapa sih, yank?" tanya Barra tiba tiba duduk dengan muka bantal di tangga membuat Jihan sedikit melompat dan menoleh ke arah tangga.
"Ngagetin nya bisa di kasih tau dulu gak heh?! bikin gue kaget aja lo by.. gue ngomong sama sapu nih" jawab Jihan dengan ketus di akhir.
Barra menggaruk belakang telinga yang gatal. Wajah nya muka bantal yang baru setengah melek, beberapa kali juga menguap pertanda dia masih mengantuk.
__ADS_1
"Cuci dulu muka lo by!" titah Jihan menghampiri Barra yang masih anteng duduk di tangga.
"Cuciin" sahut Barra dengan manja.
"Entar kalo gue yang cuciin muka lo entar malah kebablasan nyuci lo di mesin cuci kan bukan gitu alur nya" balas Jihan ngawur.
"Cuciin gak mau tau.. Ayanggg" rengek Barra manja, maju dengan posisi duduk di tangga dan memegang salah satu tangan Jihan yang tak memegang sapu.
"Aww manja kali suami ku ni" seru Jihan gemas melihat tingkah manja Barra. Jika diluar kamar atau apartemen Barra akan cool tapi berbeda di dalam ruangan yang hanya berdua akan begitu manja, dan manja nya hanya pada Jihan.
"Gak mau tau, cuciin muka aku.. atau aku gigit ini jari kamu, yank" ancam Barra menarik tangan Jihan mendekatkan tangan Jihan dengan mulut nya.
"Gigit aja kalo emang berani" balas Jihan seakan tak takut tangan nya di gigit Barra yang masih belum gosok gigi.
Barra pun membuka mulut hendak memasukkan jari Jihan, tapi langsung dia urung karena Jihan menarik tangan nya kembali dan menatap jijik pada Barra.
"Makanya cuciin kalo gak mau digigit" ucap Barra mendapat toyoran kecil dari Jihan pelan di jidat.
"Iya deh, bentar gue selesaiin nyapu nya dulu" balas Jihan mengalah. Barra mengangguk cepat dengan senyum pepsodent seperti anak kecil yang akan dibelikan mainan.
"Suami gue ketuker di mana?" cetus Jihan bergumam tapi mampu di dengar oleh Barra, karena posisi Jihan tak terlalu jauh dari tempat duduk Barra.
"Ketuker di kamar, jiwa cool nya ketinggalan di kamar tadi" balas Barra membuat Jihan tertawa kecil dan sesekali melirik Barra yang masih mengantuk.
Hanya lo yang bisa buat gue ketawa. Batin Jihan dengan ekor mata sedikit mengarah pada wajah Barra yang nampak memejamkan mata nya.
__ADS_1