
Setelah Jihan dan Adiba saling balas berbalas pesan lewat online, ponsel nya langsung Jihan sodor kan ke Barra, tapi tak di terima oleh Barra, Barra malah mengernyit alis bingung.
"Kok ngasih ke gue?" tanya Barra bingung.
Jihan memutar bola mata malas, ternyata pemuda tampan dingin dan datar itu bisa lemot juga otak nya, bahkan dia tak paham kenapa Jihan menyodor kan ponsel nya ke Barra.
"Taruhin ke nakas" jawab Jihan dengan singkat.
Barra mengangguk pelan sambil menerima ponsel Jihan, lalu menaruh ponsel Jihan di nakas sebelah ponsel nya yang sepi tak ada yang mengganggu seperti malam kemarin.
Jihan beringsut untuk tidur, dan menaruh buku novel di samping bantal nya. Memperbaiki posisi tidur agar lebih nyaman dan bisa tidur nyenyak di ranjang yang berbeda.
Sedang kan Barra, dia kembali di sibuk kan dengan buku, laptop, dan pulpen, tapi kali ini bukan pelajaran yang dia pelajari melain kan dokumen dari laptop yang di kirim oleh sekertaris nya berupa file dari online.
Barra juga duduk bersandar di ranjang, dengan kacamata baca yang menambah kesan tampan dan dewasa nya, Jihan yang masih belum tidur mendongkak menatap Barra.
"Kenapa belum tidur?" tanya Barra tanpa menatap Jihan dan membuat Jihan tersentak kaget karena kepergok sedang memandangi Barra.
"Ga bisa tidur ya?" tebak Barra menatap Jihan yang masih dalam posisi kaget tapi dengan tampang lucu. Jihan mengangguk pelan dengan bibir mengerucut.
Barra terkekeh pelan, lalu menarik Jihan yang masih dalam posisi rebahan menyamping itu ke dalam dekapan nya tanpa meletak kan laptop yang berada di paha nya.
__ADS_1
Jihan menerima dekapan itu, dia juga membalas dekapan erat Barra yang membuat nyaman, lalu ikut menatap layar laptop yang sedikit di jauh kan oleh Barra.
Telinga Jihan yang tepat di dada bidang Barra, membuat Jihan dapat mendengar jantung Barra yang terpompa cepat dan nyaring sama seperti jantung nya sekarang.
Nyaman. Satu kata itu lah yang terlintas dalam otak Jihan yang memeluk erat Barra yang sibuk mengetik sesuatu di laptop dengan lihai nya jari jemari Barra bermain di tombol keyboard.
"Emang ngerti kayak gini?" tanya Jihan memulai kejahilan nya dengan memencet asal ksalah satu tombol keyboard.
"Ji, jangan jahil dulu okay? ada yang mau gue kirim ke bang Nendra bentar" ucap Barra dengan penuh kelembutan walau hati nya sekarang sedang kesal karena kejahilan Jihan yang membuat dokumen menjadi salah.
"Bang Nendra siapa?" tanya Jihan yang memang tak tau siapa Nendra yang di sebut oleh suaminya.
"Sekertaris gue di kantor, yang menghandle kerjaan gue waktu gue lagi sekolah atau ada urusan lain" jawab Barra panjang lebar sambil satu tangan mengelus rambut hitam Jihan.
"Nyaman ya?" tebak Barra menggoda Jihan dengan menghenti kan aktifitas mengelus rambut hitam Jihan.
Jihan mendongkak menatap Barra dengan tampang kesal tapi sayu karena sudah mengantuk. Barra melihat itu langsung terkekeh dan melanjut kan aktifitas mengelus rambut Jihan dengan lembut agar Jihan tertidur.
Satu tangan Barra dia gunakan untuk mengelus rambut halus Jihan dan satu nya untuk mengetik di keyboard laptop, tak lama terdengar dengkuran kecil.
"Eh, cepet banget dia tidur" gumam Barra tersenyum kecil.
__ADS_1
Gue berdoa semoga gue bisa terus bersama lo hingga allah sendiri yang memisah kan kita dan mempersatu kan kita lagi di akhirat yang abadi, gue sedang berusaha menumbuh kan kesabaran yang sangat banyak agar lo terus sama gue. Dan gue juga mencoba menghilang sifat kejam gue di depan lo tampang gue yang dingin dan datar di depan lo, gue sedang dalam proses memanggil lo dengan sebutan my wife.
Barra mengecup rambut Jihan dengan lembut sambil membatin.
___
Pagi 5.50
Jihan di sibuk kan dengan dapur, sedang kan Barra di kamar menyiap kan peralatan untuk sekolah nya.
Tidur tadi malam cukup membuat Jihan kelelahan, bagaimana tidak dia baru tidur dalam telenta sekitar pukul 2 pagi yang arti nya Barra baru tidur jam 2 pagi, apa yang di lakukan Barra hingga selarut itu? padahal sedang tidak ada urusan mendadak seperti kemarin malam.
Dan bagaimana Jihan bisa tau kalau dia tidur di posisi telentang sekitar pukul 2? itu karena Barra sendiri yang mengatakan nya bahkan lengan Barra juga pegal akibat menahan beban cukup berat.
Setelah sarapan sudah selesai, Jihan kembali naik ke atas untuk mengambil tas dan berganti pakaian dari pakaian rumahan yaitu daster menjadi seragam sekolah.
Saat Jihan baru memasuki kamar, terlihat Barra sibuk dengan kancing baju yang kelihatan nya sedikit susah untuk di masuk kan, Jihan oun segera menghampiri Barra yang masih belum sadar kehadiran Jihan.
Tangan Barra di tarik oleh Jihan agar menjauh dari kancing baju yang belum masuk ke lubang kancing baju nya, Jihan dengan lembut memasuk kan kancing itu ke lubang kancing yang berada di dada bidang Barra.
Barra memperhati kan wajah Jihan yang tersenyum kecil sambil merapi kan seragam nya. Di tangan sebelah nya terdapat dasi sekolah yang belum terpasang membuat Jihan mengernyit alis.
__ADS_1
"Kok belum di pasang dasi nya?" tanya Jihan membuat Barra tersentak kaget dan menatap dasi yang masih berada di genggaman nya.
"Gue ga tau cara masang nya" jawab Barra jujur, Jihan yang hendak masuk ke ruang ganti pakaian langsung terhenti dan menatap Barra dengan tatapan meremehkan.