
Acara mencicipi makanan yang dihidangkan di praktek masak itu sudah selesai, dan tiap kelompok sudah di beri nilai tapi tak diberitahukan berapa nilai nya pada kelompok itu, karena itu perintah dari Pak Yanto.
"Ini nilai kalian ada di gue, gue bakal ngasih ke Pak Yanto nanti lewat japri wa, dan yang bakal yang ngasih tau hasil dari kerjasama kalian itu juga sama Pak Yanto, karena gue sama Diba disini bukan hanya jadi juri dalam praktek tapi juga mengamati siapa yang masak dan siapa yang tidak masak" ucap Jihan panjang lebar sembari menaruh kertas di hoodie yang dipakainya.
"Oke, Ji" balas satu kelas tanpa terkecuali.
"Eh baideway, lo dah punya nomor wa nya Pak Yanto emang Ji?" tanya Miranda salah satu siswi di kelas 12 ipa 1 yang memiliki tingkat kepintaran rata rata.
"Belum" jawab Jihan singkat.
"Sini biar gue kasih" balas Miranda mengeluarkan ponsel bermerek samsung terbaru dari tas sekolah nya.
Jihan melirik Barra, ada kode yang di berikan oleh Barra, dan Jihan langsung paham. Dia pun segera menolak secara halus ucapan Miranda.
"Eh gak usah deh Mir, entar gue bisa dapet sendiri kok" yolak Jihan dengan lembut.
"Dapat darimana mbak?" tanya Adiba memiringkan wajah nya di kiri menatap Jihan.
Mata Jihan mengarah pada Barra, di detik berikut nya Adiba mangut mangut kecil dan berkata pada Miranda. "Gak usah Mir, nanti Jihan bisa minta sama Bu Rindi nomor wa nya Pak Yanto, lo tenang aja Bu Rindi punya nomor Pak Yanto kok"
"Oke deh, it's okay" ucap Miranda dengan tersenyum.
Tringg
"Dah istirahat kah? kalo gitu jangan lupa beresin kelas kalian, gud sama Diba pamit pulang dulu" pamit Jihan terdengar ambigu.
__ADS_1
"Pulang?" beo Adiba menatap cengo Jihan.
"Gue males balik" bisik Jihan di samping telinga kanan Adiba. Adiba mengacungkan jari manis nya kepada Jihan dan dibalas juluran lidah dari Jihan.
Barra dan Azkan tak ikut membantu membereskan meja sehabis praktek, mereka keluar dengan membawa tas di pundak kiri masing masing dan tampang cool.
"Buruan!" desak Jihan menarik tangan Adiba agar cepat keluar dari kelas.
"Arrgh.. iye iye, bawel amat dah" keluh Adiba pasrah, kedua keluar berpapasan dengan Barra dan Azkan yang hendak keluar juga.
Barra dan Azkan dengan wajah datar dan dingin mereka menatap Jihan dan Adiba, lalu melangkah tanpa menghiraukan Jihan dan Adiba, mereka layaknya tak mengenal.
Sabar Ji sabar. Batin Jihan menatap punggung tegap Barra yang hilang di belokkan.
"Jajan mulu, heran gue" cibir Jihan menyamakan langkah kaki nya dengan Adiba dan mereka oun dengan santai berjalan di belakang Barra dan Azkan.
"Walau gue jajan banyak pun, badan gue tetep gini gini aje, gak kea luu.. entar perut lo yang bakal besar kek bal- emmh" cerocos Adiba tanpa henti, perkataan terakhir Adiba membuat Jihan membekap mulut Adiba secara tiba tiba.
Barra dan Azkan bahkan berhenti dan berbalik menatap Adiba dengan menaikkan satu alis, sedangkan para murid lain menatap aneh pada Adiba sejenak lalu kembali melangkah ke kantin.
"Dasar lo ya.. kalo ngomong tuh di saring dulu, jangan asal keluar" sungut Jihan menggeplak pelan Adiba setelah melepas bekapan tangan nya.
"Lo habis makan apa sih? kok bau jengkol?" tanya Adiba mengelap mulut nya dengan jilbab yang dia pakai, untung nya Adiba tak memakai liptin jika tidak mungkin akan membekas di jilbab yang dipakai Adiba.
"Jengkol matamu merem! kan tadi jadi juri praktek, makanan yang terakhir gue makan tuh tumis kangkung" semprot Jihan kembali melangkah.
__ADS_1
"Lah bukan yang terakhir tuh dimakan itu tempe bacem yak? ngadi ngadi lu.. lu gak nyoba tempe bacem?" tanya Adiba mengingat apa yang dia makan terakhir tadi.
"Gak! gue gak suka tempe bacem" jawab Jihan memasukkan kedua tangan nya ke kantong hoodie dan memasang tampang dingin.
Adiba memang tak tau apa yang tidak disukai oleh Jihan, dia lebih tau tentang kebiasaan dan kelakuan Jihan dibanding suka atau tidak nya dengan makanan.
"Kantin dimana?" tanya Adiba tak sabaran.
Jihan, Barra, dan Azkan menoleh ke belakang, dan terlihat Adiba cemberut. Jihan yang bodoamat langsung memasang headset pada kedua telinga nya dalam jilbab nya dan melangkah meninggalkan ketiga manusia yang masih berhenti.
Barra pun menyusul Jihan dengan cool, tak menghiraukan tatapan kagum dari siswa dan siswi yang berlalu lalang di koridor lantai dua.
Hanya Azkan dan Adiba yang berdiam, hingga akhirnya Adiba merengek lagi karena perut nya sudah lapar, padahal baru makan hasil praktek, tapi sekarang sudah lapar lagi.
Itu perut apa tong?. Batin Azkan terheran heran.
"Woi.. gue tanya ogeb! kantin di sebelah mana? gue laper ini" ucap Adiba dengan nada ngegas dan mendekat ke tempat berdirj nya Azkan.
"Bener kata Jihan" gumam Azkan masih bisa didengar oleh Adiba.
"Apa yang bener?" tanya Adiba berkacak pinggang dengan tampang kesal pada Azkan yang lebih tinggi dari nya, tinggi Azkan sama seperti Barra, dan tinggi Adiba hanya beda dua centi lebih tinggi Jihan.
"Lo kalo ngomong disaring dulu" jawab Azkan singkat dan datar, lalu berlalu dari hadapan Adiba, melangkah menuju Jihan dan Barra yang sudah di lantai bawah.
Adiba terpaku dengan mulut sedikit menganga, dengan kesal dan menghentakkan kakinya di lantai sambil mengikuti Azkan yang turun ke lantai dasar lewat tangga.
__ADS_1