
Jihan keluar dari mobil dengan raut bahagia akhirnya bisa bertemu dengan kedua orang yang telah merawat sedari kecil hingga sekarang.
"Ayah Bunda!!" teriak Jihan berlari ke arah Ayah Elan dan Bunda Lifah dengan merentangkan kedua tangannya tanpa menghiraukan Barra yang menatap nya dengan senyum manis.
"Putri Ayah!" balas Ayah Elan sedikit berteriak hendak menyambut pelukan Jihan yang sudah lama tak dia rasakan, dia merindu aroma putri nya itu.
Saat berada di depan Ayah Elan dan Bunda Lifah, disaat hendak memeluk tiba tiba Bunda Lifah menjewer telinga nya secara mendadak membuat Ayah Elan, Barra, serta Jihan terkejut.
"Kenapa gak pernah kesini heh?! gak inget lagi kah sama Bunda Ayah?!" tampang Bunda Lifah yang awal antusias terganti kesal.
"Aww, Bun.. lepas dulu ini ih" rintih Jihan meringis telinga nya begitu perih mungkin sudah lama tak di jewer oleh Bunda Lifah, nanti author yang gantiin Bunda buat jewer🗿.
Barra pun menghampiri Jihan dan kedua mertua nya, dan menyalami tangan Ayah Elan lalu hendak menyalami Bunda Lifah.
"Bun, maaf ya baru bisa kesini, soalnya beberapa bulan ini kan sekolah lagi gak ada libur trus juga kerjaan di kantor numpuk banget" jelas Barra panjang lebar.
"Oh iya kah? gak apa apa kok Barra, Bunda ngerti kok kalo kamu itu sibuk banget" balas Bunda Lifah tanpa melepas jeweran telinga pada Jihan.
"Jadi, Bun.. bisa kah jeweran nya di lepas, Barra mau salim" cetus Barra memohon.
Ish, malah bilang gitu harusnya kan bisa lepas kah jeweran nya kasian istri aku kesakitan ini malah mau salim, sungguh lakik. Batin Jihan ngedumel.
"Oh iya, lupa Bunda" seru Bunda cengengesan sambil melepas jeweran itu dan memberi sorot sedikit tajam pada Jihan dan beralih menatap Barra dengan penuh kasih sayang.
"Yang anak siapa yang dimanja siapa" gumam Jihan didengar oleh Ayah Elan. Ayah Elan terkekeh dan menarik Jihan ke dalam dekapan nya.
Jihan yang merasa tubuh tertarik hanya mengikuti dengan tampang kaget, tapi setelah itu dia tersenyum senang dan ikut membalas dekapan Ayah Elan.
__ADS_1
___
Seperti biasa, bila Jihan dan Bunda Lifah bersama pasti akan saling adu mulut entah membahas tentang apapun pasti bawaan nya ribut, tapi saat tidak bersama akan saling memikirkan dan merindukan satu sama lain.
Barra dan Ayah Elan berasa di halaman belakang memberi makan ikan peliharaan Ayah Elan yang masih begitu banyak di kolam.
Sedangkan Jihan dan Bunda Lifah berasa di dapur, mengoceh menceritakan apa yang mesti nya di ceritakan sambil mengolah makanan untuk makan malam dan beberapa camilan tambahan.
"Kamu udah pernah ke makam nya besan Bunda belum dek?" tanya Bunda Lifah sambil menggoreng ayam tepung dengan porsi besar.
"Udah Bun," jawab Jihan singkat.
"Kamu selama di apart gak kenapa napa kan? gak pernah kurang kan bahan masak nya? atau apa gitu dek?" tanya Bunda Lifah tak henti henti nya bertanya pada Jihan.
"Gak kok Bun aman aman aja sih Barra jagain aku juga untuk stok bahan masak tiap tiga hari sekali Bun aku sama Barra ke supermarket" jelas Jihan tanpa titik koma.
"Barra" jawab Jihan dengan polos.
Dug
Sebuah sendok nasi melayang ke kepala Jihan, Bunda Lifah mengetuk kepala Jihan dengan sendok itu dan berbunyi membuat Jihan mengaduh kesakitan.
"Bisa benjol pala adek Bun kalo gini" keluh Jihan merasa sakit di bagian kepala atas nya yang terkena sendok nasi itu.
"Harusnya kamu itu manggil suami dengan panggilan lebih sopan, jangan nama aja adek" omel Bunda tak menghiraukan keluhan Jihan yang sambil mengusap kepala nya.
"Panggilan sopan? kaya mana?" tanya Jihan sambil mengusap kepala nya yang di ketuk oleh Bunda Lifah yang masih tertutup kerudung.
__ADS_1
"Kaya suamiku, cintaku, atau pakai bahasa inggris hubbyku gitu lah dek, gimana sih, masa lebih berpengalaman Bunda sih dibanding kamu" jawab Bunda Lifah membuat Jihan bergidik geli.
"Adek lebih suka panggilan yang terakhir, karena emang itu panggilan dari adek buat dia" cetus Jihan sedikit bergumam tapi masih bisa didengar oleh Bunda Lifah.
"Gitu dong, oh iya Bunda lupa sesuatu" balas Bunda membuat Jihan menghela napas pelan karena Bunda nya ternyata cerewet nya tak ada obat, mungkin efek ditinggal berbulan bulan dan tak ada teman mengobrol.
"Lupa apa Bun? lupa kalo umur udah mau lima puluhan gitu" tanya Jihan nyeleneh dan mendapat geplakan dari Bunda Lifah secara spontan.
"Bunda masih empat puluhan ya dek, sembarangan aja kalo ngomong" kesal bunda lifah berkacak pinggang lalu berbalik ke penggorengan lagi niatnya membalik ayam tepung yang warna nya sudah mulai berubah.
"Trus Bunda lupa apa?" tanya Jihan jengah.
"Kamu udah ada isi gak?" tanya Bunda Lifah spontan tanpa menatap Jihan karena sibuk membalik ayam tepung di wajan berisi minyak panas.
Deg
Jihan merasa napas nya tersendat di tenggorokan setelah mendengar pertanyaan itu dari Bunda, mereka masih belum melakukan hal yang biasa dilakukan oleh sepasang suami-istri.
Mereka sudah menikah enam bulan lebih tapi seperti masih belum ada tanda tanda kehamilan, itu juga karena kedua nya terlalu sibuk dengan urusan sekolah dan tak ada pikiran untuk berprogram.
Karena tak ada jawaban dari Jihan membuat Bunda Lifah menghela napas, dia sudah bisa menebak, menikahi Jihan di usia muda dan masih terbilang muda karena masih sekolah itu hal yang sulit bagi Jihan.
"Bunda gak minta kamu cepat cepat ngasih Bunda cucu, tapi apa kamu masih belum jadi sepenuhnya milik suami kamu kah?" tanya Bunda Lifah kali ini lenih hati hati.
Jihan nampak menunduk, dan Bunda dapat menebak jawaban iya.
"Bunda ngerti kok, kalian sama sama sibuk dengan urusan sekolah sampai gak sempat buat mikir hal yang seharusnya di lakukan oleh pasutri" ucap Bunda Lifah sebelum mengalihkan pembicaraan ke yang lebih asik.
__ADS_1
Akhirnya Jihan kembali ceria. Walau hanya dari raut luar tidak raut dalam yaitu hati nya yang masih merasa gagal menjadi istri yang bisa memenuhi segala nya untuk sang suami.