
Setelah kepergian Bunda Aila dan Ayah Adit, suasana ruangan itu senyap, Adnan sibuk dengan ponsel nya dan Azkan Adiba yang saling diam.
"Ehem" deheman Azkan membuat Adnan dan Adiba menoleh ke brangkar serempak.
"Mau minum lo Az?" tanya Adnan dengan datar. Sedangkan Adiba yang berdiri tak jauh dari brangkar Azkan langsung bergerak mengambil botol minum yang berada di laci nakas samping brangkar.
Adiba membantu Azkan untuk minum, tapi Azkan bukan nya menerima malah memalingkan wajah nya ke samping agar tak melihat wajah cantik dan imut milik Adiba.
Adnan melirik sekilas, lalu menghela napas. "Gegara lo gue bolos jam Bu Arin yang cantik dan bohay itu.. dah gue pamit aja dah kan udah ada yang jagain lo" pamit Adnan bergegas pergi dengan menyambar tas sekolah nya yang berada di sebelah nya duduk.
"Mau kemana lo?" tanya Adiba sambil menatap Adnan yang dengan santai nya melenggang pergi, bahkan sudah hampir sampai pintu.
"Pulang, ngantuk gue hoam" jawab Adnan menoleh ke belakang dan menguap dengan datar, Azkan memutar bola mata jengah begitu juga Adiba.
Adnan pun segera keluar, sebenarnya itu bukan karena mengantuk dan ingin pulang ke rumah, melainkan memberi waktu untuk kedua sejoli yang masih diam di ruang VIP.
Adnan juga sudah paham kenapa Azkan bisa sampai masuk rumah sakit, Azkan bukan lelaki yang oleng dalam perjalanan, dan dia menebak karena seseorang.
Selesaiin masalah lo sama Adiba dulu deh, kalo emang Adiba yang lo pikirin sampe bikin lo masuk rs untung belum masuk liang kubur lo Az ck ck ck. Batin Adnan geleng geleng sambil melangkah meninggalkan ruangan itu.
Di dalam ruang VIP.
Azkan sama sekali tak ingin menatap wajah Adiba, dia selalu menghindari tatapan mata menggemaskan milik Adiba.
__ADS_1
"Az, lo kenapa bisa kecelakaan?" tanya Adiba membuka suara sekian lamanya dia berdiri di samping brangkar tanpa ada niatan untuk duduk di kursi, padahal kaki nya sudah pegal terlalu lama berdiri.
Itu karna lo Dib! karna lo. Batin Azkan tak mau mengatakan yang sebenarnya.
"Gak sengaja nabrak trotoar" jawab Azkan apa ada nya. Dia memang tak sengaja menabrak trotoar tapi dia tak bilang kenapa bisa sampai tertabrak.
"Lo mikirin apa sampe kecelakaan gitu?" tanya Adiba lagi merasa Azkan sedang berbohong, bahkan mata Azkan tak pernah mau melirik nya.
Mikir lo Dib, gue cemburu lo sama orang yang gue gak tau itu. Batin Azkan dengan jujur nya.
"Mikir aja, lampu lalu lintas ada berapa di kota ini" jawab Azkan ngawur, tapi membuat Adiba tertawa kecil.
"Kalo lo tau emang berapa lampu lalu lintas hm?" tanya Adiba mendudukkan dirinya di kursi karena semakin lama kakinya semakin tak kuat.
"Ba-banyak" jawab Azkan gagu.
"Lo bisa jujur gak sih Az?" tanya Adiba langsung menghentikan tawa nya bahkan tampang nya berubah menjadi serius.
Azkan sempat kaget tapi dia menutupi dengan tampang datar andalan nya. Lalu memberanikan diri untuk menatap wajah Adiba.
Saling memberi tatapan, mata Azkan yang ternyata masih sedikit bengkak nampak Adiba lihat. "Lo nangis?" tanya Adiba hendak menyentuh pelipis Azkan.
"Ya! karena lo, puas?!" jawab Azkan membuat Adiba tersentak dan menarik kembali tangan nya dan menatap Azkan dengan tatapan heran.
__ADS_1
"Karena gue? kenapa? gue salah apa?" tanya Adiba menunjuk diri nya dengan telunjuk nya sendiri.
"Ya! gak lo gak salah kok, gue yang salah karena udah suka sama cewek milik orang lain" jawab Azkan mengeluarkan uneg uneg di dalam hati nya.
"Lo suka sama siapa?" tanya Adiba, ada rasa sedih saat mengetahui Azkan menyukai seseorang yang dia belum tau.
"Elo Dib! gue suka Sadiba Andini" jawab Azkan dengan lantang, membuat keempat orang yang hendak masuk mengurungkan niatnya.
Adiba menatap Azkan tak percaya. "Ma-maksud lo? lo suka sama gue?" tanya Adiba dengan gagap di awal dan mengerjabkan mata nya beberapa kali.
"Iya, gue suka sama lo Diba" jelas Azkan dengan pelan karena kepala memberi reaksi berupa nyeri dan agar sakit di bagian belakang.
"Kenapa lo bisa suka sama gue?" tanya Adiba mencoba mencari letak kebohongan dari ungkapan yang baru saja dia dengar.
"Emang harus ya karena sesuatu gue suka sama lo?" tanya Azkan balik menatap Adiba dengan tatapan tulus.
Adiba menggeleng samar. "Terus kenapa lo bisa sampe kecelakaan?" tanya Adiba tak pantang menanyakan yang sepertinya sangat Azkan tutupi.
"Dia siapa?" bukan nya menjawab Azkan malah bertanya tentang orang yang mengantar Adiba ke sekolah.
Adiba mengernyit bingung. "Yang mana?"
"Yang ngantar lo tadi pagi" jelas Azkan dengan sedikit ketus tapi membuat Adiba yakin Azkan memang menyukai nya, Adiba tersenyum tipis sebelum menjawab siapa yang di maksud oleh Azkan.
__ADS_1
"Dia abang sepupu gue"
"Hah?!"