Suami Pilihan Bunda

Suami Pilihan Bunda
BAB 138


__ADS_3

"Nah orang nya dah pulang" seru Jihan berdiri dari duduk di sofa ruang tamu bersama Nenek Naira yang hanya duduk menatap Barra yang berjalan menenteng plastik putih transparan.


"Mana titipan Nenek?" tanya Nenek Naira dengan menengadah tangan ke arah Barra, Barra mencebik bibir kesal.


"Sabar napa Nek, gak anak muda aja gak sabaran" cebik Barra sembari memberikan plastik transparan yang aroma nya menyengat dan sudah bisa ditebak dalam nya apa. Yup, sosis bakar.


"Nenek awet muda by" cetus Jihan sesekali melahap es doger berwadah besar dengan banyak susu coklat dan roti.


"Iya si, masih cantik, gak ada keriput nya" puji Barra sembari duduk di samping Nenek Naira yang sibuk dengan sosis bakar.


"Punya cucu gini amat dah" lirik Nenek Naira sekilas lalu fokus ke sosis bakar dengan toping mayonaise dan saos manis.


"Nenek gaul gaes" seru Jihan telah menghabiskan es doger setengah, tanpa ngilu sama sekali.


"Hahaha" tawa Barra dan Jihan menggema membuat Nenek Naira melirik kedua nya bergantian dengan kesal.


"By, kinderjoy mana?" tanya Jihan celingukan mencari satu makanan anak-anak yang isi nya hanya dua bola coklat ditambah susu.


Barra terdiam sejenak dengan tatapan sulit diartikan. Jihan pun menatap nya balik dengan raut kesal.


"Lupa?" tanya Jihan dengan bergetar.


Nenek Naira yang sedari tadi mengunyah sosis bakar pun ikut menoleh ke arah Jihan dan Barra yang sedang tatap-tatapan.


"Nenek ke kamar dulu, biar gak kalian minta in sosis bakar" ucap Nenek Naira segera bangkit dari sofa dan berjalan perlahan ke kamar nya yang berada di lantai dua.

__ADS_1


Barra menghela napas dan menunduk sebentar, lalu mengangguk pelan. Jihan yang melihat itu langsung berdiri dan mengikuti Nenek Naira masuk ke kamar tanpa bicara.


Jihan berjalan berdampingan dengan Nenek Naira tanpa menoleh ke belakang sedikit pun. Tanpa dia sadari Barra yang duduk disofa menatap nya dengan menahan tawa.


Utututu bumil cengeng.


Barra pun menyusul Jihan yang sudah hampir sampai kamar.


Laras yang sedari tadi menguping dan bersembunyi dibalik vas bunga besar dekat halaman belakang itu melirik sinis Jihan yang masuk ke dalam kamar, disusul Barra.


"Tuan muda lebih cocok sama aku daripada sama istri nya yang cengeng itu" gumam Laras dengan bangga, nampak nya tidak suka dengan Jihan.


Laras pun kembali melanjutkan pekerjaan nya yang sempat tertunda akibat menguping.


___


"Hm?" sahut Jihan singkat tanpa menoleh.


"Hm doang?" tanya Barra mendekati Jihan dan duduk di samping istri cantik nya yang seperti nya sedang merajuk.


Jihan mengangguk singkat sembari mengetik sesuatu di layar ponsel nya.


"Biasa nya tu kalo aku panggil pasti sahutan nya, Iya by atau kenapa by, sekarang kok cuma hm hm doang?" tanya Barra dengan senyum tipis.


"Serah ku lah" jawab Jihan dengan mata fokus pada layar ponsel nya.

__ADS_1


Punya bumil satu kok lucu banget sii, lagi ngambek aja gemes pengen grep.


"Ngambek nih ceritanya hm?" tanya Barra pura-pura tidak peka.


"Gatau" jawab Jihan singkat.


Oke oke, cukup Bar.. jangan bikin bumil makin nangis, gini aja udah cukup.. ntar malah lo yang kena imbas nya Bar, gak dapat jatah.


"Iiiii gemes.." cicit Barra mencubit kedua pipi gembung Jihan dari samping, membuat Jihan harus mengalihkan pandangannya dari ponsel.


"Ck apaan si" decak Jihan menyingkirkan kedua tangan Barra dari pipi nya, dan kembali fokus pada ponsel.


Barra memanyunkan bibirnya sebentar, lalu tersenyum miring.


"Yang, mau ini gak?" tawar Barra langsung di tolak oleh Jihan tanpa di lihat apa yang ditawarkan oleh Barra.


"Enggak"


"Beneran gak mau nih?" tanya Barra sekali lagi tetap ditolak oleh Jihan.


"Ya udah, aku aja yang makan" ucap Barra sembari membuka sebuah telur yang dalam nya ada dua bola coklat dan mainan nya.


Srek


Mata Jihan melirik sekilas lalu kembali menatap ponsel, tapi itu hanya beberapa detik.

__ADS_1


"Lah kok?.."


__ADS_2