
Ooeekk Ooeekk
"Alhamdulilah bayi nya dah lahir" ucap para keluarga yang mendengar suara tangisan bayi dari dalam ruang persalinan.
Saling memberi selamat dan berpelukan bahagia, ada tangisan juga tapi bukan tangisan kesedihan tapi tangisan bahagia beberapa saat.
Hingga, Barra keluar dari ruang persalinan dengan raut bahagia dan seorang bayi laki-laki yang digendongnya.
"Cowok?" tanya Bunda setengah berbisik karna melihat cucu nya menutup mata tanda tidur setelah lelah menangis.
Barra mengangguk dengan senyuman yang tidak luntur sejak keluar ruang persalinan, seluruh keluarga kembali mengucapkan syukur kepada allah.
"Keadaan Jihan di dalam gimana?" tanya Ayah sembari memperhatikan wajah cucu pertama laki-laki nya itu dengan seksama yang terlihat mirip seperti Jihan.
"Lagi istirahat Yah, habis di bius sebentar oleh dokter tadi" jawab Barra dengan pelan ikut memperhatikan wajah tampan anak pertama nya.
"Akan kamu kasih nama siapa Bar?" tanya Nenek yang sedari tadi hanya menyimak, beliau juga ikut bahagia walau terbesit rasa rindu pada suami nya.
Andai kamu masih disini, pasti kamu akan bahagia melihat cucu mu sudah memiliki keturunan yang tampan. Batin Nenek menatap ke samping seakan ada sang suami yang menemani.
"Aarav, Aarav Rafazi Fathan" cetus Barra membuat yang lain tersenyum begitu juga bayi laki-laki yang tertidur di dekapan seorang lelaki yang baru menyandang status sebagai seorang, Papa.
"Bang Aarav" panggil Bunda dengan menoel-noel pipi Abang Aarav dengan gemas.
"Muka nya mirip Jihan, dari hidung mata alis pipi bibir" ucap Bunda mendeskripsikan wajah Abang Aarav.
"Hidung nya Barra, mancung" sahut Ayah ikut menimpali.
__ADS_1
"Mirip siapapun itu tidak masalah asal sehat dan dengan tubuh yang lengkap saja sudah sangat bersyukur" balas Barra membuat Bunda dan Ayah mengangguk bersamaan.
___
"Kapan nyusul Ci?" tanya Jihan sangat menohok bagi Cia yang masih berstatus tunangan dengan Denis.
"Secepatnya" jawab Cia sekenanya, sebenarnya dia malas meladeni pertanyaan seperti itu, dia dan Denis ingin fokus dengan belajar dulu baru lah memikirkan hal yang selanjutnya.
"Suruh cepet si Denis lamar lah, dan lama gak party weeding kita, Ersa aja bentar lagi mau nikah masa lu kagak?" ujar Adiba dengan perut buncit nya, kehamilan nya hanya tinggal sebulan tapi perut nya sudah bisa ditebak seperti bumil yang dekat dengan tanggal lahiran.
"Tunggu lu lahiran dulu baru gue bikin party, kalo dengan keadaan lu hamil bisa bisa brojol di acara ntar" balas Cia diangguki setuju oleh Jihan dan Ersa.
"Gila sih, gue homeschooling dari kejadian itu sampe sekarang, kalo bisa dihitung sih harus nya ini tanggal gue laporan skripsi bab akhir" cetus Jihan geleng-geleng kepala di brangkar sembari memberi asi pada putra nya.
"Kejadian yang mana?" tanya Adiba cengoh.
"Nah semenjak itu, Barra nyuruh gue homeschooling bahkan gue gak boleh terlalu mikirin soal kuliah samsek" jelas Jihan membuat Ersa melirik sekilas.
"Lah ini lu malah bahas kuliah, freak lu Ji" cebik Ersa mendapat cengiran dari Jihan.
"Btw, itu keadaan si Laras gimana? Udah bebas dari penjara apa masih di penjara" tanya Cia kepada Jihan. Jihan mengedik bahu tak tahu, yang tahu hanya para lelaki yang entah pergi kemana.
"Keknya kalo masalah dia cuma mencuri itu doang maybe dah keluar, tapi kasus dia bukan cuma itu kan.. Kata Adnan dia itu buronan polisi" celetuk Ersa diangguki oleh ketiga nya yang berada di dalan ruang VIP.
"Ya udah, skip lah soal tu orang ngapain dibahas lagi sih, udah 5 bulan berlalu ngapain pake diingatin" kesal Jihan sembari melahap apel yang baru dipotong oleh Cia.
"Ya maap Ji, kan lu yang awal nya bahas kejadian itu" ucap Adiba setelah minum air putih yang dia bawa kemanapun dia pergi.
__ADS_1
"Gue sering ke wc jir semenjak hamil, maksud nya paan ya?" tanya Adiba berdiri dari sofa hendak ke toilet diruangan itu.
Barra masuk saat Adiba baru menutup pintu toilet, dengan kantong kresek yang isi entah apa Barra membawa dan dia taruh di nakas brangkar, kemudian mencium pipi Jihan tanpa malu.
"Sopan dikit napa, ini masih pada nikah nih" ucap Cia merasakan panas melihat adegan mesra itu, sebenarnya itu sudah biasa tapi entah kenapa hari ini terlihat lebih panas dari biasa nya.
"Makanya suruh Denis lamar, biar cepet halal trus bisa mesraan tanpa takut dosa" balas Barra dengan tanpa dosa sembari bermain bersama anak nya yang sudah kenyang.
"Aku bawa keluar ya sayang, ketemu sama para uncle nya" ucap Barra meminta izin kepada Mama dari anak nya itu.
Barra melangkah keluar lagi, tapi sebelum sampai pintu Barra kembali berucap. "Ohh iya, itu di kantong kresek ada martabak tadi beli aku bawain buat kalian makan" cetus Barra membuat Ersa bangkit dari sofa menuju nakas brangkar tempat Barra menyimpan kantong kresek tadi.
"Mayan, gue lagi laper" gumam Ersa langsung melahap sepotong martabak, Cia juga ikut mencomot sedangkan Jihan dia tidak menyukai martabak jadi melirik pun dia tidak selera.
"Weh apa tuh, gak bagi-bagi" seru Adiba keluar dari toilet dan berjalan pelan menuju brangkar Jihan, dan menengadahkan tangan minta sepotong.
"Mau gak Ji?" tawar Adiba yang melihat Jihan tak ada minat untuk makan martabak.
"Gak makasih, gue lebih suka apel daripada martabak" tolak Jihan sembari melahap habis apel yang dipotong oleh Cia tadi.
"Lebih suka martabak manis yaa daripada martabak telur" ujar Adiba dengan kekehan sembari mengunyah martabak telur bawaan Barra tadi.
"Yupp" sahut Jihan dengan berbinar.
"Hahahaha" terdengar suara tawa yang membuat para lelaki diluar ruangan tersenyum, setidaknya mereka bisa berkumpul lagi sebelum akhirnya berpisah karna Cia akan melanjutkan studi di Belanda bersama Denis.
"Bahagia deh denger mereka ketawa" ucap Denis dengan senyum tipis dan diangguki ketiga teman nya.
__ADS_1