Suami Pilihan Bunda

Suami Pilihan Bunda
BAB 67


__ADS_3

"Ap-" ucap Jihan terhenti karena sebuah benda kenyal mendarat di bibir nya.


Cup


"Makasih dah ngobatin jempol gue yang enggak terlalu sakit ini" ucap Barra setelah berhasil mengecup bibir yang selama seminggu tak dapat dia rasakan.


Jihan terpaku sejenak, lalu menetralkan raut nya menjadi biasa saja dan melangkah meninggalkan Barra yang masih duduk di lantai yang dingin.


Setelah pintu kamar tertutup, Barra nampak terkekeh sambil memperhatikan wajah sendiri dari pantulan cermin besar di almari hadapan nya.


Gue kangen bibir manis itu lagi. Batin Barra menjerit kembali.


Jujur saja, tiap sebelum tidur pasti nya Barra memberi kecupan selamat tidur pada bibir yang baru saja berhasil dia kecup walau singkat, dan pastinya kelakuannya tak diketahui oleh Jihan.


Ceklek


Kriet


Jihan kembali dengan secangkir coklat panas di tangan nya, menutup pintu dengan perlahan setelah menyadari Barra telah berada di kasur dengan mata terpejam, entah itu tidur atau pura pura tidur.


"Cape banget ya? sampe sampe lo gak pake selimut, masuk angin baru tau rasa deh lo" dumel Jihan dengan pelan sambil menaikkan selimut yang berada di ujung kaki panjang Barra.


Biarin masuk angin yang penting lo peduli ma gue. Batin Barra mendengar dumelan pelan dari Jihan, dia tak benar benar tidur.

__ADS_1


Jihan duduk di kursi belajar nya samping nakas dan kasur yang ditempati Barra sambil mengamati wajah tampan yang sudah sebulan lebih seminggu menjadi milik nya, baru status nikah.


"Lo itu ganteng, tapi kenapa kelakukan lo kadang bikin orang mikir lo itu manusia jadi jadian atau manusia siluman pangeran" ucap Jihan sambil menyeruput coklat panas yang baru dia buat di dapur tadi.


Niat muji atau ngejek wahai bini cantik gue. Batin Barra mencibir, dia hanya berani berucap dalam hati kalau berucap spontan bisa bisa singa dalam tubuh Jihan keluar.


Jihan kembali diam sambil menatap wajah suami nya yang nampak risih, lalu menghela napas pelan sebelum mengucapkan kata yang selama seminggu ini tak dia ucapkan.


"Sorry Bar, setelah kejadian di mall itu gue malah kayak anggap lo gak ada di dekat gue, gue juga sadar kenapa lo narik gue buat menjauh dari tu cewek, cuma saat itu gue lagi gak bisa kontrol emosi gue, ditambah dia cap gue pel- akhh!" jelas Jihan tak melanjutkan kata kata terakhir yang selalu terngiang ngiang di otak nya selama seminggu ini.


"Gue.. gue minta maaf" lirih Jihan menunduk dengan mata berkaca kaca, sedangkan Barra nampak membuka kedua mata nya dan menatap Jihan di hadapan nya.


"Lo gak perlu minta maaf sama gue Ji, tugas gue sebagai suami bukan hanya untuk menafkahi lo dan anak anak kita kelak, tapi juga membimbing agar gak salah jalan" tutur Barra membuat Jihan mendongak.


"Gue belum selesai ngomong Ji, dia ngecap orang yang salah, dia gak tau kebenaran nya kalau lo itu adalah istri gue mulai sebulan lebih yang lalu hingga gue tiada nanti" lanjut Barra membuat mata Jihan tambah berkaca kaca.


"Buat apa lo masukin ucapan Sessa ke dalam hati? kalau itu gak bener lo anggap aja omong kosong yang kayak angin lalu, lo jangan mudah tersindir, tu cewek hanya coba buat bikin hubungan kita renggang yang pasti nya akan buat dia lebih mudah masuk ke dalam hubungan kita dan jadi orang ketiga, lo mau ada orang ke-" jelas Barra dipotong oleh Jihan dengan sebuah benda yang sangat Barra inginkan.


Cup


Jihan melum*atdengan lembut bibir Barra, ini pertama kali nya Jihan mendengar ucapan Barra panjang lebar, tapi ucapan panjang lebar kali ini malah membuat telinga Jihan panas dan akhirnya Jihan membungkam mulut Barra dengan mulut nya.


Barra memejamkan mata nya seperti Jihan, dan menarik pinggang Jihan agar duduk di pangkuan nya, satu tangan nya menekan tengkuk Jihan agar lebih memperdalam cium*n itu, dan satu tangan nya berada di pinggang langsing Jihan.

__ADS_1


Kedua tangan Jihan berada di pundak kekar Barra, setelah puas bermain di bibir Barra beralih pada leher putih dan mulus milik istri nya yang tak ada bekas luka.


Memberi sebuah kissmark yang membuat Jihan mencengkram pelan rambut hitam Barra dari belakang menahan sensasi berbeda dari biasa nya.


Dan inilah keberuntungan bagi Barra, karena Jihan memakai piyama dengan kancing yang membuat nya mudah melepas piyama itu.


Jihan nampak malu karena tubuh atas nya polos di depan Barra, dia tak memakai bra karena terbiasa tiap malam tak memakai bra, takut penyakit.


"Lonceng?" gumam Barra tanpa sadar menelan saliva nya dengan kasar melihat dua buah pepaya bergelantungan yang tanpa di bungkus apapun di hadapan nya.


Menatap Jihan yang sudah semerah tomat di pangkuan nya, tatapan nya seperti meminta izin, membuat Jihan kembali sadar bahwa ini sudah terlalu ekstrim.


Bukan nya menjawab tatapan Barra, Jihan malah beranjak dari pangkuan Barra dan menarik selimut menutupi seluruh tubuh nya yang masih belum terpakai piyama, polos atas euy.


Deg


Woy..! maksudnya? ini gue di php in gitu? ya allah..! Vovo bangun. Batin Barra menjerit menatap celana nya yang sesak.


Gagal total anjir, Vovo lo mau pake dibantuin siapa? mbak lux atau foto Jihan? okeh foto Jihan. Batin Barra lagi mengambil ponsel nya yang berada di nakas dan membawa nya ke dalam kamar mandi, sebelum masuk kamar mandi Barra menoleh ke kasur tempat Jihan sekarang.


"Jahat lo Ji" gumam Barra dengan tampang sedih.


Barra menghela napas dalam dan masuk ke kamar mandi dengan tampang sedih, sedangkan Jihan setelah mendengar bunyi pintu terkunci langsung membuka selimut dan mencari keberadaan piyama yang tadi dilepas oleh Barra.

__ADS_1


Sorry Bar, bukan maksud gue buat ngasih harapan palsu, tapi gue masih belum siap kalau keperawanan gue diambil, walau gue tau itu hak lo sebagai suami, tapi.. maafin gue ya Vovo. Batin Jihan merasa bersalah sambil memakai piyama dan kembali masuk ke dalam selimut menutupi tubuh nya sampai leher.


__ADS_2