Suami Pilihan Bunda

Suami Pilihan Bunda
BAB 110


__ADS_3

Cia ditarik oleh Rangga menjauh dari para sahabat nya dan juga pacar nya tanpa di sadari oleh siapapun. Selama perjalanan Cia berontak tapi tak dihiraukan oleh Rangga.


Sampai di belakang sekolah, ada sebuah taman kumuh yang sudah tak urus hanya ada satu gazebo berlumut dan berdebu, dua kursi yang rapuh dan tempat itu sangat seram.


"Ih apaan sih Rang? sakit tau gak?!" tepis Cia menghentakkan tangan nya agar terlepas dari genggaman Rangga.


"Gue cuma mau ngomong sama lo berdua, apa susah nya sih hah?!" bentak Rangga mengeluarkan sifat asli nya.


Cia berdecih dan membuka muka beberapa detik lalu menatap Rangga dengan bersedikap dada dan tatapan dingin.


"Lo mau ngomong kan? silahkan gue dengerin" ucap Cia dingin tanpa rasa kasihan atau apapun sedikitpun terhadap Rangga.


"Gue oengen kita kayak dulu lagi" kata Rangga mendapat tawa hambar Cia yang merasa itu lelucon terlucu.


"Lo waras gak sih? gue dah punya Denis, cowok badung dari cover tapi baik di dalam, gak kayak lo! cowok disiplin diluar breng*ek di dalam!" balas Cia mengeluarkan perkataan pedas nya.


Rangga mengepalkan tangan erat. "Ci, tiap hubungan pasti akan kandas, dan gue juga yakin hubungan lo sama dia bakal berakhir sebentar lagi" yakin Rangga dengan rahang mengeras.


Cia kembali tertawa hambar. "Jangan lo samain hubungan gue sama pacar gue, dengan hubungan gue sama lo Rangga Ravendro, dia sama lo itu beda, BEDA JAUH!" kata Cia menekan kata diakhir.


Rangga yang sudah tak bisa menahan emosi pun mendorong Cia hingga membentur dinding sekolah yang nampak terkelupas.


"Aww!" rintih Cia merasa sakit di belakang nya, entah itu benda apa yang berbenturan dengan punggung nya.


Rangga tak menghiraukan rintihan Cia, dia memperhatikan wajah Cia yang cantik dengan make up tipis yang sangat cocok digunakan di wajah Cia.


"Mau lo apa sih hah?! kalo cuma buat kekerasan mending gue pergi aja" tanya Cia sekali lagi dengan suara meninggi.


"Gue mau lo jadi milik gue" cetus Rangga ambigu, membuat Cia merinding seketika ditambah tatapan Rangga yang menatap dengan tatapan hendak memangsa.


"Jangan mimpi lo Rangga! gue itu punya Den-empphh" sahut Cia langsung terhenti karna bibir Rangga yang membungkam bibir nya yang hendak menyebut nama Denis.


Mata Cia membola. Seketika Cia mencoba mendorong tubuh Rangga yang kekuatan jauh lebih besar, mencoba memalingkan wajah nya menghindari ciuman Rangga.


Itu bukan ciuman pertama! ciuman pertama sudah diambil oleh.. Denis Praditha_-.

__ADS_1


Denis!!. Batin Cia menjerit memanggil kekasih nya.


Sementara, Denis dengan kawan kawan nya kalang kabut mencari di sekitar sekolah, sebentar lagi pengumuman kelulusan akan di umumkan di lapangan nanti.


Setiap tempat mereka temui tapi tak ada yang bisa menemukan keberadaan Cia yang entah dibawa oleh Rangga kemana.


Kalo sampe cewek gue kenapa napa karna lo! awas aja lo Rangga! hidup lo akan sangat menderita. Batin Denis menaruh dendam pada Rangga yang membawa kabur kekasih nya.


Barra merasa jengah melihat istri nya juga kawan kawan yang lain mondar mandir di depan nya pun akhirnya bangkit.


Tapi bukan bolak balik seperti yang dilakukan oleh para kawan kawan dan istri nya. Barra melangkah ke arah kiri dari tengah lapangan.


Arah itu membawa Barra ke taman kumuh yang selalu menjadi bahan untuk gosip horor, bahwa disitu ada penunggu nya atau apalah yang horor.


Yang lain pun mengekori kemana Barra pergi tanpa sepatah kata.


Cia mendorong Rangga sekuat tenaga nya, disaat Rangga sedikit lengah Cia menginjak kaki Rangga dan bersiap kabur.


"Argh!" jerit Rangga tertahan.


"Lo gerak yang dibawah bisa bangun" ancam Rangga berbisik dengan tangan yang memeluk perut rata Cia mulai nakal.


Cia mengapit kedua paha nya, dan menggigit bibir nya agar tidak mengeluarkan suara yang membuat Rangga semakin tegang.


"Lo bakal jadi milik gue, mulai sekarang!" bisik Rangga seksi sesekali menggigit daun telinga Cia yang putih bersih tanpa kotoran.


Cia hanya bisa menangis dan menatap rumput yang berwarna kuning.


"Woy! breng*ek juga ya lo!" teriak Barra datang dengan suara bariton, disusul Denis dan yang lain dengan keadaan masih panik.


Deg


Mata Denis membola melihat pandangan itu, sedangkan para gadis membalikkan badan nya ke belakang kecuali Jihan yang sudah berwajah merah padam.


"Sia*an! jauhin tangan kotor lo dari tubuh Cia, dasar breng*ek!" umpat Denis hendak maju melangkah mendekati Cia dan Rangga, tapi dicekal oleh Barra yang nampak memberi isyarat tidak.

__ADS_1


Denis mendesah pasrah dengan wajah merah padam menahan emosi, melihat Cia menangis dan diperlakukan seperti itu siapa yang tidak marah, apalagi Cia adalah pacar nya.


Cia menatap Barra dengan linangan air mata, terlihat Barra mengangguk samar. Tapi ditanggapi Cia dengan *******.


Hanya lewat mata ke mata mereka berbicara. Dan hanya mereka juga yang tau apa yang mereka bicarakan.


Akhirnya Cia menghela napas pelan lalu mencoba menghentikan isak tangis nya. Tapi tanpa di duga tangan Rangga sudah berada di salah satu buah pepaya yang terbungkus seragam.


Ugh-


Rangga sedikit meremas buah pepaya itu mengecek apa sudah matang atau belum, bila sudah siap untuk di petik.


Cia melenguh tertahan dengan wajah merah semerah tomat, bahkan Azkan dan Adnan pun ikut berbalik sedangkan Barra hanya melirik Jihan yang berada di samping nya.


"Keluarkan sayang, jangan ditahan" bisik Rangga dengan sensual, dan menatap Denis dengan seringaian kemenangan.


"Bang*at jauhin lo dari apa yang sudah jadi milik gue!" teriak Denis bertambah emosi kepada Rangga yang semakin gila.


"Lo maju, masa depan Cia jadi milik gue" ancam Rangga tanpa melonggarkan pelukan itu, bahkan dia sempat memaju mundur kan pinggul nya membuat Cia menahan napas.


Denis tau maksud Rangga pun tak jadi maju, tapi dia tak mau tinggal diam sampai disitu saja. Dia harus memikirkan cara lain agar Cia selamat.


Gue dah jadi cewek kotor! gue gak cocok bareng sama Denis! Huaa.. Mami jemput aku Mi, aku ingin ikut mami ke sorga bertemu Tuhan Yesus. Batin Cia dengan isak tangis kembali keluar.


Mami Cia telah meninggal saat Cia kelas 8 SMP yang artinya sudah 5 tahun Cia hidup tanpa seorang Mami, hanya Papi yang menjadi teman serumah nya bersama Bang Doni, kakak angkat nya.


"Rangga! lepasin dia" teriak seorang gadis datang dari samping Denis, dengan tanpa ragu melangkah maju mendekati Rangga.


"Kenapa? bukan nya ini yang lo mau?" tanya Rangga terheran heran menatap gadis di hadapan nya yang menghentikan aksi nya itu.


"Iya sih, tap-" jawab gadis itu hendak menjelaskan tapi dipotong oleh Cia yang tiba tiba berontak.


"Lo Zila kan? cewek yang sebulan yang lalu ngajak duel di lapangan basket Dharma Bakti" tanya Cia dengan berontak dalam pelukan Rangga.


Gadis itu nampak panik tapi dia berusaha untuk tetap tenang dan menjawab dengan anggukan.

__ADS_1


__ADS_2