
"Gimana hasilnya?" tanya Barra harap-harap cemas sembari menunggu di tepi ranjang bersama Jihan tentunya yang baru melakukan uji tes urine.
"Sabar" decak Jihan merasa kalau Barra terlalu mendesak, hanya tinggal menunggu beberapa menit hasil berapa garis di tespack akan muncul.
Barra mengambil napas, dia bahkan lebih dulu bangun dibanding Jihan yang nampak malas-malasan untuk bergerak.
"Mending kita turun dulu aja deh, hasil nya nanti kita liat. Temui Nenek Kakek dulu ayok" ajak Jihan merasa bosan di dalam kamar.
"Ih bentar lagi itu padahal hasil yang" tolak Barra memelas.
Jihan yang sudah terlanjut bosan pun menghentakkan kakinya di lantai dan pergi meninggalkan Barra di kamar sendirian yang masih setia menunggu hasil testpack itu.
"Kalo pun gue hamil kan pasti dah ketahuan, gue dah mual. Ini kenapa gue jadi emosian, mageran, ngambekan pulak hadeuhh" gumam Jihan kesal selama perjalanan ke lantai bawah.
"Pagi Nek Kek" sapa Jihan kembali cerah ikut bergabung dengan Nenek Naira dan Kakek Irfani di teras rumah yang sedang memperhatikan jalanan yang nampak sepi.
"Pagi juga nak" balas Nenek dan Kakek serempak.
"Gimana udah tau hasil nya?" tanya Nenek Naira to the point, ternyata bukan hanya Barra yang sangat menunggu tapi Nenek Naira juga sudah menunggu.
"Belum Nek, nanti kalo dah ada hasil nya palingan si Barra kasih tau" jawab Jihan dengan gelengan pelan. Nenek Naira mengangguk dengan helaan napas.
__ADS_1
"Kita pasti dapat buyut pertama, tenang saja" cetus Kakek Irfani dengan tersenyum dan mengusap punggung istri nya yang masih terlihat cantik dan muda dimata nya.
Jihan menatap lekat wajah Kakek Irfani yang nampak putih berseri, entah kenapa perasaan nya jadi tak enak setelah melihat senyuman manis yang diberikan Kakek Irfani.
Beberapa detik kemudian, keheningan terjadi karna Jihan dan Nenek Kakek nya Barra fokus dengan pandangan lurus ke depan mengarah ke jalanan.
"Buatlah rumah ini jadi ramai seperti dulu ya nak" cetus Kakek Irfani membuat Jihan menoleh ke belakang, karna Jihan duduk di tangga teras.
"Maksud Kakek itu buat anak yang banyak biar makin ramai dan gak sepi ini rumah" jelas Nenek Naira seakan paham tatapan Jihan yang seolah tak mengerti.
"Ohh, insyaallah kalo Allah menghendaki pasti ada jalan nya kok Nek Kek" balas Jihan dengan senyuman dan tentunya dibalas Nenek dan Kakek.
Terlihat Barra di tengah-tengah tangga sembari memegang tespack di tangan kiri nya dengan tatapan sulit di artikan oleh Jihan.
"Ada apa?" tanya Jihan mendekati Barra dengan panik.
Sementara Nenek Kakek di bawah tangga menunggu jawaban Barra yang masih diam tanpa suara.
"Hey By!" tegur Jihan menyadarkan Barra ditengah lamunan nya.
Barra kembali ke dunia nyata dan langsung memeluk Jihan tanpa aba-aba atau kata-kata yang membuat Jihan kaget dan hampir tak bisa menjaga keseimbangan nya.
__ADS_1
Jihan mendorong dada bidang Barra agar bisa melihat wajah sang suami yang masih belum bersuara sedari tadi.
"Jawab dulu malah langsung peluk" ucap Jihan setelah dapat melihat wajah Barra yang nampak berbinar dan menggenang air mata di pelupuk.
"Kamu hamil!" pekik Barra kembali memeluk Jihan yang masih terpaku.
Nenek Kakek pun ikut terdiam, kemudian sadar dan langsung tersenyum bahagia saling berpelukan erat karna akan mendapat buyut pertama.
Hanya Jihan yang terdiam, tak membalas atau menolak pelukan Barra, dia masih kaget setelah mendengar kenyataan bila dia benar-benar hamil.
Merasa tak ada perlawanan membuat Barra melepas pelukan dan menatap wajah cantik istri nya yang selalu cantik walau tanpa make up sekalipun.
"Ka-kamu gak suka kalau kamu hamil?" tanya Barra dengan pelan dengan bergetar. Jihan segera menggeleng dengan tatapan kosong ke depan.
"Aku cuma gak percaya aja, ada bayi dalam perut aku yang hidup" jawab Jihan lirih tanpa sadar meneteskan air mata, Barra mengusap pelan air mata itu dan mengecup pelipis Jihan.
Jihan terpejam menikmati kecupan lembut di pelipis nya, entah kapan juga tangan nya sudah berada di perut nya yang masih rata.
"Tapi kamu seneng kan ada kalau kamu hamil?" tanya Barra setelah memberi kecupan lembut. Jihan mengangguk dengan senyum tipis.
Barra kembali memeluk Jihan dan kali ini disambut oleh Jihan, Nenek dan Kakek pun ikut bahagia melihat cucu-cucunya bahagia.
__ADS_1