Suami Pilihan Bunda

Suami Pilihan Bunda
BAB 41


__ADS_3

Barra yang baru selesai membaca dokumen dan Jihan yang sedang mengering kan rambut nya mengguna kan hairdryer sama sama tanpa ada sepatah kata yang keluar dari mulut kedua nya, pasutri baru itu nampak nya malu bila saling bertatapan dan seketika ingatan itu kembali berputar di otak kedua nya.


Warna langit mulai berubah menjadi biru gelap yang berarti sudah malam, di temani bulan dan bintang yang bersinar terang menambah kesan pada langit biru malam itu.


Adzan maghrib telah terlewat kan, dan dilaksana kan sholat oleh umat muslim dan muslimah yang mendengar adzan berkumandang nyaring di tiap masjid.


Barra sholat maghrib sendiri karena dia juga sudah mengetahui kalau Jihan sedang kedatangan tamu special, maka dari itu saat itu dia tidak mau membangun kan Vovo.


Sedang kan Jihan, dia sibuk memasak di dapur yang berukuran sedang dengan kulkas dua pintu di samping kanan dan kompor masakan di samping kiri yang menambah kesan mewah tapi sederhana.


Apalagi dapur apartemen Barra sangat bersih, seperti tak pernah di sentuh atau di pakai oleh penghuni apartemen itu, dan memang benar Barra sangat jarang memasak di dapur, dia ke dapur hanya mengambil piring sendok gelas atau minuman di kulkas karena dia selalu membeli makanan di pedagang kaki lima dan memakan nya sendirian.


Ada masa nya Barra memasak sendiri dan itu pun hanya sesekali karena aktifitas Barra yang padat membuat nya jarang berada di apartemen, dia lebih sering berada di ruang kerja, bscamp atau rumah utama.


Membuka kulkas dan terlihat hanya ada dua telur ayam dan sebungkus mie instan goreng, helaan napas pelan terdengar yang keluar dari hidung Jihan.


Mie instan terlalu banyak juga bahaya buat kesehatan nya. Batin Jihan sedikit mengomel karena makanan yang dimakan sang suami sebelum menikah sangat tidak bergizi dan bisa membuat usus buntu.


"Huhh.. tapi malam ini gue harus masak mie, karena hanya ada mie sama telur aja, besok setelah pulang sekolah gue bakal ngajak Barra ke minimarket buat belanja mingguan" gumam Jihan sambil mengeluar kan bahan bahan yang dia perlu kan.


Teplon sudah tersedia di atas kompor yang sudah di nyala kan, setelah merasa mulai mengeluar kan asap Jihan menuang kan minyak goreng tak terlalu banyak ke dalam teplon.


Menunggu sampai minyak goreng itu panas, Jihan memecah kan dua telur itu ke dalam wadah bulat dan cukup besar lalu menabur kan bumbu penyedap rasa, rayco, serta garam sejumput, dan di kocok hingga merata.


Membuka satu bungkus mie instan tapi sebelum membuka bungkusan mie itu, Jihan ******* ***** dengan sekuat tenaga agar mie nya remuk. Memasuk kan mie yang sudah di remuk ke dalam wadah berisi telur yang sudah di kocok tadi lalu di aduk sebentar.

__ADS_1


Bumbu mie juga Jihan masuk kan agar tidak hambar saat dimakan nanti, setelah itu menuang kan telur serta mie itu ke dalam teplon yang sudah panas.


"Berasa jadi chef dadakan" gumam Jihan cekikikan sambil membolak balik kan telur yang sudah mulai membulat bersama mie itu.


Tanpa Jihan sadari bahwa Barra memperhati kan setiap gerak gerik Jihan di dapur yang memang posisi nya membelakangi dan Jihan tak pernah berputar atau menoleh ke sana ke mari, Jihan hanya fokus pada satu tempat yaitu, teplon.


Aroma telur bercampur mie goreng itu mulai terasa dan menyeruak sedap di hidung Barra begitu juga Jihan yang memasak.


(fyi: resep nya ngasal woi! gue lupa gimana mama gue bikin nya hehehe)


"Em.. aroma nya nih enak moga aja deh rasa nya juga enak" gumam Jihan menaruh telur mie di piring bulat dan berukuran sedang berwarna putih tulang.


Berbalik badan hendak menaruh piring berisi telur mie ke meja makan, tapi langsung di kejut kan dengan keberadaan Barra yang duduk santai di kursi dapur sambil memegang garpu dan sendok.


Untung lah Jihan tak menjatuh kan piring yang ada di tangan nya, jika di jatuh kan mungkin saat itu juga Barra akan keluar dari apartemen dan makan di pedagang kaki lima lagi.


"Aroma nya yang manggil gue" jawab Barra singkat sambil menyuap telur mie buatan Jihan tanpa nasi, karena dia ingin mencoba yang original nya dulu baru lah mengguna kan nasi, pikir Barra.


Jihan mangut mangut sambil mengambil kan nasi untuk Barra, dia sudah mulai belajar bagaimana jadi seorang istri yang baik dan pasti nya penurut dengan suami asal sang suami menyuruh nya berlaku baik bukan berlaku jahat dan membuat dosa nya semakin menumpuk.


"Semana ini nasi nya?" tanya Jihan baru menaruh satu sendok nasi ke piring Barra, dia takut terlalu banyak dan akan membuat nasi nya terbuang sia sia.


"Dikit lagi" jawab Barra menatap wajah Jihan sekilas lalu kembali menatap piring nya yang sudah siap di santap.


Jihan mengambil setengah sendok nasi lagi, lalu terlihat Barra mengangguk antusias bahkan raut nya layak seperti anak kecil yang menggemas kan.

__ADS_1


Duduk di samping Barra yang sedang membaca doa sebelum makan dengan senyum kecil, dan memperhati kan reaksi Barra saat suapan pertama berhasil masuk ke dalam mulut Barra.


"Gimana? enak ga? jujur aja! ga perlu bohong" desak Jihan tak dapat dia pungkiri, ini pertama kali nya memasak an makanan untuk orang lain, biasa nya dia hanya akan memasak untuk diri nya sendiri, kadang membantu Bunda Lifah memasak itupun hanya tugas ngoseng saja.


Barra terlihat seperti berpikir, lalu kembali menyuap kan satu suapan ke dalam mulut nya tanpa sepatah kata yang membuat Jihan merasa jengkel karena tak mendapat jawaban yang dia tunggu tunggu.


"Bar ih! lo ya! ngeselin tau ga! jawab dong ah! enak apa ga?" sungut Jihan menggoyang kan paha Barra, dia tak berani menggoyang kan lengan Barra takut sendok yang dia pegang jatuh atau mengenai mulut Barra dan pasti akan membuat berdarah..


"Njir! ******* yang gue baru pertama kali denger setelah sekian lama gue cuma denger ******* tak ada merdu nya dari tiga manusia tarzan itu kalo lagi ngomong" heboh Barra mendengar suara Jihan yang agak mendesah walau dia tau itu ******* kesal bukan ******* kenikmatan.


Plak


Paha Barra kena geplakan tangan Jihan sangat keras, Barra meringis kesakitan tapi tetap melahap nasi serta telur mie hingga membuat mulut nya penuh.


"Kenapa malah jadi heboh soal desah *******! gue kan minta jawaban yang pasti, enak apa ga? kalo ga enak ga usah di makan! biar entar gue masak lagi, tapi besok sih kan bahan bahan nya habis" omel Jihan tak mau telinga nya ternodai akibat perkataan Barra.


"Lo ga liat gue lagi ngapain?" tanya Barra setelah menelan sisa makanan yang ada di dalam mulit yang awal penuh kini kosong.


"Lagi makan" jawab Jihan dengan polos.


"Nah tu tau" balas Barra kembali melahap telur mie serta nasi hingga habis tak tersisa di dalam piring nya.


Sendawa kecil Barra terdengar, Jihan tertawa ngakak setelah mendengar sendawa Barra yang kecil tapi berkali kali, sedang kan sang empu yang bersendawa merasa malu karena sendawa memang kecil tapi berulang ulang.


"Lo ga pernah sendawa apa? sampe banyak gitu" tawa Jihan masih menyertai saat Jihan bertanya, bahkan dia sampai memegang perut nya yang kram akibat tertawa dan memegang pinggiran meja dapur agar tidak terjungkal ke belakang.

__ADS_1


"Bukan ga pernah, tapi jarang" jawab Barra membuat tawa Jihan mereda.


__ADS_2