
"Barra?" syok Jihan dengan tegang.
Sedangkan Barra hanya tersenyum tipis dengan sedikit tatapan bingung kepada sang istri yang masih setia menemani nya selama sebulan ini.
"Kok lo disini?" tanya Jihan cengo, membuat Barra tersenyum kecil karena tingkah Jihan, dia masih tak sadar kalau dia berada di SMA Merdeka bukan SMA Dharma Bakti.
"Harus nya gue yang tanya gitu sama lo, lo ngapain ke SMA Merdeka?" tanya Barra balik sedangkan Jihan menatap ke kanan dan ke kiri memeriksa tempat yang dia pijak saat itu.
Setelah sadar bahwa dia berada di SMA Merdeka, Jihan menampilkan cengir kuda yang menggemaskan bagi Barra yang masih tersenyum kecil.
"Gue ada-"
"Ji! ngapa lu berenti sih! ayukk!! udah di tungguin ini loh.. pake ngobrol segala, buang buang waktu aja lu ahh!" semprot Adiba menarik paksa tangan Jihan.
"Eh eh?! tunggu dulu Dib" tolak Jihan mencoba menahan tangan Adiba agar tidak menarik nya, dia sedang mengobrol dengan sang suami tapi pengacau datang_-.
"Gagaga! kita berdua udah ditunggu noh sama guru" paksa Adiba sedikit melotot niat nya ingin mengancam Jihan agar dia menurut.
Jihan berdecak kesal dan mengikuti Adiba tanpa pamitan pada Barra yang dalam mode bingung sambil menatap punggung nya yang berbelok ke kanan.
Barra bergidik bahu acuh dan kembali melanjutkan langkah nya ke toilet siswa yang berada ujung.
Sedangkan Jihan dan Adiba telah sampai di kelas 12 ipa 1, kedua nya sedang berdiri mematung di ambang pintu kelas yang terbuka.
Masih belum ada yang menyadari kedatangan dua gadis biang onar dan most wanted dari SMA Dharma Bakti yang begitu siswa SMA Merdeka incar sejak pertama kali Jihan dan Adiba masuk sekolah menjadi murid baru.
"Kampr*t lu bilang guru nungguin kita, tapi apa? ini guru nya aja kagak nyadar ada kita di sini, berasa lukisan recehan yang di pajang di pojokan anjirt!" cibir Jihan pelan agar tidak di dengar oleh para murid 12 ipa 1 yang fokus pada papan tulis yang menjelaskan materi praktek hari itu, bahkan bisa dilihat di tiap meja terdapat perabotan dan bahan bahan masakan yang sudah di sedia kan.
"Sengaja gue tadi, lu itu harus nya inget dah punya suami, mana boleh ngobrol sama yang bukan mahram, dosa lu sama suami lu" sungut Adiba berbisik, dia memang tidak tau siapa tadi yang diajak mengobrol oleh Jihan.
"Bukan mahram lu bilang?! heh lu tau gak siapa tadi yang gue tabrak hah?" balas Jihan pelan sesekali melirik ke dalam kelas 12 ipa 1.
Adiba menggeleng polos dengan tampang watados. "Emang siapa? jangan bilang itu Barra" tebak Adiba dengan tampang berubah menjadi khawatir.
"Nah itu tau, siap siap aja dah lu kena omelan dari suami gue" Jihan mengatakan itu hanya main main karena tak mungkin Barra melakukan itu.
Adiba menepuk jidat cukup keras dan membuat satu kelas 12 ipa 1 mengalihkan pandangan ke arah pintu yang berada di sebelah kanan, begitu juga guru yang mengajar.
Jihan menghela napas dan menunduk malu dengan sang sahabat yang tak tau tempat menepuk jidat nya begitu nyaring, sedangkan Adiba seperti tak terjadi apa apa.
__ADS_1
"Kalian berdua murid yang di suruh sama Bu Rindi kah?" tanya Pak Yanto melangkah mendekati dimana Adiba dan Jihan berdiri.
"I-iya Pak, kata Bu Rindi kami berdua ditugaskan untuk menjadi juri dalam kegiatan di kelas 12 ipa 1" jawab Adiba diangguki oleh Pak Yanto.
Sedangkan murid yang berada di dalam kelas menjadi riuh dan penasaran dengan dua gadis cantik berjilbab yang memiliki logo SMA Dharma Bakti.
Azkan merasa mengenali seseorang yang dia rindukan sejak sebulan ini itu langsung bersemangat, awal nya dia dan Barra memiliki rencana untuk bolos tanpa mengajak Denis dan Adnan.
Tapi seperti nya rencana itu di hilang kan dari otak nya, saat mengetahui bahwa juri dalam praktek memasak kali ini adalah gadis yang dia idamkan, dia langsung mengetik sebuah pesan pada Barra.
π¨ AzkanGan.
Woy! Bar, gue gk jdi bolos
Tak lama setelah Azkan mengirim pesan sembunyi sembunyi itu, terdengar bunyi dering ponsel bermerek realme milik Azkan berbunyi tak terlalu nyaring tapi membuat Denis dan Adnan menoleh.
π© Barrarazithan.
kampr*t, gue dah nunggu anying
npa lu gk bolos?
π¨ AzkanGan.
π© Barrarazithan.
cedam paan dah?
π¨ AzkanGan.
Cewek idaman gueπ
π© Barrarazithan.
sejak kpn lu punya cedam njir?! lu kan belok
"Minta ditimpuk ni boss gue" cibir Azkan merasa kesal dengan pesan yang dikirim oleh Barra terlihat seperti ejekan.
π¨ AzkanGan.
__ADS_1
Sejak lu nikah sama bini lu, dan situ lh cedam gue hadir
Azkan mengetik dengan songong dan percaya diri tapi itu membuat Barra yang di luar toilet tersenyum miring, Barra sedang bersandar di dinding toilet menunggu Azkan tapi bukan nya datang malah dia mendapat pesan yang membuat kesal dan mendengus sebal.
π© Barrarazithan.
cih!
sok sok an lu, monyet lepas.
"Minta dihajar beneran si boss" sungut Azkan, dia hanya mengatakan itu tanpa ada niatan mengetik apa yang dia ucapkan, karena pasti akan jadi malapetaka untuk diri nya sendiri.
Karena Azkan belum membalas pesan yang dikirimkan Barra, terdengar suara dering telpon di ponsel yang berada di dalam laci meja.
Drtt drrt
"Sumpah ni orang, kalo bukan boss gue udah gue cincang abis tu jari nya" sembur Azkan beringsut kesal tapi tetap menekan tombol hijau pada look screen di ponsel nya.
Belum sempat Azkan berbicara, Barra sudah memotong pembicaraan nya dengan pertanyaan bertubi tubi.
"Hal-"
π Barrarazithan. "Woy jingan! gue nanya lu kacangin, gue tuh nanya kenapa lu gak jadi bolos? lu insaf? lu pengen tobat? atau ada yang menarik di kelas sampe lu gak jadi bolos hah?!"
AzkanGan. "Astaghfirullah, kok lu jadi cerewet sih boss?" Azkan geleng geleng kepala heran.
π Barrarazithan. "Bodoamat! gue nanya anjirt! jawab cepetan asukk!" terdengar seperti desakan.
AzkanGan. "Sabar, calm done ae boss. gue gak jadi ikutan lu deh buat bolos"
π Barrarazithan. "Dih napa lu?"
AzkanGan. "Ada Diba woy! eh Jihan juga" heboh Azkan tersadar ada satu gadis lagi yang sudah menjadi milik si boss yang sedang mengobrol lewat telpon dengan nya.
π Barrarazithan. "Hah?!"
Tut
Via telpon itu buru buru Azkan matikan karena Pak Yanto menatap nya tajam, sedangkan Jihan dan Adiba melangkah masuk ke dalam kelas 12 ipa 1 dengan menunduk datar.
__ADS_1