Suami Pilihan Bunda

Suami Pilihan Bunda
BAB 52


__ADS_3

"Dan juga, Jihan pasti tambah sibuk, dia kan sering kerja kelompok dan pasti waktu luang nya hanya sedikit" timpal Ayah Elan.


Bunda Lifah mangut mangut.


Sejujurnya, Ayah Elan pun merindukan putri bungsu cantik nya itu, tapi dia berusaha meyakinkan sang istri agar tidak berpikiran negative yang akan membuat nya selalu kepikiran.


Semoga Barra bisa menjaga dan menyayangi Jihan dengan sepenuh hati, walau mereka di nikahkan tanpa ada masa pendekatan atau ta'aruf tapi bisa ku lihat saat acara ijab kabul keduanya terlihat bahagia, lagipula Barra pasti bisa membagi waktu bekerja, sekolah, dan untuk Jihan. Batin Ayah Elan berpikir positif.


"Eh ini kok Bunda ga ngoceh lagi? udah tidur kah?" tanya Ayah Elan dengan suara lirih, sambil melirik ke samping dimana Bunda Lifah sudah tertidur pulas di bantali lengan Ayah Elan yang masih berotot.


Ayah Elan terkekeh pelan, lalu memperbaiki posisi tidur Bunda Lifah, mendekap erat tubuh wanita yang telah bertahun tahun menemani hingga bisa sesukses ini.


Lalu mengikuti dunia Bunda Lifah yang berada di bawah alam sadar, dengan posisi Ayah Elan memeluk Bunda Lifah.

__ADS_1


___


Pagi nya di apartemen.


Seperti biasa Jihan melakukan rutinitas di pagi hari, mulai dari memasak sarapan untuk dia suami nya nanti, dan juga sedikit membersihkan bagian ruang tamu yang mulai berdebu.


"JI!! PASANGIN DASI!!" suara bariton Barra menggema di lantai dasar dan lantai dua apartemen mereka, kebiasaan Barra semenjak menikah adalah dasi yang di lepas acak niat nya agar selalu di pasang kan dasi oleh Jihan.


Jihan menghela napas kasar, lalu menaruh sapu gagang di tembok bercat abu abu, tiap pagi di hari senin dan selasa pasti nya dia akan disuruh pasangkan dasi, padahal sudah Jihan beritahu bagaimana cara memasang dasi yang benar, entah sengaja atau tidak Barra melakukan itu.


Kriett


"Astaga.. kenapa harus gue mulu sih yang pasang? kan udah gue bilang cara itu tinggal di- emmh" cerocos Jihan terhenti karena Barra mendekap mulut nya dengan tangan kanan nya.

__ADS_1


"Jadi istri jadi suka cerewet, dosa..." ucap Barra menyeringai licik tanpa ada niatan melepaskan bungkaman mulut Jihan.


"Lakuin aja napa sih, dapat pahala loh bikin suami bahagia" sambung Barra melepas bungkaman tangan nya pada mulut Jihan. Jihan mendengus kesal tapi tetap menurut untuk memasang kan dasi.


"Iya suami ku.. istri mu ini akan melakukan apa yang suami ucapkan asal jangan menyuruh istri kecil mu ini membunuh mu secara perlahan suami ku" sahut Jihan dengan senyum licik seperti Barra.


Barra mencubit kedua pipi Jihan gemas yang sibuk memasangkan dasi di leher kerah seragam nya. Tersenyum tipis sambil mengecup pipi Jihan yang agak merah akibat nya.


"Dosa kalo mau bunuh secara perlahan, entar jadi janda baru tau rasa" ucap Barra merapatkan tubuh nya pada Jihan dengan memeluk pinggang ramping Jihan.


"Janda karena ditinggal suami ga papa soalnya banyak yang antri, tapi janda di cerai sama suami itu biasa nya ga laku, soalnya ga bisa jaga hubungan nya dengan baik" jelas Jihan panjang lebar sambil merapikan tataan seragam urakan Barra.


"Ga ada kek gitu! sampe ada yang ngerebut lo dari gue, gue terror dia nya, gue ganggu dia" sungut Barra menarik pinggang Jihan agar lebih merapat.

__ADS_1


Jihan mencebik lalu terkekeh merasa kalau Barra cemburu.


__ADS_2