
Adiba sudah bersiap dengan outfit yang tentunya sangat menarik dan cantik saat di kenakan. Bahkan Riski, abang sepupu nya yang tak sengaja lewat kamar Adiba pun ikut tertarik dan berbalik.
(Perhatikan style bukan visual!)
"Buset.. ini adek sepupu gue atau bidadari turun dari surga nih" cetus Riski masuk ke dalam kamar Adiba yang mana pintu nya tak tertutup, dengan segelas air putih di tangan nya.
"Paan sih lo bang, gue yang make b aja tuh" balas Adiba sampai memoleskan lipbam pada bibir nya agar tidak kering. Riski berdecak sambil geleng geleng.
"Lo itu udah kayak mau nikah aja.. coba tuh kayak Jihan, kalo make up cuma bedak itupun bedak bayi" ucap Riski memuji kecantikan Jihan yang alami.
Adiba memutar bola mata malas. "Bang, gak usah berharap banyak sama Jihan. tu lalat dah punya cowok" ucap Adiba tanpa sadar, untung lah dia hanya menyebut punya cowok bukan punya suami.
Ctarr
"Hah?!" kaget Riski menjatuhkan air putih di gelas tanpa sadar karena mendengar gadis yang dia idamkan sudah memiliki kekasih.
Adiba tersentak mendengar bunyi gelas jatuh refleks menutup kedua telinga nya dan bergeser takut kena. Suara pecah gelas itu terdengar sampai lantai bawah dan membuat Umi Zahra dan Abi Dayat langsung menuju kamar Adiba yang letak nya di lantai dua.
"Kenapa ini? astaghfirullahalaazim.." ucap Umi Zahra menatap gelas kaca yang pecah dan berserakan di lantai dekat kasur Adiba.
__ADS_1
"Bi!" panggil Abi Dayat kepada pembantu yang berada di tengah lantai.
"Iya tuan?" sahut salah satu pembantu yang bergegas mendekati Abi Dayat dan Umi Zahra yang berada di ambang pintu kamar Adiba.
"Bersihkan itu serpihan kaca gelas nya, jangan sampe kena tangan atau kaki" titah Abi Dayat langsung diangguki oleh pembantu itu yang sudah lama bekerja dengan keluarga Andi.
"Baik tuan"
Sedangkan Adiba masih berada di pojokan samping cermin panjang nya, karena lokasi kasur dan lemari pakaian bersebelahan bukan bersebrangan seperti di apartemen Barra.
"Lo ngapain sih bang? mau bikin gue jantungan hah?" bentak Adiba dengan suara bergetar, Adiba paling takut dengan bunyi nyaring yang seperti kaca pecah atau barang jatuh.
Riski tersadar dan menatap Adiba yang di pojokan dengan tatapan menyesal. "Gue minta maaf Dib, gue gak sengaja tadi, reflek" ucap Riski dengan bersalah.
Adiba melangkah melewati kasur, karena pembantu masih sibuk menyapu dan mencari beling kaca yang tertinggal di lantai.
"Umi juga ikut?" tanya Adiba setelah melihat pakaian Umi Zahra yang rapi dengan gamis panjang seperti biasa bila ingin keluar rumah.
"Iya, Umi mau ikut.. soalnya anak teman Umi juga kecelakaan dan rumah sakit nya juga tempat yang sama dengan teman kamu" jelas Umi Zahra mendapat anggukan paham beberapa kali dari Adiba.
"Bisa kebetulan gini ya?" gumam Adiba mangut mangut.
__ADS_1
___
Adiba bersama kedua orang tua nya sudah berada di parkiran rumah sakit yang cukup besar dan sangat lengkap dengan peralatan orang sakit.
Ketiga nya langsung masuk dengan Adiba di depan memimpin, hingga Adiba berhenti di sebuah ruangan VIP.
"Teman kamu dirawat di ruang VIP?" tanya Umi Zahra berdecak kagum. Adiba mengangguk dengan santai nya.
"Biasanya ruang VIP itu untuk pasien khusus loh" decak Umi Zahra menatap sinis Adiba dengan tatapan curiga. Dan ditanggapi oleh Adiba dengan anggukan santai lagi.
"Udah deh, Umi sana deh. katanya mau jenguk anak teman Umi yang dirawat di sini juga, sana gih hus hus" usir Adiba merasa jengah dengan ucapan Umi Zahra.
Umi Zahra mendelik tajam ke Adiba tapi tak dihiraukan oleh Adiba. "Diba masuk dulu, assalamualaikum" pamit Adiba sebelum memegang knop pintu VIP itu.
"Waalaikumsalam" balas Umi dan Abi serempak.
"Jadi, dimana ruangan anak teman Umi itu?" tanya Abi Dayat setelah pintu ruangan VIP yang baru saja dimasuki oleh Adiba itu tertutup.
"Bentar aku telpon Aila dulu, bilang kalo kita udah di rumah sakit" ucap Umi Zahra merogoh ponsel nya di tas branded berbahan kulit seperti milik Adiba.
UmiZahra "Hallo La"
__ADS_1
...