
Drrt drrt
"Siapa sih yang ganggu malam malam" gerutu Jihan merasa terganggu dengan suara ponsel yang entah milik siapa itu mengganggu tidur nya yang sudah nyenyak.
Jihan melirik ke jam dinding dan terlihat jam menunjuk pukul 11.25 malam. Menguap kecil dan menoleh ke samping dan tertegun beberapa saat.
Gue ngerasa first night yang biasa aja! But, gue bersyukur karena gue lagi kedatangan tamu jadi Barra ga minta hak nya dulu, hehehe sorry Bar, gue masih belum siap.
Drrt drrt
Dering ponsel kembali berbunyi, Jihan mencari sumber suara dan ternyata di nakas dan ponsel milik Bara yang berbunyi.
Bangunin ato ga? Bangunin aja lha.
"Barra, bangun" ucap Jihan sembari bangun dari tidur dan menepuk pelan lengan Barra yang sama seperti nya yang juga kelelahan.
"Emm.." gumam Barra tak jelas seraya menggeliat kecil.
"Barra bangun, ada yang nelpon lo tuh" ucap Jihan tak mau menyerah membangun kan Barra.
"Em hah? Apa?" tanya Barra dengan kesadaran belum terkumpul penuh. Bahkan mata nya setengah tertutup berniat melanjutkan tidur nya.
"Ada yang telpon lo" jawab Jihan menggoyangkan lengan Barra.
Barra berdecak kecil, tapi dia tetap menurut untuk bangun. Duduk sejajar dengan Jihan di ranjang dan rambut yang acak acakan serta mata tertutup.
__ADS_1
Jihan terkekeh lucu melihat tingkah Barra yang baru pertama kali dia ketahui. Dan sekali lagi menjelaskan apa yang membuat Jihan terbangun dari tidur nyenyak nya.
Barra mangut mangut sebelum beranjak dari ranjang dan mengambil ponsel yang entah sudah berapa kali berdering lalu membawa ke luar kamar Jihan saat melihat nama penelpon.
Kenapa coba nelpon harus keluar? Emang siapa sih yang bikin raut wajah Barra berubah jadi serius gitu huhh.
Jihan membatin dengan tampang kesal menatap punggung Barra sebelum keluar dari kamar dengan ponsel sudah di depan telinga, wajah nya Barra pun berubah yang awal mengantuk menjadi serius.
Tapi dia tak mau ambil pusing, kembali berbaring dengan menatap langi langit kamar yang pola pola layak nya anak gadis pada umum nya.
Beberapa saat sekembali nya Barra sehabis bertelponan dengan orang yang di kenal oleh Jihan, raut wajah Barra berubah saat memasuki kamar lagi.
Barra menatap wajah Jihan yang cantik tanpa polesan apapun, dan rambut yang sedikit menutupi wajah cantik dan putih itu, mengecup kening Jihan cukup lama dan lembut.
"Gue harus ke arena sebentar, ada urusan" bisik Barra setelah melepas kecupan lembut itu, Jihan yang mendengar cukup terkejut tapi tetap tak mau membuka mata agar mengetahui apa yang akan Barra lakukan setelah nya.
Barra mengelus pipi kiri Jihan lembut, hampir saja dia mencium bibir ranum dan tipis milik Jihan kalau saja dia tak ingat bila ada yang menunggu nya di arena balap liar.
Tiba tiba mata Jihan terbuka dan sedikit membola karena terkejut, bagaimana tidak terkejut? Barra yang posisi nya sangat dekat bahkan sedikit saja Barra bergerak bibir mereka akan bertemu.
"Eh?" Barra menarik kepala nya menjauh dari wajah Jihan yang bersemu.
"Gue harus berangkat" ucap Barra menggaruk tengkuk nya salah tingkah. Jihan menatap lekat Barra yang berdiri di samping ranjang dengan lutut sedikit di tekuk.
"Hati hati" pesan Jihan singkat tapi penuh kekhawatiran. Barra menanggapi dengan senyum manis dan anggukan.
__ADS_1
___
Kini Barra sudah berada di arena balap dengan motor sport yang selalu dia pakai untuk balap liar, setelah pergi dari rumah Jihan Barra tak langsung ke arena melainkan ke apartemen untuk mengambil motor dijemput Azkan, Denis dan Adnan.
"Rame banget" gumam Barra belum melepas helm fullface dan juga turun dari motor sport.
Para gangster serta wanita wanita seksi juga berkumpul bersama, seperti nya ini memang ada pertandingan yang serius hingga Azkan tadi menelpon nya di tengah malam saat sudah masuk ke dalam mimpi.
Semua mata tertuju pada Barra yang turun dengan gagah tanpa melepas helm fullface nya, menghampiri anggota gangster nya. Lalu bersalaman ala cowok dengan para anggota dari SMA Merdeka tentu nya.
"Maaf ya boss, di malam pertama lo malah ninggalin istri di kamar sendiri" ucap Adnan pelan dan hanya di dengar oleh Azkan, Denis, serta si yang di omong kan, Barra.
Barra memutar bola mata malas.
"Gue sebenarnya males bat keluar dari kamar! Cape gue seharian bediri ditambah senyum seharian, berasa mau mati aja gue" keluh Barra membuat ketiga sahabat tersenyum geli.
"Lo senyum ga semanis istri lo, dia senyum bahagia banget waktu nikah ma lo, sedangkan senyum lo tipis bat kek kertas HVS selembar" sembur Denis penuh kedetailan.
"Bagi dia nikah itu cuma sekali dan perlu di abadi kan dengan bahagia, walau di awali paksaan ortu nya Jihan, tapi gue sama Jihan nerima dengan ikhlas tanpa paksaan" elak Barra membuat ketiga nya mengangguk.
"Dan bagi lo nikah bisa berkali kali gitu?" tanya Azkan tersenyum miring. Barra menghela napas.
"Itu nikah atau pendaftaran sekolah? Sampe berkali kali.. Ya kali gue nikah berulang ulang! Prinsip gue nikah sekali doang dalam hidup" jawab Barra tanpa ragu. Azkan mangut mangut percaya.
"Eh? Tuh! Para gangster yang lain dah kumpul" ucap Adnan dadakan menunjuk orang orang berkumpul mengerebungi sebuah motor beserta orang yang mengendarai motor itu.
__ADS_1
"Ada lawan baru?" tanya Barra seakan mengerti kenapa Azkan menelpon nya dan menyuruh nya untuk ke arena balap. Azkan menatap sekilas Barra yang berada di samping nya lalu mengangguk sekali sebagai jawaban.
"Info yang gue dapat, dia anak SMA Dharma Bakti" cetus Denis serius secara tiba tiba, membuat Barra kaget tak bersuara.