Suami Pilihan Bunda

Suami Pilihan Bunda
BAB 140


__ADS_3

Sementara dirumah utama.


Nenek Naira dengan datar menatap layar tablet, seperti sedang mengawasi gerak-gerik seseorang yang berada di luar kamar nya.


"Kamu kira saya akan dengan mudah menerima pembantu baru yang muda dan tentu nya masih belum berstatus dirumah ini, walau cucu saya menerima kamu jadi pembantu tapi tidak dengan saya, Laras" gumam Nenek Naira sembari menatap layar tablet dengan fokus.


Sejak awal Laras bekerja dirumah itu, Nenek Naira selalu mengawasi gerak-gerik wanita itu tanpa diketahui oleh Barra dan Jihan.


Memang hari pertama di rumah itu dia tidak pernah melakukan apapun, tapi lirikan mata nya yang seperti mencari sesuatu itu membuat Nenek Naira harus lebih ekstra mengawasi.


Bukan takut harta nya di ambil oleh Laras, tapi dia takut Laras menjadi pengganggu yang hadir di kehidupan cucu nya.


Laras yang sedang bersih-bersih di lantai kedua, tepat di depan kamar Jihan Barra yang tertutup rapat pintu nya, bisa jadi pintu itu dikunci, bisa juga tidak.


Semakin lama Laras seperti celangak-celunguk ke kanan dan ke kiri mengawasi sekitar, hingga akhirnya Laras mundur mentok ke depan pintu.


Tapi sial nya, pintu itu ternyata dikunci membuat Laras nampak kesal dan kembali melanjutkan bersih-bersih nya dengan raut kesal.


Nenek Naira tersenyum miring melihat kegagalan Laras, walau dia tidak tau apa yang di rencanakan oleh Laras tapi bisa di tebak jika dia ingin mencuri sesuatu dikamar Jihan Barra.


"Ayanggggg" panggil Jihan membuat Barra menoleh ke samping, dia sedang menyetir mobil setelah dari minimarket mereka siap mengantar jajanan yang mereka beli.


"Hm apa sayang?" tanya Barra kembali fokus pada jalanan di depan.


"Bosen, setel lagu boleh?" jawab sekaligus tanya Jihan yang membuat Barra tersenyum tipis dan mengangguk memperbolehkan Jihan memutar lagu di mobil.


Ditemani lagu di mobil, suasana menjadi sunyi tanpa ada yang berbicara, mereka sering seperti ini bahkan bisa sampai berjam-jam tidak mengobrol bersama pun mereka bisa.


___


Hubungan Jihan dan Barra tiap hari nya hanya seperti itu, hanya beda nya Jihan akan manja saat ngidam atau ada yang dia inginkan.


Pagi itu, Barra harus ke kantor sebentar untuk mengambil dokumen penting yang dia lupa, hanya sebentar tapi bisa membuat Jihan bosan berada di dalam kamar sendiri.


Jihan yang tak ada kerjaan di kamar pun berinisiatif keluar dari kamar, niat nya ingin ke kamar Nenek Naira mengobrol bersama.

__ADS_1


Karna hari ini tidak ada mata kuliah jadi lah Jihan berada di rumah tanpa ada kerjaan.


Usia kehamilan Jihan juga sudah memasuki bulan ke-4 yang artinya roh bayi sudah ada di dalam perut nya, yang awal nya segumpal darah menjadi seorang bayi mungil.


Laras juga sudah bekerja sebulan lebih di rumah itu, hanya di depan majikan nya lah dia rajin tapi di belakang majikan dia seperti pemilik rumah, dan itu diketahui oleh Nenek Naira.


Tok tok tok


"Nenek" panggil Jihan setelah mengetuk pintu tapi tak ada sahutan dari dalam, ingin masuk tapi dia urung dan berpikir Nenek berada di halaman belakang.


Turun dari tangga dengan pelan dan berpegangan pada pinggir tangga, dia sangat menjaga bayi dalam kandungan nya agar tetap baik-baik saja.


Hingga sampai di anak tangga paling akhir, Jihan berpas-pasan dengan Laras yang sibuk mengepel lantai dengan posisi sedikit membungkuk.


Jihan menggeleng kepala melihat tingkah Laras yang tidak mengetahui ada yang lewat, dan kembali melangkah tanpa melihat bahwa lantai yang dipijak masih basah karna di pel oleh Laras yang seperti nya saat mengepel tidak diperas air nya.


Srett Dukk


"Aaauuwwww!!" jerit Jihan terduduk di anak tangga dengan posisi bagian belakang yang lebih dulu terkena lantai.


Laras yang kaget mendongak dan menatap dengan diam Jihan yang menjerit kesakitan sembari memegang perut nya.


"Astaghfirullah Non Jihan!" teriak Bi Darmi langsung berlari pelan menghampiri Jihan yang masih menjerit kesakitan.


Semua pekerja yang mendengar langsung datang dan membantu Jihan, saat hendak di angkat Jihan kembali menjerit sembari mencengkram kuat perut nya.


"Astaghfirullah darah!" jerit Bi Dyna orang pertama yang melihat darah menetes daerah pangkal paha.


"Bawa ke rumah sakit sekarang!" titah Nenek Naira panik dengan keadaan cucu nya dan buyut yang berada di dalam perut Jihan.


"Darmi, telpon Barra!" titah Nenek Naira mengikuti Jihan yang di gendong oleh satpam ke mobil bersiap ke rumah sakit terdekat.


Bi Darmi yang panik hanya mengangguk cepat dan menelpon Barra menggunakan telpon rumah dengan tangan gemetar.


Barra yang berada di kantor tepat nya diruang rapt, karna ada rapat dadakan yang membuat nya tidak jadi pulang itu melirik sekilas hp nya yang bergetar.

__ADS_1


Satu panggilan tak dia angkat oleh Barra, panggilan kedua juga, hingga panggilan ketiga rapat Barra hentikan sejenak.


"Assalamualaikum,"


"De-den Barra anu itu eee a-anu Non Jihan den"


Barra mengernyit bingung, "Bi, yang jelas dong ngomong nya, Jihan kenapa?" ada perasaan tidak enak yang tiba-tiba menyeruak.


"No-non Jihan jatuh den, ini lagi dibawa ke rumah sakit terdekat den"


Deg


Barra seketika berdiri membuat klien menatap nya tanda tanya, begitu juga Azkan dan Adnan yang berada di ruangan itu juga.


Pikiran Barra menjadi buntu setelah mendengar kabar itu, tanpa pamitan dia berlari keluar dari ruangan rapat, bahkan p


hp nya juga dia tinggal.


Azkan pun menyusul dengan membawa hp yang ditinggal oleh Barra, sedangkan Adnan men-cancel rapat dadakan yang gagal karna Barra tiba-tiba keluar tanpa sepatah kata.


Klien pun tidak keberatan saat melihat raut Barra yang khawatir dicampur panik itu. Adnan pun menyusul Barra dan Azkan.


Denis yang berpas-pasan dengan Adnan di depan pintu masuk kantor itupun menghentikan lari Adnan.


"Wey wey, kenapa Barra sama Azkan lari?" tanya Denis mendapat gelengan dari Adnan yang memang tidak tahu terjadi apa.


"Udah kita ikutin aja ayok" Adnan langsung menarim tangan Denis ke parkiran, Barra dan Azkan sudah hampir sampai mobil milik Barra.


Barra melajukan kecepatan mobil nya dengan sangat cepat, bahkan seperti pembalap.


"Woy Bar, pelan-pelan woy! Gue masih belum nikah jir" teriak Adnan berteriak ketakutan karna laju nya Barra mengemudi.


"Gak usah ikut kalo gitu" balas Denis yang sebenarnya sama takut dengan Adnan.


"Bacot lo juga takut kan?" umpat Adnan mendapat cengiran dari Denis.

__ADS_1


*Bar, sebenarnya ini kenapa, kenapa lo panik haa?" tanya Azkan mencoba tenang di samping Barra.


"Jihan masuk rumah sakit!" jawab Barra dengan menjerit dan tanpa sadar air mata keluar dari bola mata nya.


__ADS_2