Suami Pilihan Bunda

Suami Pilihan Bunda
BAB 11


__ADS_3

Kini, Ayah Elan, Bunda Lifah, Jihan, dan Barra sudah berada di sebuah restoran siap saji khas makanan Jepang yang pasti nya sudah bersertifikat halal dari bahan yang muslim boleh datang.


Selain tempat untuk makan, restoran Jepang itu menyediakan tempat untuk berfoto selfie dengan nuansa resto jaman sekarang yang dipadukan dengan band yang siap memberi hiburan.


Di meja nomor 13, bentuk meja yang bulat membuat Jihan dan Barra bersebelahan bahkan lengan siku mereka bisa bersentuhan bila bergerak, seperti biasa Bunda Lifah yang mengisi hari dengan celotehan tak jelas dan dijawab seadanya oleh Ayah Elan, Jihan, dan Barra yang sudah mulai jengah mendengar celotehan yang tak pernah dari Bunda Lifah.


Tiap pertanyaan yang dilontar kan oleh Bunda Lifah untuk Barra akan dijawab dengan nada kaku apalagi bersebelahan dengan Jihan, gadis berhijab yang dilindungi sepuluh hari yg lalu.


Satu pertanyaan yang mampu menarik perhatian Jihan yang awal nya cuek tak menanggapi ucapan Bunda Lifah kini menjadi tertarik dan menatap Barra untuk mendengar jawaban.


"Em.. Nak Barra, Orang Tua kamu kemana? Kok kamu malah tinggal di apartemen sendiri sih?" tanya Bunda Lifah, Barra sudah cerita kalau dia tinggal di apartemen seorang diri. Barra yang mendengar pertanyaan itu tersenyum kecil.


"Ada kok Bunda," jawab Barra singkat.

__ADS_1


"Dimana? Kan kamu kan tinggal di apartemen sendiri" tanya Bunda Lifah semakin penasaran dengan kehidupan Barra yang tertutup.


"Di hati Barra.." jawab Barra begitu singkat menjawab.


Deg


Bunda Lifah yang mendengar jawaban singkat dari Barra mendadak murung, dia paham maksud dari jawaban singkat Barra.


"Sejak kapan kamu jadi yatim piatu nak?" tanya Bunda Lifah dengan suara bergetar, Jihan yang juga penasaran terus menatap Barra yang berada di samping nya.


"Inallillahi wa'inaillaihi rajiuon.. Terus sekarang kamu ga punya sanak saudara gitu?" tanya Bunda Lifah ingin mengorek lebih dalam identitas Barra.


"Punya, Barra punya Kakek Nenek dari Papa yang masih hidup dan Barra sering kunjungin Kakek Nenek di rumah utama, kalau Kakek Nenek dari Mama sudah meninggal sebelum Barra lahir," jelas Barra panjang lebar.

__ADS_1


"Kenapa kamu ga tinggal di rumah utama bersama Kakek dan Nenek kamu? Kenapa malah tinggal sendiri di apartemen?" tanya Ayah Elan ikut nimbrung.


"Barra ingin mencoba tinggal sendiri, tapi Barra tiap minggu akan berkunjung ke rumah utama" jawab Barra tersenyum sekilas.


Jihan yang hanya menjadi pendengar setia obrolan yang membuat hati nya ikut bersedih tapi dia tutupi agar tidak membuat suasana lebih menyayat hati.


"Udah stop bahas yang bikin Jihan pengen ngeluarin air ketuban eh salah deng air mata awokawoks.." ucap Jihan mencair kan suasana diakhir tawa ngakak.


Barra tersenyum tipis, sedangkan Bunda Lifah melotot hendak menjawab tapi ditahan oleh Ayah Elan agar tidak semakin runyam bila Bunda Lifah menjawab.


Hingga akhirnya dua pelayan datang membawa nampan makanan yang sudah dipesan oleh meja nomor 13. Dan obrolan itu pun terhenti dan hening hingga selesai makan.


'Entah kenapa Gue nyaman ada samping Loe, walau pertemuan kita rada menyeramkan buat Gue yang baru pertama kali melihat kejadian itu dengan mata kepala pundak lutut kaki Gue sendiri' batin Jihan menatap Barra yang berada di samping nya.

__ADS_1


'Gue ngerasa nyaman ada diantara keluarga Jihan ini, sekian lama Gue nyari kenyamanan yang kayak gini akhirnya Gue dapat tapi kenyamanan ini ga bakal Gue dapetin lagi setelah makan malam ini, Gue bukan siapa-siapa dikeluarga Jihan ini' batin Barra bersuara.


__ADS_2