Suami Pilihan Bunda

Suami Pilihan Bunda
BAB 32


__ADS_3

Melihat reaksi Jihan yang terbahak bahak membuat Barra memanyun kan bibir cemberut, dia pun segera membalikkan tubuh nya memunggungi Jihan yang masih setia tertawa hingga mengeluarkan air mata. Untung lah kamar mereka kedap suara jika tidak maka pasti akan terdengar tawa Jihan sampai keluar dari kamar dan mengganggu penghuni kamar lain yang tidur nyenyak.


"Khem.. Uhukk uhuk" karena terlalu tertawa membuat Jihan terbatuk batuk dan mencoba menetralkan suara nya yang agak serak akibat tenggorokan nya kering.


Beberapa detik setelah itu, Jihan mengambil botol minum yang tersedia di nakas samping nya lalu membuka tutup botol dan menegak air putih hingga sisa setengah.


Jihan sudah tak tertawa lagi dengan napas teratur dia menatap punggung Barra yang memunggungi nya dengan guling yang sudah direbut oleh Barra.


"Uh cerita nya ngambek nih" goda Jihan menoel noel lengan kekar Barra. Barra menepis jari tangan Jihan dengan lembut, walau cemberut dia tak boleh kasar apalagi dengan sang istri.


"Eumh.. Cian, salah masuk kamar yah, lain kali baca dulu nama yang punya kamar nya, ada kok di depan tiap kamar" nasihat Jihan memeluk Barra yang memunggungi.


"Dimana? Kok gue ga tau" tanya Barra dengan nada ketus.


Jihan bertambah bingung dengan sikap Barra yang berganti ganti, kadang manja, kadang cuek, kadang suka senyum, kadang lembut, bahkan kadang marah marah ga jelas.


"Ji!" panggil Barra memutar tubuh nya tanpa melepas pelukan Jihan itu dengan nada ketus karena pertanyaan nya tak di jawab oleh Jihan, saat Barra memutar tubuh nya pun terlihat tampang Jihan dengan bengong dan melamun.


Barra mencubit hidung Jihan pelan membuat Jihan tersentak kaget dan menatap Barra kesal sambil menepis tangan Barra dari hidung mancung nya.


"Apa?" tanya Jihan sebal.

__ADS_1


Barra memutar bola mata malas, apa ini nama nya jodoh? Kedua nya sama sama memiliki sifat nya kadang kadang suka bikin kesal, kadang lembut dan kalem, kadang juga barbar.


"Dimana nama yang punya kamar? Gue ga pernah liat di depan kamar ada tulisan nya" tanya Barra sekali lagi dengan cemberut. Jihan yang awal nya ikut ikut an sebal kini berganti menjadi senyum kecil.


"Di karpet bulu" jawab Jihan singkat seiring senyum segaris melihat tingkah laku Barra. Barra menghela napas lalu memejamkan mata tanpa bilang terlebih dahulu pada Jihan karena dia sudah terlalu mengantuk.


"Lah tidur? Uh kasian capek banget yah" ucap Jihan bermonolog sendiri karena Barra sudah tak menanggapi, Barra juga mempererat pelukan yang dimulai oleh Jihan membuat tubuh mereka saling menempel walau tetap dihalangi pakaian yang mereka kenakan.


Walau lo kadang ngeselin tapi gue suka.. makasih udah mau nerima gue apa ada nya. Batin Jihan tersenyum sambil memperhatikan wajah tampan Barra.


Jihan ikut menyusul Barra ke alam mimpi dengan pelukan hangat dan erat yang mana membuat kedua nya nyaman dengan kepala dalam satu bantal yaitu bantal Barra.


___


Kini pasutri baru itu sedang sarapan bersama di meja makan dengan Ayah Elan dan Bunda Lifah yang terlihat bahagia melihat interaksi dari Jihan dan Barra yang tak ada jaim nya.


"Kalian hari ini jadi pindah ke apartemen?" tanya Ayah Elan serius membuat tawa yang awal menggema kini berhenti dalam sekejap karena pertanyaan yang dilontarkan oleh Ayah Elan untuk Jihan dan Barra.


Barra menatap Jihan yang terlihat sibuk meneguk susu hangat di hadapan nya hingga tandas dan baru lah menjawab pertanyaan Ayah Elan.


"Insyaallah Yah.. Nanti barang barang punya Jihan diantar sama Sopir" jawab Jihan membuat Bunda Lifah terlihat murung begitu juga, Ellena, Rediva, dan Adinda yang baru beberapa hari disini.

__ADS_1


"Emang ga bisa lebih lama lagi ya di sini?" tanya Bunda Lifah murung menatap Jihan yang sedang merapikan kerudung yang dikenakan oleh nya.


Jihan menatap Bunda Lifah setelah merasa kerudung nya telah rapi, lalu menatap Barra seakan meminta jawaban. Barra yang sebenarnya paham hanya mengangkat bahu tanda tak tau.


Helaan napas kecil terdengar di telinga mereka yang dilakukan oleh Jihan, saat hendak menjawab pertanyaan Bunda Lifah, Ayah Elan lebih dulu menyela.


"Bun, Jihan dan Barra akan sering berkunjung kok.. Jihan juga harus ikut suami nya, kemana suami nya pergi disitu lah Jihan ada.. Jihan sekarang bukan tanggung jawab kita tapi tanggung jawab Barra sekarang, eh lebih tepat nya kemarin saat Barra menyebut akad dan bersalaman dengan Ayah" jelas Ayah Elan memberi pengertian kepada Bunda Lifah agar tidak melarang kepergian Jihan dan Barra.


Jihan mengangguk menimpali penjelasan Ayah Elan yang membuat Bunda Lifah tak urung mengangguk dengan pelan dan lesu. Siapa yang tidak sedih anak yang dia lahirkan dari rahim nya sendiri dan di besarkan dengan penuh kasih sayang sejak kecil tiba tiba saja menikah dan harus berpisah rumah dengan sang Bunda.


Apa aku salah ya menikah kan Jihan secepat ini?


Apa Bunda Lifah menyesal?


Kenapa baru sekarang?


Kenapa sesudah acara sah nya baru Bunda Lifah menyesal?


No! Bunda Lifah menyesal bukan karena menikah kan Jihan dengan Barra dengan cepat, dia hanya menyesal karena pernah mengiyakan permintaan Jihan yang ingin tinggal di apartemen bersama Barra setelah menikah.


Dan inilah yang terjadi, saking bahagia nya Bunda Lifah sampai lupa apa permintaan Jihan yang ternyata adalah ingin tinggal di apartemen bersama Barra.

__ADS_1


Apa boleh buat, Bunda Lifah sudah setuju dengan permintaan itu, jika saja waktu Bunda Lifah memikirkan dulu baru menjawab permintaan Jihan, mungkin Jihan tak akan pindah secepat ini.


Tapi pengertian dari Ayah Elan membuat Bunda Lifah sedikit tersenyum, walau hanya sedikit dan bisa dilihat oleh para kakak perempuan yang sedari tadi hanya menjadi pendengar.


__ADS_2