
"Perempuan aneh" gerutu Barra setelah agak jauh dari tempat perempuan yang masih berteriak memanggil 'mas' padahal sudah jelas Jihan istri orang yang dia panggil 'mas'.
"Harusnya yang kesel itu aku by, kok malah kamu sih yang kesel" balas Jihan dengan terkekeh mencoba menenangkan emosi Barra.
"Dia bikin malu tau gak. Mana ini rumah sakit, kayak nya dia stress deh" sahut Barra setelah duduk diikuti Jihan yang masih mengelus pundak suami nya agar tenang.
"Gak boleh ngomong gitu by, gak baik" tutur Jihan lembut.
Barra menghembuskan napas panjang agar emosi nya terkendali lagi seperti awal, dia harus ingat tujuan awal ke rumah sakit untuk memeriksa kandungan Jihan.
Perempuan itu dari kejauhan tetap menatap Barra yang sudah kembali tenang, entah apa yang dia pikirkan hingga tak sadar membuat keributan di loby rumah sakit.
"Mbak, gak malu apa? Bikin keributan di rumah sakit?" tanya seorang wanita berhijab yang berada di samping perempuan itu.
Perempuan yang bernama Sinta itu menoleh ke arah wanita berhijab itu lalu menatap sekitar, benar kata wanita itu banyak yang memperhatikan nya dan menatap nya dengan tatapan tidak bisa di artikan.
Akhirnya Sinta duduk kembali dan menundukkan kepala nya, entah kenapa dia bisa menganggap suami orang adalah suami nya.
Hampir 30 menitan akhirnya nomor antrian Jihan pun di sebut, segera lah Jihan menarik tangan Barra untuk ikut masuk ke dalam ruangan.
"Selamat pagi menjelang siang nyonya dan tuan" sapa dokter cantik yang terus menampilkan senyum manis dan cerah.
"Pagi menjelang siang juga dokter" balas Jihan sedangkan Barra hanya mengangguk dengan tampang datar.
"Langsung baring aja ya nyonya, mari saya bantu naik ke brangkar" ucap dokter bername tag Lidya. Jihan mengangguk dengan senyuman.
Dokter Lidya tersenyum menatap layar monitor yang menampilkan janin yang masih bergumpal, sedangkan Jihan dan Barra saling pandang heran kenapa dokter cantik itu tersenyum.
"Ini janin nya baru 4 minggu ya" ucap dokter Lidya menatap sekilas wajah Jihan yang nampak bingung sambil menatap layar monitor.
__ADS_1
"Yang mana dok?" tanya Jihan dengan polos.
Dokter Lidya tersenyum menunjuk janin yang berukuran sebesar biji bayam atau biji kacang hijau, yaitu sekitar 2 milimeter. "Ini janin nya, masih kecil. Apa sudah pernah mengalami gejala-gejala?" tanya dokter Lidya.
"Mual sih dok" jawab Jihan singkat dan mencoba mencerna perkataan dokter Lidya selanjutnya yang mengatakan untuk menjaga kesehatan dan pikiran agar tetap positif.
"Pengantin baru ya?" tanya dokter Lidya tersenyum. Jihan sekilas melirik Barra yang menggaruk tengkuk nya. Jihan menanggapi dengan senyum malu-malu.
"Pantesan belum berpengalaman soal kehamilan" ucap dokter Lidya lagi mendapat kekehan dan cengir dari Jihan yang nampak malu.
___
"Habis ini kita mau kemana?" tanya Barra setelah berada di dalam mobil, setelah mengecek kandungan dan menebus obat untuk ibu hamil.
"Kalo ke rumah Bunda Ayah gimana?" tanya Jihan sekaligus meminta pendapat. Barra mengangguk dan segera melajukan mobil ke toko kue, niat nya membawa sesuatu untuk mertua nya.
"Kita beli kue dulu ya sayang, buat Ayah Bunda dirumah" ucap Barra diangguki Jihan.
Sesampainya di halaman rumah Ayah Bunda yang nampak ramai, Jihan pun keluar bersamaan dengan Barra yang juga keluar dengan beberapa kantong kue di tangan.
"Tumben rame? Ada acara kah?" tanya Jihan menatap suami nya sekilas lalu menatap beberapa mobil yang terparkir halus di depan mereka.
Barra mengedikkan bahu tidak tau, kedua nya berjalan bersama menuju pintu yang terbuka lebar, terdengar tawa keras dari beberapa orang.
"Keknya emang ada tamu deh by" ucap Jihan kepada Barra dan diangguki Barra tentunya.
"Langsung masuk aja atau nunggu diluar?"tanya Jihan membuat Barra menatap istri nya datar.
"Kan kamu anak Ayah Bunda kok malah nanya aku sih sayang" balas Barra membuat Jihan cengir kuda dan tanpa banyak bicara, dia langsung masuk dengan mengucapkan salam.
__ADS_1
Barra hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah istri nya, mungkin ini efek ngidam dan akan menjadi ibu hamil yang sedikit sulit di atur.
"Alah ku kira tamu spesial tau nya tamu basi" ucap Jihan yang didengar oleh Barra yang baru masuk dengan kedua tangan penuh kantong kue.
"Tamu basi? Heh kami kan baru pulang dari luar negeri ya jadi tamu spesial lah m, kamu tuh jadi tamu basi dah sering kesini" balas seorang wanita lagi yang masih belum Barra ketahui.
"Ka Diva keknya di luar negeri diajarin hal yang bagong deh, ampe bisa jawab sindiran aku, dulu aja pasrah" ucap Jihan membuat yang lain tertawa mendengar.
Barra mengucapkan salam dan membuat tawa berhenti sekaligus perhatian, detik berikutnya Ellena berlari dan mengambil paksa seluruh kantong kue yang ada di tangan Barra.
"Eh gak usah Ka, aku bisa sendiri" ucap Barra menolak dan terjadilah tarik tambang, dengan tali nya diganti kantong plastik kue.
"Biar ku bantu" balas Ellena sengit.
"Gak papa Ka, gak perlu di bantu" sahut Barra tak kalah sengit.
Jihan dan yang lain hanya menjadi penonton persengitan antara Barra dan Ellena yang masih saling tarik menarik kantong plastik.
Karena terlalu lama kedua nya masih tarik menarik, akhirnya Jihan turun tangan dan bangun dari duduk nyaman nya mendekati Barra dan Ellena yang masih dalam persengitan.
Plak
Tangan kedua nya dipukul dan membuat kantong plastik nya jatuh ke lantai, Jihan geleng-geleng kepala dan segera mengambil dua kantong plastik kue yang tak terlalu berat.
"Kalian bawa sisa nya." ucap Jihan langsung di turuti oleh Barra dan Ellena yàng seperti nya takut dengan Jihan.
"Bumil gak boleh bawa barang yang berat-berat" cetus Diva mengambil alih kedua kantong plastik kue ditangan Jihan.
"Hah?"
__ADS_1
"Kok bisa tau?"
Dahla gak ada feel sama sekali🛐