Suami Pilihan Bunda

Suami Pilihan Bunda
BAB 92


__ADS_3

"Mana?" tanya Jihan tak paham.


"Lihat depan cermin, itu cewek yang ada di hati gue sekarang dan selamanya" jawab Barra membuat Jihan terdiam beberapa saat.


Jihan pun berbalik dan memeluk erat Barra tanpa menyingkirkan tangan Barra yang melingkar di pinggang langsing Jihan. Kedua nya sama sama berpelukan erat seakan tak ingin terpisah lagi.


"I love you Jihan" lirih Barra mengungkapkan perasaan nya kepada Jihan, Jihan menambah erat pelukan dan menangis di dada bidang Barra yang tertutup kaos.


"I Love you too Barra" balas Jihan tersedu-sedu karena tangis bahagia nya, inilah yang sangat diinginkan oleh keduanya, saling mengungkapkan perasaan tanpa paksaan.


___


"Trus siapa cewek itu? dan itu siapa yang pake motor lo?" tanya Jihan duduk di ranjang bersama Barra yang berbaring dengan bantalan paha nya.


"Gue dari kemarin gak keluar dari apartemen, kemarin yang make motor gue it- Denis bonceng siapa? Cia kah? tapi kok rambut nya agak beda sih?" ucap Barra tersadar kemarin Denis meminjam motor beserta jaket yang sering dia gunakan saat mengendarai motor.


"Jadi maksud lo Denis gitu yang make motor lo? bukan lo?" tanya Jihan mencoba untuk mengingat Cia kemarin izin kemana.


"Kemarin Cia pamit sama gue waktu pulang sekolah, katanya mau ke perpus buat nyari novel bagus, bareng sama Denis, masa sih Denis bonceng cewek lain?" lanjut Jihan mengingat apa yang dikatakan Cia di parkiran sekolah.


"Otak lo berpikir sama yang kayak gue pikirin gak, yank?" tanya Barra menatap Jihan yang masih santai bermain dengan ponsel.


Jihan mengangguk dua kali, jari jemari nya menari nari di layar ponsel nya, lalu ponsel itu dia taruh di samping telinga kanan sepertinya Jihan ingin menelpon seseorang.


Hingga akhirnya terdengar suara gadis yang jadi bahan omongan Jihan dan Barra, Cia menyahuti telpon sambil memakan keripik.


"Ci, lo ya yang di bon-"


πŸ“ž Grecia Tololl "Iyaa.. gue sama Denis udah ngerencanain ini, gue gak mau lo larut dalam kesedihan dan murung mulu, gue tau kok selama tiga hari lo nginap di rumah gue, lo sering melamun"


Jihan diam mendengarkan celotehan Cia, begitu juga Barra yang masih bisa mendengar percakapan via telpon itu, karena Barra memang berada di paha Jihan.

__ADS_1


Denis pun ikut bersuara membuat Jihan nampak terkejut tapi tetap mendengar dengan diam.


πŸ“ž Denis "Awalnya gue sama Cia mah bodoamat sama masalah lo berdua, tapi dipikir-pikir kalo sahabat harus saling membantu, jadi ya gue bantuin, sekalian buat foto bareng masa depan"


Diakhir kata timpalan Denis, terdengar suara geplakan yang pasti nya dilakukan oleh Cia kepada Denis, setelah suara geplakan, suara ringisan Denis lah yang terdengar.


πŸ“ž Denis "Sakit Ci, lo geplak kekencengan"


πŸ“ž Grecia "Makanya kalo ngomong tuh gak usah pake keceplosan, gue jeblosin juga ke kolam air samping rumah gue"


πŸ“ž Denis "Kalo gue meninggoy lo nanti nanges"


πŸ“ž Grecia "Eh gak ada kek gitu di kehidupan gue"


Jihan dan Barra hanya mendengarkan percakapan kedua nya, seperti nya Jihan dan Barra telah di campakkan oleh dua manusia dari telpon sebrang.


"Bacot nya lo bedua, dah lah matiin" cetus Barra merebut ponsel Jihan tanpa meminta izin pada Jihan, kini Barra duduk di samping Jihan.


Menatap Jihan dengan tatapan kasih sayang. Sementara Jihan menatap nya dengan tatapan sayu karena mengantuk, jam sudah menunjukkan pukul 8 malam.


"Jadi sekarang, masalah kita dah selesai kan? semua udah jelaskan kalo berita itu gak bener dan ternyata itu udah di rencanain sama Cia dan Denis?" tanya Barra mengusap pipi kiri Jihan dengan lembut.


Jihan mengangguk sebagai jawaban, Barra pun membawa Jihan ke dalam pelukan nya dan Jihan membalas pelukan itu.


___


Keesokan Harinya.


Jihan dan Barra sudah berpakaian seragam lengkap, bagaimana seragam Jihan bisa ada di apartemen ya jawaban nya karena Denis yang mengantar pakaian itu sendiri tadi malam.


Kini, kedua nya sedang duduk berdua sarapan di meja makan bahan bahan makanan ternyata sudah dibelikan oleh Barra, bukan Barra melainkan Azkan yang selama tiga hari itu bolak balik mengurus apartemen Barra.

__ADS_1


Tapi ada satu hal yang masih belum Jihan selesaikan bersama Barra, perihal Barra mabok, sebenarnya Jihan ragu ingin bertanya tapi karena penjelasan Cia dan Denis sama persis akhirnya Jihan bertanya niatnya setelah selesai sarapan.


Selesai sarapan, Barra dan Jihan dalam perjalanan menuju basemant apartemen, dan pasti nya Barra menggenggam tangan Jihan erat dan mesra.


Sampai di basemant, Jihan dipakaikan helm oleh Barra dengan mesra, dan Jihan tak menolak dia hanya memberi senyum manis pada Barra.


Saat Barra hendak naik ke motor, Jihan menahan lengan Barra dan membuat kaki Barra yang sudah terangkat setengah itu turun lagi.


"Kenapa sayang?" tanya Barra menatap heran Jihan.


"Gue mau nanya, tapi lo jangan marah ya" jawab Jihan dengan tatapan memohon kepada Barra. Barra mengangguk dengan bingung.


"Lo kem-kemarin minum alkohol ya?" tanya Jihan dengan gagap, bahkan tak mau menatap wajah Barra yang entah sekarang bagaimana ekspresi nya.


Deg


Darimana Jihan tau kalo gue kemarin mabok? apa masih keciuman bau alkohol nya ya di badan gue. Batin Barra terkejut.


"Gue tau dari Cia, Cia tau dari Denis, Denis tau dari mata nya sendiri karna dia yang jagain lo waktu lo mabok" cetus Jihan mendongak sekilas lalu kembali menunduk.


Ucapan Jihan yang cepat membuat Barra kurang tajam mendengar, tapi dia mengetahui ada nama Denis dan Cia yang di sebut oleh Barra.


Huhh.. gak papa deh, harusnya dia yang marah sama gue karena gue dah berani minum minuman haram itu, bukan malah gue yang marah ke dia. Batin Barra sebelum Barra memegang kedua pundak Jihan.


Jihan mendongak menatap Barra. "Lo gak marah kan?" tanya Jihan dengan suara pelan.


"Buat apa gue marah? di masalah ini gue yang salah bukan lo sayang, jadi yang harus nya marah itu lo bukan gue" jawab Barra membuat Jihan mengerjab lucu.


"Oh iya ya, kok gue jadi linglung gini ya?" gumam Jihan dengan tampang cengo.


Barra mencubit hidung Jihan dengan gemas.

__ADS_1


__ADS_2