
Para tamu undangan mulai menyantap hidangan ditemani alunan lagu yang cocok di hari bahagia untuk Jihan dan Bara yang selalu menampakkan senyum bahagia nya di hari ini.
Setelah para tamu selesai menyantap hidangan yang tersedia, secara bergantian maju ke atas pelaminan tempat berdiri nya Jihan dan Barra untuk mengucapkan selamat.
Saat giliran Ellena, Rediva, dan Adinda mereka berempat langsung berpelukan erat dengan sesegukan, ada rasa rindu yang lama belum tertunaikan dan baru bisa di pecahkan rindu itu di acara special ini.
"Selamat ya dek, kakak Lena turun bahagia atas pernikahan kamu, walau dadakan tapi kakak tetap bahagia" ucap Ellena di sela pelukan nya.
"Makasih kak Len, nanti Jihan jelasin sama kalian tapi lewat Bunda karena ini permintaan Bunda," sahut Jihan melepas pelukan teletabis.
"Samawa ya adek ku yang paling gemesh!" seru Diva mencubit pelan kedua pipi Jihan yang sudah lama tidak dia cubit.
"Sakit kak Div!" ringis Jihan memukul pelan lengan Diva, walau sebenarnya cubitan Diva tak ada rasa nya hanya seperti di usap saja. Diva cengengesan sambil melepas cubitan itu.
"Abisnya kak Diva kangen banget sama pipi bakpao kamu itu" balas Diva tanpa dosa. Jihan memanyunkan bibir bawah cemberut.
"Ehem!" dehem Adinda merasa tak di hirau kan keberadaan nya. Jihan dan kedua kakak angkat nya menoleh ke samping dengan tatapan datar.
"Kak Dinda ga dapat dialog" keluh Dinda menghela napas kasar. Jihan cengir kuda.
"Sini peyuk aja deh" ucap Jihan merentangkan kedua tangan menghadap Dinda. Dinda menurut.
"Happy weeding ya dede emesh kuh!" seru Dinda melepas pelukan hangat karena tak mau terlalu yang membuat tamu di belakang mulai bosan.
"Thanks kakak tantik kuh!" sahut Jihan dengan nada lebay seperti Dinda. Dinda terkekeh kecil.
Ketiga kakak angkat Jihan juga mengucapkan selamat dengan nada canggung pada Barra begitu juga Barra yang masih belum terlalu mengenal walau sudah tau nama dan wajah tapi belum mengenal lebih dekat sebagai adik ipar.
Ellena, Rediva, dan Adinda turun secara bergantian dari pelaminan menuju Ayah Elan dan Bunda Lifah untuk berjumpa setelah beberapa tahun bersekolah di luar negeri tanpa bisa pulang.
__ADS_1
Kini, giliran Adiba, Cia, dan Ersa yang berpakaian satu style hanya berbeda gaya rambut. Adiba yang memakai pasmina berwarna merah muda yang sangat jarang dia pakai, Cia yang rambut nya diikat samping bawah untuk pertama kali nya rambut nya tidak di cepol atas, dan Ersa rambut urai dengan poni tipis yang berantakan.
"Gue percaya" cetus Cia setelah terjadi keheningan di panggung pelaminan.
"Gue juga" timpal Adiba dan Ersa mangut-mangut pelan.
"Happy weeding my best friend" seru ketiga nya serempak berpelukan disambut tawa kecil oleh Jihan dan membalas pelukan ketiga sahabat nya.
"Thank you all!" balas Jihan bahagia.
"Ci, lo nyumbang suara lo buat hari ini, buat gue" pinta Jihan di sela pelukan nya. Cia langsung melepas pelukan dan menatap datar Jihan sedangkan Adiba dan Ersa masih memeluk Jihan dari samping.
"Kenapa cuma gue?" tanya Cia dingin.
"Karena suara gue dan Ersa ga sebagus lo, suara kita berdua itu buriq banget, ya ga Er?" jawab Adiba diangguki oleh Ersa yang masih setia memeluk Jihan dan berada di depan ketiak Jihan, canda ketiak.
"Gue cuma minta lo yang nyanyi Grecia" keukeh Jihan tak bisa di bantah, dia juga mengeluarkan jurus nya yang paling ampuh dan tak bisa di tolak oleh Cia, puppy eyes dengan bibir bawah sedikit maju.
"Oke oke! Gue duluan" pasrah Cia pamit turun dari pelaminan untuk ke panggung yang berada di samping pelaminan, dan harus melawati satu meja yang sudah diisi oleh lelaki tua yang pasti bisa di tebak itu teman bisnis Ayah Elan.
Ditempat Barra, ketiga sahabat nya pun juga sama mereka memberi selamat dan berpelukan secara bergantian dengan gaya khas cowok.
"Selamat ya bro, walau gue rada ga percaya sih lo nikah ma cewek berhijab dan pasti nya baru lo temui kan?" tebak Denis menatap Jihan yang berbicara dengan ketiga sahabat nya.
"Heh bege! Tipe cewek yang Barra mau kan emang cewek berhijab gimana sih lo?" cetus Adnan menggeplak kepala belakang Denis. Denis meringis sakit karena geplakan Adnan sungguh sakit.
"Kan gue ga tau" balas Denis dengan lugu yang membuat Azkan maupun Barra terkekeh, Adnan menatap Denis dengan tampang jijik lalu mengangkat jari tengah.
"Denis! Mendingan lo nyanyi aja deh di panggung sana!" titah Barra menunjuk panggung dengan lirikan mata sekilas.
__ADS_1
"Lha kok gue? Ga mau ah! Azkan aja noh" tolak Denis menggeleng cepat dan menunjuk Azkan dengan dagu nya. Azkan menatap malas Denis.
"Yoda yoda! Gue ngalah" putus Denis berjalan meninggalkan Barra dan kedua sahabat nya tanpa ada mengucapkan selamat untuk Jihan yang terheran heran.
"Temen kamu mau kemana?" tanya Jihan menatap manik Barra yang berada di samping. Ersa dan Adiba sudah turun dibelakang Denis yang mengikuti Cia.
Suara lembut yang baru pertama kali di dengar oleh Azkan dan Adnan itu sampai tertegun sedangkan Barra nampak kesal karena kedua sahabat nya itu menatap Jihan tanpa berkedip.
"Udah kali natap nya! Mau gue colok apa?" sungut Barra mengusap wajah Azkan dan Adnan kasar secara bergantian. Kedua nya menatap kesal Barra.
"Posesif!" seru Azkan dan Adnan bersamaan saling pandang. Jihan tersenyum lucu mendengar seruan kedua sahabat sang suami.
Barra tak menanggapi, dia acuh.
"Kamu ngomong apa tadi?" tanya Barra dengan nada lembut kepada Jihan yang berada di samping kiri nya.
"Itu temen kamu mau kemana?" tanya Jihan sekali lagi dengan tatapan mata tak lepas dari wajah Barra yang ada di dekat nya dan begitu tampan.
"Ke panggung buat nyumbang suara, aku paksa sih tadi" jelas Barra di akhiri cengengesan dan disambut tawa kecil Jihan.
"Kita kek obat nyamuk ya" bisik Adnan kepada Azkan merasa tak di peduli kan oleh pasutri muda di hadapan mereka.
"Cabut ae lha!" ajak Azkan singkat. Adnan mengangguk mengiyakan ajakan Azkan.
"Bar, kita berdua turun duluan ya, kasian tamu yang lain pada antri" pamit Adnan mengalihkan pandangan ke belakang dan ternyata banyak yang mengantri dengan tampang sebal.
"Iya, dah makan kah kalian?" bukan pertanyaan yang terlontar dari mulut Barra yang irit itu melainkan dari Jihan yang mencoba akrab dengan para sahabat sang suami.
Azkan dan Adnan mengangguk sebagai jawaban.
__ADS_1
"Kita turun dulu, selamat buat kalian berdua" ucap Azkan tersenyum tipis sekilas sebelum turun diikuti Adnan.