
Barra melirik sekilas Mey dengan raut datar. "Terserah gue lah" jawab Barra acuh melangkah mendekati Jihan yang berada di hadapan nya.
Barra berada tepat di belakang Jihan yang masih menekuk alis emosi dengan tatapan fokus pada Mey, si pengganggu baru setelah Sessa tidak ada.
Cup
Jihan tersadar setelah mendapat kecupan di kepala, dan interaksi itu dilihat oleh ketiga sahabat nya dan keempat murid SMA Merdeka.
Menoleh ke belakang. Dan terlihat Barra sedang tersenyum sambil mengelus kepala Jihan yang tertutup kerudung instan berlogo SMA Dharma Bakti.
Mey dan kawan kawan nya nampak tak percaya setelah melihat senyuman Barra yang tak pernah mereka lihat selama tiga tahun berada di sekolah yang sama.
Sedangkan ketiga sahabat nya ikut tersenyum karena perlakuan Barra yang begitu manis dan sederhana.
"Assalamualaikum, lupa tadi hehe" salam Barra dengan cengengesan menampilkan deretan gigi putih menawan dengan tatapan lekat pada Jihan.
"Waalaikumsalam" balas mereka yang merasa beragama muslim, salah satu nya Mey karena dia juga beragama islam, bedanya dengan Jihan ialah aurat. Jihan memakai kerudung sedangkan Mey tidak.
"Sorry tadi agak telat yank, nunggu lama kah?" tanya Barra dengan lembut dan halus kepada Jihan, membuat mata Mey hampir mengeluarkan air mata.
"Y-yank?" beo ketiga teman Mey yang tak percaya dengan panggilan Barra kepada gadis berhijab itu.
Barra melirik sinis kepada teman sekolah nya. Dia tak terlalu mengenal keempat gadis itu, tapi bisa di tebak oleh Barra karna seragam yang dipakai keempat gadis itu sama dengan seragam nya.
__ADS_1
"Kenapa? salah?" tanya Barra menatap dingin keempat gadis di hadapan nya itu.
Mey dan bersama ketiga teman nya menelan ludah paksa karna tatapan itu, padahal mereka sering jika berpapasan dengan Barra di sekolah dengan tatapan itu, tapi kali ini terasa beda.
"Dia siapa nya lo Bar?" tanya Mey dengan tenang, walau sedikit pucat tapi dia berusaha terlihat biasa saja, tak mau dianggap cemen oleh saingan nya berhijab yang melindungi tubuh tegap Barra, dan gadus yang sudah bisa mendapatkan senyuman itu.
"Teman.." jawab Barra sengaja berhenti, membuat semua penasaran termasuk sang istri yang nampak tak terima dengan jawaban setengah dari Barra.
"Ini mereka teman (menunjuk Cia, Adiba dan Ersa dengan lirikan mata), yang ini teman juga taoi teman hidup" jawab Barra menaraih pinggang ramping Jihan lebih mendekat pada tubuh nya.
Mey beserta geng nya hanya tercengang mendengar sesuatu yang baru di dengar. Yang lebih mengejutkan adalah berita ini, berita yang mengatakan bahwa seorang Barra yang paling anti cewek di sekolah nya malah memiliki seorang kekasih di sekolah lain.
"Gak, gak mungkin.. lo itu cowok yang anti sama yang nama nya cewek, kenapa sekarang lo malah bilang kalo lo itu dah punya pacar sih?" sangkal Mey masih tak percaya.
"Buat apa ngepublish? kalo berita ini juga bakal kesebar keseluruh dunia, setelah gue lulus SMA, gue CEO muda yang sudah dikenal banyak orang" balas Barra menjunjung tinggi jabatan nya di kantor.
Barra cengir kuda menatap Jihan sambil mengaduh kesakitan karna dicubit, padahal cubitan Jihan hanya seperti gelitikan kecil yang tak terasa geli.
"Eh iya. Cia, Denis otw jemput lo, mo kencan katanya" ucap Barra pada Cia setengah menggoda tapi ditanggapi anggukan dua kali oleh Cia dengan santai tanpa reaksi apapun.
"Hm, bawa lah ntu bidadari satu.. kasih apa kek biar kagak badmood lagi" balas Cia melirik Jihan yang entah mengekspresikan perasaan apa.
"Yoi, gue bawa dulu.. gue pamit" pamit Barra sebelum menggandeng tangan Jihan dengan lembut dan membuat iri para penonton.
__ADS_1
Setelah kepergian Jihan dan Barra yang membuat mata ketujuh itu mengikuti langkah pasangan itu, hingga Jihan dan Barra menghilang di balik tembok ruang guru.
Adiba menatap tajam keempat gadis itu secara bergantian, lalu berbalik mengambil tas sekolah nya yang berada di bangku taman. Dia menepuk jidat nya pelan karna melihat tas sekolah Jihan masih ada di situ.
"Beban gue banget ni orang, disuruh ngeliat yang uwu uwu lagi pasti, argh! siapapun yang mau gantiin gue ngasih ni tas ke orang nya gue kasih duit deh pake duit Abi sih" gumam Adiba terus mengoceh.
Cia pun juga berbalik begitu juga Ersa, mereka malas meladeni keempat gadus SMA Merdeka yang masih tak percaya dengan kejadian tadi.
"Eh Ci, lo mau gak? ngasih ni tas ke orang nya?" tanya Adiba mencari ide.
"Tas sapa?" tanya Cia mengernyit alis.
"Noh si Jihan, ketinggalan tas dia, gegara ditarik ma Barra" jawab Adiba menyodorkan tas Jihan kepada Cia.
Cia menggeleng cepat. "Lo aja deh, gue dah di tungguin ma Denis, bye!" tolak sekaligus pamit Cia segera berlari ke gerbang samping sekolah, entah apa yang dia lakukan.
"Anjir si Cia. Er lo ma-" ucap Adiba menoleh ke samping mencari Ersa, tapi Ersa sudah tak berada di samping nya.
"Lah Ersa kemana? woy!" teriak Adiba menoleh ke sana kemari mencari Ersa yang hilang tanpa jejak.
"Argh! nasip gue berarti ini" gerutu Adiba menenteng dua tas di pundak kanan dan kiri nya.
Sedangkan, Ersa sudah berlari keluar gerbang menghindari ucapan Adiba dia tak ingin menyaksikan kemesraan Jihan dan Barra nanti.
__ADS_1
Jadi saat Adiba lengah dan memperhatikan Cia berlari ke gerbang samping, itu adalah kesempatan yang paling sempurna untuk Ersa melarikan diri.
"Selamat tersiksa Diba" gumam Ersa sebelum menancap gas mobil nya keluar dari wilayah sekolah.