Suami Pilihan Bunda

Suami Pilihan Bunda
BAB 65


__ADS_3

Barra, Jihan, dan dua manusia yang selalu mengekori di belakang itu sedang berada di basemant mall setelah perdebatan terjadi antara Jihan dan Sessa.


"Kenapa harus pergi sih? tangan gue udah gatel pengen nabok tu muka cewek cabe" gerutu Adiba dengan menghentakkan kakinya di lantai basemant mall.


Azkan menepuk pelan pundak kiri Adiba, tapi langsung ditepis oleh Adiba secara kasar bukan karena kesal dengan Azkan melainkan bukan muhrim.


Menatap sedih pada tangan nya yang baru ditepis. Nasip suka sama cewek yang tau agama dan anak pemilik pesantren. Batin Azkan mengeluh, bagaimana dia tau Adiba anak pemilik pesantren? ya karena Azkan seorang stalker yang handal dalam hal mencari info sekecil dan sesusah apapun.


Sementara Jihan mengikuti kemana Barra membawa nya, tangan Barra terasa kencang memegang pergelangan tangan nya, tapi Jihan berusaha untuk menahan rasa sakit itu.


"Bar, jangan kenceng kenceng lo megang tangan bini lo anjir, kasian itu" ucap Azkan tapi tak ditanggapi oleh Barra, tapi terasa genggaman itu melonggar yang artinya Barra mendengarkan perkataan Azkan.


Jihan menatap sekilas ke belakang dimana Adiba dan Azkan mengekori, tatapan terimakasih dia tunjukkan pada Azkan dan dibalas oleh Azkan dengan anggukan sekali.


Hingga di lapak basemant tempat motor sport Barra dan Azkan lah keempatnya berdiam tanpa ada yang berani bersuara, hanya ada pengendara lain yang masuk dan keluar secara bergantian.


Wajah Jihan masih diliputi kekesalan, dia terlihat masih mengepalkan tangan tiap kali mengingat perkataan Sessa yang memanggil nya seorang pelacur.

__ADS_1


"Cih!" geram Jihan berdecih dengan kesal, sontak membuat Barra dan dua orang masih setia mengikuti itu menatap nya dengan tatapan heran.


"Kenapa sih lo Bar?! malah narik gue keluar dari area mall, gue sama Sessa Sessa itu belum selesai ngomong" ucap Jihan dengan tampang emosi menatap Barra yang biasa saja.


"Lo mau, kita jadi pusat perhatian?" tanya Barra dengan nada masih lembut, dia berusaha menahan emosi nya agar tidak keluar yang akan membuat orang dia sekitar nya takut.


"Gue bodoamat!" jawab Jihan mendongak menatap langit langit basement yang gelap, sangat jelas Sessa mengatakan pelacur pada nya.


Barra terkekeh kecil mendengar jawaban Jihan, disaat marah seperti ini Jihan begitu lucu, tapi tawa itu hanya sebentar dan berganti tampang biasa saja.


"Lo mau kah? bini lo dikata pelacur sama orang yang gak tau apa apa tapi sok tau, mau lo Bar?" sembur Jihan kembali kesal, kenapa otak nya selalu tertuju pada satu kata yang menohok itu coba?.


"Bullshit! lo ngajak gue pergi dari cafe itu karena gak mau jadi pusat perhatian di mall kan?" potong Jihan membuat Barra menghela napas pelan dan pendek.


Barra melirik Azkan memberi kode agar membawa Adiba pergi, ini akan menjadi urusan nya dengan Jihan, tanpa melibatkan Azkan maupun Adiba.


Azkan langsung paham, dia pun memegang tangan kanan Adiba tapi langsung ditepis. "Ngapain sih lo? orang lagi kayak gini sempet sempet nya lo megang tangan gue, bukan muhrim!" tepis Adiba acuh.

__ADS_1


"Udah ikut aja dulu, kita ke mall tapi belum beli apa apa, ayok biar gue yang traktir, lo boleh beli apa aja" bisik Azkan di samping telinga Adiba yang tertutupi kerudung, Adiba menggeliat kecil karena bisikan dan terpaan napas Azkan yang mengenai wajah nya dari samping.


Tanpa berkata lagi, Azkan menarik tangan Adiba dengan lembut, membawa Adiba kembali masuk ke mall, ini pertama kali nya Azkan memegang tangan seorang gadis dan mengajak nya ke mall terbesar di kota itu.


Gila gila, bisa gila gue, nurut banget yaallah, moga entar di dalem mall gak terlalu banyak yang merhatiin gue sama Diba deh, kan bisa bisa ada berita kalo seorang Azkan Gantara pergi kencan bersama seorang gadis berhijab, aih bisa bisa Bunda ngamuk dan ceramahin panjang lebar atuh. Batin Azkan sesekali melirik tangan nya yang erat memegang tangan Adiba dan wajah Adiba yang begitu imut dan dengan santai tanpa ingat tangan yang masing berpegangan, padahal dia selalu berkata bukan muhrim.


Kembali ke Jihan Barra.


Jihan masih emosi pun meledak meledak dan Barra masih mencoba menenangkan emosi Jihan, dia sudah menahan kekesalan nya agar tidak membuat Jihan takut pada nya.


"Ji! please.. kali ini aja lo diem jangan mencak mencak kayak gini, pusing gue denger lo bilang pelacur pelacur dan pelacur terus.. lo ngerasa kalo lo itu pelacur hm?" ucap Barra dengan napas berat menahan emosi.


"Enggak! tapi siapa yang terima kita yang gak tau apa apa malah dianggap pelacur, apa lo pernah dianggap perusak hubungan orang hah?" balas Jihan menatap Barra sedih.


"Gue bukan cowok yang bisanya ngerusak hubungan orang Jihan! gue bukan cowok kayak gitu, gue tau lo gak terima tapi jangan lah lo balas dia dengan hal yang sama atau pake tangan, lo cewek Jihan, ya allah" bentak Barra diakhiri mengucap istighfar dan menyugar rambut nya ke belakang menahan emosi.


"Ahh tau ahh! pusing gue lama lama" ucap Jihan berniat keluar dari basement, bukan kembali masuk ke mall melainkan pulang ke apartemen.

__ADS_1


Barra menatap punggung Jihan yang keluar dari pintu, sebelum itu dia melihat sekilas Jihan mengusap mata nya artinya Jihan sudah menahan tangis sejak tadi.


"Huhh" helaan napas terdengar mulut Barra, menaiki motor nya dan melaju keluar basement mungkin tujuan kali ini kantor, lagian sudah juga Barra tak ke kantor setelah menikah.


__ADS_2