Suami Pilihan Bunda

Suami Pilihan Bunda
BAB 56


__ADS_3

Via telpon itu buru buru Azkan matikan karena Pak Yanto menatap nya tajam, sedangkan Jihan dan Adiba melangkah masuk ke dalam kelas 12 ipa 1 dengan menunduk datar.


"Anak anak semua, perkenalkan dua gadis ini adalah murid SMA Dharma Bakti yang akan menggantikan bapak di praktek masak kali ini, karena bapak ada urusan di kantor walikota" ucap Pak Yanto panjang lebar dan mengambil napas untuk melanjutkan omongan nya.


Tok tok


"Misi pak" seru Barra dingin menghentikan pergerakan mulut Pak Yanto yang hendak mengeluarkan suara, dan membuat seluruh murid di kelas 12 ipa 1 mengalihkan pandangan ke ambang pintu, begitu juga Jihan dan Adiba.


"Loh? tumben masuk lagi Barra? biasa nya langsung keluar dari kawasan sekolah" goda Pak Yanto, dia sering sekali mendapati alasan Barra dkk yang izin ke toilet, padahal lewat dari toilet, xixixi.


"Hah?! gak jadi pak, di cancel dulu bolos nya" sahut Barra santai menatap Pak Yanto yang berada di samping Adiba.


"Bisa bisa nya bolos di cancel ada ada aja kamu ini Barra Barra" geleng geleng kepala heran dengan kelakuan Barra yang tak bisa dihentikan.


"Kek kerjaan di kantor ya gak Bar?" timpal Adnan menaikturunkan alis nya menggoda Barra yang berdiri di dekat Jihan dengan jarak hanya beberapa langkah.


"Bisa ae lu, kutu badak" komentar Denis menanggapi Adnan yang merasa terkacangi, Adnan mencebik bibir kesal karena tak mendapat balasan dari Barra.


"Nah-" Pak Yanto hendak melanjutkan penjelasan nya tentang kedatangan dua princess dari SMA Dharma Bakti ke kelas mereka, tapi langsung dicela oleh Barra.

__ADS_1


"Misi pak, saya boleh duduk atau tidak?" cela Barra tanpa dosa memotong omongan Pak Yanto yang sudah mulai kesal akibat ulah Barra dkk.


Satu kelas nampak cekikikan melihat wajah kesal Pak Yanto, hanya Barra dkk lah yang berani membuat Pak Yanto di guru indonesia yang super duper killer di SMA Merdeka kesal.


"Boleh," balas Pak Yanto menahan kekesalan nya kepada Barra yang terlihat santai.


Barra pun duduk di samping Azkan yang sedari tadi tersenyum walau tipis sambil menatap Adiba yang nampak biasa saja.


Karena tempat duduk Azkan dan Barra paling belakang membuat kedua lebih senantiasa mengobrol tanpa ada yang mendengar, bila pun ada yang mendengar itu hanya para murid yang duduk nya dekat dengan Barra dan Azkan.


"Semangat kau betul ngab," cetus Barra pelan kepada Azkan yang menatap Adiba dengan tatapan mendamba tanpa diketahui oleh yang ditatap.


"Yaiyalah, cewek idaman gue di depan noh" balas Azkan tanpa mengalihkan pandangan nya dari Adiba yang sibuk menghitung semut lewat di bawah.


"Pake tali sepatu," balas Azkan dengan nada kesal dan mengalihkan pandangan nya ke samping menatap Barra yang terlihat santai.


Barra terkekeh pelan lalu kembali datar setelah mendapat tatapan tajam dari Pak Yanto yang sedari tadi mengoceh tak jelas bagi Barra sendiri karena dia lebih fokus menatap Jihan yang cantik di depan nya.


"Barra! Barra Arrazi!" panggil Pak Yanto dengan keras menatap Barra yang melamun menatap Jihan.

__ADS_1


Azkan menyenggol lengan kiri Barra niat menyadarkan lamunan Barra, dan benar saja lamunan langsung buyar setelah mendapat senggolan Azkan.


"Ngapain lu anjirt?!" tanya Barra dengan datar karena lamunan yang buyar dengan sekejab tanpa memperhatikan kondisi kelas yang senyap dan sedang menatap nya yang berada paling belakang.


Azkan menaruh kepala nya di atas meja tanpa menjawab pertanyaan Barra, dia begitu malu karena Adiba juga menatap nya yang membuat gugup setengah hidup, eh mati deng :D.


"Napa pada natap gue gitu amat yak?" gumam Barra hanya bisa di dengar oleh Azkan.


Azkan segera menormalkan kegugupan yang melanda lalu mendongak menatap ke depan dan benar kata Barra banyak menatap Barra dengan tatapan heran.


"Barra! Azkan! kalian berdua dengar apa yang saya jelaskan tadi di sini?" tanya Pak Yanto dengan wajah merah padam.


"Enggak pak" jawab Barra dan Azkan kompak dengan tampang polos dan tanpa dosa.


Pak Yanto menepuk jidat nya pelan kekesalan nya sudah berada di puncak ubun ubun kepala tertinggi nya.


Sedangkan Jihan dan Adiba nampak tersenyum kecil melihat tingkah dua manusia beku yang ternyata memiliki tingkah berbeda saat di sekolah.


Awalnya Adiba seperti pernah melihat Azkan, hanya saja dia lupa dimana dan kapan, tapi setelah sadar cowok di samping Barra itu Azkan dia pun cukup senang, walau awal pertemuan mereka cukup membuat nya kecewa dan sempat marah tapi sekarang dia sudah tak marah lagi.

__ADS_1


Bahkan Adiba sering bermimpi bermain bersama dengan cowok pertama yang berani membentak nya hanya karena pudding. Tapi itu memberi kesan tersendiri bagi Adiba dan Azkan yang ternyata saling merindu.


Allah telah mengatur segala nya dengan sempurna dan tanpa ragu, gak seperti gue yang selalu ragu dalam menjawab soal ulangan harian dari Bu Rindi. Batin Adiba tanpa ekspresi.


__ADS_2