
Jihan tengah malam terbangun dari tidur nya karna merasa lapar, kini dia sedang berjalan turun ke lantai bawah untuk mengambil camilan yang ada di kulkas.
Entah kenapa kaki nya tidak langsung ke kamar setelah mengambil camilan dan satu botol minuman, dia malah ke halaman belakang.
"Kakek kok?!..." gumam Jihan kaget melihat Kakek Irfani yang duduk di kursi halaman belakang sendirian ditemani cahaya bulan.
Dengan perlahan Jihan mendekati Kakek Irfani kemudian memanggil nama Kakek yang membuat kepala Kakek menoleh dengan senyuman manis.
"Jihan belum tidur nak?" tanya Kakek Irfani menyadari kedatangan Jihan, Jihan mengangguk sembari mendudukkan bokong nya di kursi kosong yang biasa di duduki oleh Nenek Naira.
"Tadi sih tidur Kek, tapi lapar jadi bangun" jawab Jihan dengan cengir kuda memperlihatkan camilan dan sebotol minuman dingin.
"Malam malam minum yang dingin dingin tu gak baik loh nak, mending minum air putih aja" tutur Kakek Irfani lembut kepada istri cucu nya.
Jihan cengengesan menampilkan deretan gigi putih nya, dan menurut untuk tidak meminum air dingin.
"Kalo Kakek kenapa belum tidur?" tanya Jihan setelah keheningan terjadi beberapa menit, hanya ada bunyi hewan luar sebagai pengisi.
"Kakek kangen anak dan menantu Kakek nak" jawab Kakek Irfani jujur, menatap salah satu bintang yang bersinar di langit.
__ADS_1
Jihan mengikuti pandangan Kakek ke langit malam yang cerah akibat sinar bulan yang berhiaskan bintang.
"Kakek ingin sekali bertemu dengan mereka, Nara menantu ku yang ceria itu selalu bisa membuat ku tertawa" ujar Kakek Irfani bercerita tanpa disuruh oleh Jihan.
Jihan hanya mendengarkan cerita yang Kakek Irfani lontarkan, sesekali dia nampak seperti berpikir.
Ingin bertemu?. Batin Jihan merasa ada kejanggalan dengan dua kata yang terlontar oleh Kakek Irfani.
"Nak" panggil Kakek menyadarkan Jihan dari lamunan nya.
"Eh iya Kek ada apa?" tanya Jihan salah tingkah.
Jihan sedikit tersentak, mata nya sedikit berkaca-kaca. "Kakek ngomong apa sih? jangan ngaco deh" balas Jihan menepis pikiran negatif nya.
"Ya kan Kakek cuma ngasih tau kamu aja, kalau nanti Kakek pergi, kamu harus bisa buat Nenek tetap tersenyum, apalagi itu si bayi besar kamu itu" sahut Kakek dengan santai diakhiri kekehan.
Jihan ikut terkekeh, tetapi pikiran nya makin kalut, kenapa sedari tadi Kakek dari suami nya ini mengatakan hal seperti itu.
"Huftt.. Kakek sudah ngantuk mau tidur, Nenek pasti nyari guling haha.. Kamu jangan terlalu lama di sini, dingin soalnya gak baik buat ibu hamil" ucap Kakek Irfani sebelum beranjak dari duduk tanpa menunggu jawaban dari Jihan.
__ADS_1
Jihan menatap punggung Kakek Irfani yang mulai menghilang dari tembok, lalu dia menatap langit malam.
Tanda apa itu?. Batin Jihan kembali kalut.
Setelah nya, Jihan pun ikut masuk sebelum itu dia kembali ke dapur untuk menaruh minuman dingin yang dilarang oleh Kakek tadi.
Ceklek
Kreitt
"Astaghfirullah.." pekik Jihan mengusap dada nya yang terkejut dengan keberadaan Barra yang berada di samping pintu dengan tangan bersedikap dada.
"Kenapa keluar kamar gak bangunin aku?" tanya Barra dengan tajam tapi tetap penuh kekhawatiran.
"Gak apa-apa" jawab Jihan santai berlenggang masuk dengan membuka kaleng camilan dan melahap sambil berjalan ke ranjang.
"Aaaa kan bisa bilang dulu, biar aku nya gak kayak anak lagi nyari mama nya" seru Barra manja.
"Maafin ya bayi gede" balas Jihan mendapat pelukan dari belakang, dan tentunya oleh sang suami nya.
__ADS_1