Suami Pilihan Bunda

Suami Pilihan Bunda
BAB 115


__ADS_3

Malamnya.


Sehabis isya' Barra langsung pamit ke dalam kamar, membuat Jihan heran tapi tidak mengikuti Barra masuk ke kamar.


Hingga hampir satu jam Jihan menemani Ayah Bunda mengobrol, dan mengatakan besok ada acara di sekolah dan orang tua harus hadir.


Ayah Bunda pun mengiyakan, sekaligus akan menjadi wali untuk Barra yang memang Kakek dan Nenek nya sudah tak mungkin bisa datang.


Ayah Bunda sesekali saling pandang melihat Jihan masih anteng duduk di sofa samping Ayah Bunda duduk dengan bermain ponsel.


"Ji, kamu gak ngantuk kah?" tanya Bunda Lifah membuat Jihan menoleh dengan tatapan protes.


"Bunda ngusir aku ni cerita nya?" tanya Jihan balik merasa dirinya diusir oleh Bunda nya sendiri.


"Bu-bukan gitu Ji, em.. Yah ngomong dong jangan cuma Bunda aja" jawab Bunda Lifah terbata bata.


Ayah mengangguk pelan. "Em.. Kamu temenin lah suami mu di dalam kamar, pasti dia bosan" timpal Ayah Elan mendapat sambutan heran dari Jihan.


"Kalo bosan ya tinggal keluar kamar aja, apa susah nya?" balas Jihan santai, dia sedang berkirim pesan dengan ketiga sahabat nya lewat grup yang memang hanya beranggotakan empat orang.


"Heh kamu ini ngejawab mulu, ganggu Bunda ma Ayah mau berduaan" kesal Bunda Lifah membuat Jihan tersentak kecil.


"Jadi Bunda sama Ayah ngusir Jihan karna pengen berduaan? aduh kenapa gak bilang dari tadi sih, kan aku bisa undur diri pamit" ucap Jihan berdiri dari sofa dengan tampang menyebalkan.


"Iya! Bunda sama Ayah mau berduaan.. ganggu aja kamu, sana hus masuk kamar temenin suami mu juga sana" balas Bunda Lifah mengibaskan tangan nya.

__ADS_1


"Cielah.. ingat umur Bun Yah, anak nya udah punya lakik loh" goda Jihan sembari menaiki tangga sesekali menoleh ke belakang dengan senyum menggoda.


Bunda Lifah hendak melempar bantal sofa itu pada Jihan, tapi Jihan keburu lari dan akhirnya bantal sofa tak jadi terbang.


"Iya udah punya menantu tapi belum punya cucu" balas Bunda membuat Jihan menoleh saat sudah berada di puncak tangga.


Jihan menatap ke bawah ke tatapan sulit di artikan. "Oh iya ya allah! moga belum tidur" seru Jihan mengkagetkan Bunda dan Ayah yang berada di lantai bawah.


Jihan oun segera berlari ke kamar nya yang tertutup rapat, lalu masuk ke dalam kamar.


"Anak mu kok panikan gitu ya Yah" cetus Bunda Lifah sambil mengelus dada nya kaget karna seruan Jihan yang tiba tiba.


"Yang punya sifat panikan siapa yang disalahin siapa.. kan kamu yang ngandung dia" balas Ayah Elan mencibir. Bunda Lifah cengir kuda.


"Moga cepet dapet cucu ya kita Yah" doa Bunda Lifah sembari menaruh kepala nya di pundak lebar Ayah Elan.


___


Ceklek


Terlihat Barra sedang memainkan iped nya di ranjang, dengan kacamata baca nya, mungkin dia sibuk membaca laporan kantor.


"Baru ingat ma yang dikamar" cibir Barra setelah mendengar pintu kamar terbuka, tanpa mengalihkan pandangan dari iped nya.


Cibiran nya tak mendapat sahutan dari siapapun membuat Barra mendongak menatap ke arah pintu kamar, dan terlihat Jihan mematung dengan menatap nya tanpa berkedip.

__ADS_1


"Kedip yank" tegur Barra membuat Jihan mengedipkan mata nya beberapa kali dengan tampang cengo.


Barra terkekeh melihat tingkah lucu sang istri, lalu menaruh iped nya karna dia sudah membaca laporan berkas kemarin.


Melepas kacamata baca yang bertengger di hidung, lalu beranjak dari ranjang mendekati Jihan yang masih berdiri menjadi patung.


"Gue tau, gue ganteng.. gak bakal di ambil orang kok, gue kan punya Jihan Safithri Karisma Fathan" ucap Barra setelah berada di hadapan Jihan.


"Nama gue kepanjangan" balas Jihan dengan bergumam, Barra mengacak kerudung segitiga Jihan pelan.


"Ya udah kalo kepanjangan gini aja deh, Jihan Safithri Fathan mau? ahh gak usah panjang panjang, panggil nya sayang juga kan?" sahut Barra mendapat senyum kecil Jihan.


Barra mengambil paper bag yang berada di sofa lalu menyodorkan ke hadapan Jihan. Jihan menatap sekilas paper bag itu lalu menatap Barra bingung.


"Biar makin sempurna" bisik Barra ambigu tapi dapat dilihat dari senyum nya, Jihan sadar dia sudah berjanji tadi malam bahwa akan memberikan nafkah batin pada suami nya.


Jihan menerima paper bag dengan ragu. "Emang ini apa?" tanya Jihan hendak membuka paper bag itu.


"Baju yang hanya boleh pakai di depan gue" jawab Barra dengan cepat menutup kembali paper bag itu tanpa mengambil dari tangan Jihan.


Jihan memiringkan wajah nya dengan tampang nampak berfikir, detik berikut wajah Jihan merona dan seperti kepiting rebus.


"Kalo lo belum siap gak-" ucap Barra terhenti karna Jihan berlari ke dalam kamar mandi tiba tiba.


"Gue siap kok!" teriak Jihan dari dalam kamar mandi membuat Barra tersenyum senang dan bernapas lega.

__ADS_1



__ADS_2