
"Hah?"
"Kok bisa tau?"
Jihan dan Barra saling pandang, mata Jihan memancarkan sinar tajam yang membuat Barra spontan menggeleng ketakutan.
Diva menoleh. "Muka lo ketauan banget lagi bahagia, mana dar masuk tadi megang perut. Btw beneran lo lagi hamil?" jelas Diva yang peka.
"Jadi lo berdua bertamu ke sini buat ngabarin kalo hamil kah?" tanya Ellena antusias, sedangkan Adinda hanya tersenyum karna dia yang paling peka dan penjelasan Diva tadi adalah ucapan Adinda sebenarnya, tapi Diva ambil.
"Hehehe, sekalian kangen juga sama rumah" jawab Jihan cengengesan, lalu melirik Barra sekilas yang masih diam.
Lalu Jihan menatap Ayah Bunda nya yang nampak tenang dan biasa saja, seperti berita itu tidak penting. "Ayah Bunda gak seneng sama berita ini?" tanya Jihan lesu.
Yang lain hanya ikut menatap Ayah Bunda yang hanya duduk santai menikmati kue bawaan Jihan dan Barra yang sudah di siapkan oleh Ellena.
"Bukan gak senang, tapi Ayah sama Bunda udah tau sejak tadi malam" jawab Bunda Lifah setelah menelan habis kue bolu dengan parutan keju di atas.
"Dikasih tau Kakek Irfani, tadi malam untung nya kami belum tidur" timpak Ayah Elan membuat Jihan dan Barra saling pandang.
"Maaf Yah Bun, telat ngasih berita nya. Tadi malam saking seneng nya Jihan sama Barra gak pegang hp" ucap Jihan diangguki Barra dengan tidak enak.
"Gak papa, Bunda maklumin karna anak pertama sekaligus penerus pertama aghh gak sabar nimang cucu" cerocos Bunda Lifah setelah meminum teh hangat buatan nya sendiri.
"Eh kata lo tadi dek, malam tadi gak pegang hp trus pegang apa dong?" tanya Diva dengan senyum tak dapat di artikan.
Jihan yang langsung connect tidak menjawab melainkan menatap Barra yang nampak salting dengan mengusap tengkuk nya.
"Gak pegang apa-apa njir gue" jawab Jihan dengan kerlingan mata ke sembarang arah.
Ketiga kaka Jihan itu hanya memutar bola mata malas, walau mereka sama-sama belum memiliki pasangan tapi mereka cukup tau apa yang dilakukan suami istri.
"Kamu nginap gak Ji?" tanya Dinda.
Jihan menatap Barra meminta jawaban dan pendapat untung nya Barra paham. "Kalo malam ini gak bisa Ka, insyaallah minggu besok bisa nginap" jawab Barra sopan.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Ellena ikut nimbrung.
"Banyak tugas kuliah yang belum selesai Ka, kalo gak di selesaikan malam ini bisa gak dapat nilai A+ dong gue" jawab Jihan ingat ada dua tugas yang bekum dia kerjakan.
"Kan bisa minta bantuan sama Ka Din, Ji" usul Dinda yang memang lebih pintar dibanding Ellena dan Diva, hanya beda sedikit.
"Gak usah Ka, Ji bisa ngerjain nya sendiri kok, mudah soalnya cuma ya tadi itu belum di kerjain, biasalah Ji kan moodyan kalo soal nugas" ucap Jihan mendapat anggukan Dinda yang memang sudah paham dengan mood Jihan yang kadang berubah.
"Ya udah deh, terserah baik nya aja. Ka Din sama dua mbak kunti ini juga agak lama di sini jadi santai aja, bisa lain hari ngumpul" ucap Dinda melirik Ellena dan Diva yang menatap nya sinis.
"Iya Ka. Eh iya ini tiga Kaka bawang merah lagi libur semester atau apa nih. Dah punya pasangan belom Kaka-Kaka ku yang cantik cetar membahana" sahut Jihan menatap tatapan horor dari ketiga gadis tua yang masih berstatus single.
"Gak usah ampe keluar gitu juga tu mata nya Kaka-Kaka ku yang cantik, serem tau bisa mual gue lama-lama liat muka lo pada begitu" lanjut Jihan yang nampak sedikit pucat.
"Muka lo pucat Ji, mending istirahat dulu di kamar sana" ucap Diva membuat Barra yang sedang berbincang dengan Ayah Bunda menoleh dengan khawatir.
"Sayang" panggil Barra mendekati Jihan, sebelum itu dia sudah pamit pada Ayah Bunda yang memang duduk terpisah dengan anak mereka.
Jihan menoleh. "Hm?" sahut Jihan mengangkat dua alis ke atas. Barra memperhatikan wajah istrinya yang memang sedikit pucat.
___
"By, masih inget gak?" tanya Jihan setelah berada di kamar bersama Barra, pertanyaan nya dipotong oleh Barra tanpa rasa bersalah.
"Gak tau, kan kamu belum bilang" jawab Barra menyela sembari merangkak naik ke ranjang diikuti Jihan, pintu kamar sudah dikunci oleh Barra entah apa tujuan nya.
"Ya makanya jangan dipotong dulu kalo aku ngomong, kebiasaan" kesal Jihan merebahkan tubuh nya diatas Barra dengan kepala bersama di perut dan posisi tiarap.
Barra cengengesan dan meminta maaf, ditanggapi deheman oleh Jihan yang sedang mencoba mencari kenyamanan.
"Inget apa sayang?" tanya Barra merasa kalau Jihan sudah nyaman di dekapan nya.
"Kamu masih inget gak saat kamu pernah salah masuk kamar dulu pas pertama kali?" tanya Jihan dengan kekehan kecil.
Barra mencoba mengingat kemudian mengusap tengkuk nya, entah kenapa bisa malu Barra selalu mengusap tengkuk nya.
__ADS_1
"Dah jangan di ingat itu, aku malu ih" cicit Barra menunduk untuk mengecup kepala Jihan yng tertutup kerudung.
"Mending ingat yang pas dimana aku mendapatkan kamu seutuhnya di sini, dikamar ini" usul Barra penuh dengan kebahagiaan.
Jihan nampak tersenyum malu dan menyusupkan wajah nya di dada bidang Barra, terasa kecupan di kepala beberapa kali, tentunya dari Barra.
"Sayang kalo aku jenguk dede bayi lagi boleh gak?" harap-harap Barra dengan pertanyaan sekaligus pendapat.
"Kan kemarin malam udah" jawab Jihan mendongak menatap suami nya dengan tatapan tidak setuju.
"Itu tadi malam sayang, ini kan bukan tadi malam, ini pagi menjelang siang" balas Barra masih berharap Jihan mengiyakan.
"Pagi menjelang siang tu panas loh by, gak mau ganti baju dan males mandi aku tu" tolak Jihan mencoba mencari alasan yang tepat.
"Lagian kan kata dokter Lidya tadi jangan terlalu sering berhubungan kan? Boleh berhubungan asal pelan dan ingat batasan" ucap Jihan diawal membuat Barra cemberut dan berubah saat akhir kalimat.
"Nanti aku pelan-pelan kok sayang, ya sayang ya. Vovo udah kangen dede bayi juga, ya sayang" rengek Barra dengan wajah imut agar Jihan luluh.
"Panas by, aku gak mau keringatan" tolak Jihan lagi.
"Nanti aku beliin apa yang kamu mau" ucap Barra sekali lagi merayu.
Jihan nampak melirik wajah Barra mencari letak kebohongan. "Bener nih ya? Beliin apa aja yang aku mau?" tanya Jihan seperti nya mulai luluh.
"Iya, apa aja asal Vovo boleh jenguk dede bayi ya sayang" rengek Barra kembali. "Janji pelan-pelan kok sayang" lanjut Barra lagi.
"Ya udah, ingat ya apa aja loh" pasrah Jihan langsung diiyakan dengan semangat. Dan ritual jenguk dede bayi pun terlaksana.
Hingga suara adzan dzuhur berkumandang, barulah ritual itu berakhir dengan beberapa ronde yang memuaskan.
Kalo gini cara nyogok biar dapat muasin Vovo, bakal gue sogok pake gini mulu, mudah banget. Batin Barra tanpa merasa curiga dengan Jihan yang katakan.
Hahaha, siap siap sayang ku, hubby ku, kamu akan menjadi babu ku seharian penuh hahaha. Batin Jihan tertawa licik.
Tumben ampe 1000 kata gue nulis, jiakhh jarang loh woee jadi kasih like, komen, vote, ma hadiah biar episode berikutnya juga bisa ampe 1000 kata.
__ADS_1